tata niaga

Arsip Terupdate
Tata niaga yang sesat Kadang kita bertanya tanya. Apa sih tata niaga itu. Mengapa harus ditata bisnis itu lewat aturan pemerintah? Ya karena untuk melindungi konsumen dan produser. Maklum dunia kapitalis itu kalau engga diatur akan mudah sekali menimbulkan moral hazard. Fraud dan korupsi. Ya namanya free market. Saya ambil contoh. Gula. Kalau anda pergi ke minimarket atau ke pasar tradisional, anda menemukan gula. Anda mungkin tidak tahu, apakah gula itu untuk konsumsi atau industry. Karena rasa sama. Manis. Bentuk juga sama. Kristal. Nah tapi tahukah anda. Gula itu terbagi dua komoditas nya. Gula kristal putih ( GKP) dan gula mentah ( Raw sugar). GKP itu didapat dari proses pengolahan tebu. Sedangkan gula refinasi berasal dari gula mentah ( raw sugar ), yang merupakan residu gula kristal putih. Molasses merupakan sumber kalsium, zat besi, kalium, magnesium, dan mangan yang baik untuk kesehatan. Sedangkan gula mentah tidak demikian. Ia diolah melalui rafinasi, dicuci dan diputihkan. So itu hanyalah sukrosa yang sangat putih. Walau ada molasses didalamnya tetapi tidak banyak. Makanya gula refinasi hanya dipakai oleh industri makanan dan minuman untuk pemanis doang. Tapi kalau banyak akan beresiko menjadi toxin dalam tubuh. Nah yang jadi masalah. Walau HS komoditas raw sugar dan GKP, berbeda. Namun karena Tataniaga lemah, yang terjadi adalah gula refinasi di oplos dengan GKP. Itu bukan hanya beresiko kepada kesehatan juga fraud. Mengapa ? Harga raw sugar itu ( international) Rp 6500. Kalau direfinasi, 1 kg jadi 4 kg. Cost of production hanya Rp 2000/kg. Nah kalau dioplos dengan gula kristal putih. Harganya di pasar konsumen jadi Rp 15.000. Hitung aja berapa untungnya. Nah kalau semua gula refinasi? Lebih besar lagi untung. Itu udah fraud. Pengawasan lemah itu lebih kepada moral hazard akibat tidak solidnya tata niaga. Antar kementrian engga jelas aturannya. Yang akhirnya korban petani tebu dan konsumen. Bukan tidak mungkin tingginya penyakit obesitas dan diabetes karena sebagian besar kita konsumsi bukan molasses tetapi gula refinasi. Manis tetapi buka gula. Manis tapi bukan sumber energi. Hanya pemanis doang. Ya analogi nya seperti titel S3. Doktor tetapi hanya sertifikat doang. Nah kalau dibedah satu persatu Tataniaga komoditas, bisa hopeless kita bisa jadi negara maju apalagi menikmati pertumbuhan ekonomi inklusif. Mata rantai Tataniaga kita sudah seperti benang kusut yang menjurus kepada mind corruption. Sulit diberantas!