Antara purbaya dan rosan

Arsip Terupdate
Cerpen bisnis Dalam rangkaian Spring Meetings IMF–World Bank di Washington pada 16 April lalu, sebelum forum resmi dimulai, Purbaya bersama tim berkesempatan melakukan pertemuan dengan sejumlah eksekutif puncak global asset managers, termasuk BlackRock dan institusi sejenis lainnya. “ Pertemuan tersebut diduga bertujuan untuk memperoleh kejelasan dukungan dari pelaku pasar keuangan global, khususnya dalam menjaga agar outlook Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tidak berujung pada penurunan peringkat (downgrade), serta menghindari tekanan lanjutan terhadap posisi Indonesia dalam indeks global seperti MSCI.” Kata Iran sahabat saya. Purbaya dalam pertemuan tersebut berupaya memberikan keyakinan kepada investor bahwa langkah-langkah kebijakan yang diambil pemerintah tetap berorientasi pada stabilitas fiskal dan pengamanan peringkat SBN. Upaya ini mencerminkan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan di mata pasar, di tengah meningkatnya sensitivitas investor terhadap risiko makroekonomi dan arah kebijakan ke depan. Purbaya hanya tahu, secara implisit, respons yang muncul justru menunjukkan kehati-hatian. Para investor institusional tersebut menyoroti indikator fundamental, khususnya rasio beban utang (debt service ratio/DSR) Indonesia yang dinilai mulai memasuki zona risiko. Namun team Danantara meyakinkan Purbaya. Secara eksplisit, sinyal dukungan investor global itu nampak dari hasil pertemuan. “ Mungkin atas dasar itu, Purbaya saat bertemu dengan IMF dengan tegas menolak bantuan IMF. Maklum sebelumnya dalam surat, IMF sudah membuat Analisa tentang kekawatiran ekonomi Indonesia dan menilai Indonesia perlu di rescue sebelum terlambat.” Kata Ira. Presiden Prabowo tidak mau IMF memberikan bantuan seperti kasus 1997 yang berujung jatuhnya Soeharto pada tahun 1998. Karena bantuan IMF selalu disertai komitment yang harus dilaksanakan Indonesia terkait reformasi structural. “ Tapi setelah usai meeting di Washington itu, tanggal 20 April MSCI kembali membekukan index IHSG. Pasar kembali memburuk karena Asing melakukan sell off. “ Kata Iran Ketidakpastian komitmen pasokan minyak dari Amerika Serikat menempatkan pemerintah pada posisi yang sulit. Dalam situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto melakukan langkah alternatif dengan melakukan kunjungan ke Moscow untuk bertemu dengan Vladimir Putin, guna membuka peluang impor minyak dari Rusia. Namun, opsi ini tidak sepenuhnya sederhana. Skema pembelian tetap harus berada dalam koridor kebijakan global yang dipengaruhi oleh Amerika Serikat, sementara fasilitas perdagangan dalam mata uang selain dolar AS menghadapi kendala struktural akibat keterbatasan akses Rusia terhadap sistem pembayaran internasional SWIFT yang masih terkena sanksi. Situasi ini mempersempit fleksibilitas transaksi dan meningkatkan kompleksitas pembiayaan perdagangan. Di sisi lain, Uni Eropa meningkatkan tekanan dengan memberikan sanksi terhadap Indonesia, yang diduga menjadi titik transit minyak Rusia, khususnya melalui kawasan Pulau Karimun. Dinamika ini memperumit posisi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik dan kepatuhan terhadap rezim sanksi internasional. Seiring waktu, tekanan semakin meningkat. Cadangan minyak domestik menipis, sementara pasokan non-subsidi semakin bergantung pada pasar spot dengan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan kontrak jangka panjang. Kondisi ini berdampak langsung pada tekanan inflasi energi. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi. Deposan orang kaya Indonesia banyak yang memindahkan dananya ke deposito valas. Sementara kinerja pasar saham tercermin dalam pelemahan IHSG. Upaya pemerintah untuk memperoleh tambahan likuiditas valas melalui penerbitan instrumen seperti Samurai bond dan Dim Sum bond tidak mencapai target yang diharapkan, dengan realisasi hanya sekitar USD 3 miliar. Akumulasi tekanan tersebut tercermin dalam kondisi fiskal, di mana pada bulan Maret APBN kembali mencatatkan defisit. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal yang bersifat simultan—energi, nilai tukar, dan pembiayaan—telah mulai memengaruhi stabilitas makroekonomi secara menyeluruh. Upaya menerbitkan SBN kembali untuk bayar utang lebih dari 800 triliun rupiah dibayangi yield yang tinggi, yang akan memperburuk pasar uang domestik… Bulan juli nanti akan ada pengumuman resmi tentang rating surat utang Indonesia. Kalau downgrade, BI terpaksa cetak uang. Dan itu membawa kita menghadapi spiral kriisis, fiscal dan moneter sekaligus… itu lebih buruk dari krisis 98… “ Sepertinya Jakarta kehilangan arah dan kecewa berat dengan komitment washington. Padahal sudah buka kartu semua, dari sejak teken ART sampai ikut dalam BoP, bahkan membuka udara Indonesia untuk militer AS. Sebenarnya itu semua intrik antara Purbaya dan Rosan. “ Kata Ira. “ Nah gimana caranya exit dari situasi ini? Itu tidak bisa diselesaikan oleh Presiden saja. Tapi harus bersama DPR. “ Lanjut Iran. “ Gimana pendapat kamu? Tanya Ira. Aku Saya angkat tahu. “ Gua hanya dagang sempak. Barang yang tersembunyi namun bernilai…” ***** Saya pernah datang ke ruang meeting Eksekutif salah satu unit bisnis Yuan Holding. Saya hanya mantau saja. Tidak duduk di table meeting. Duduk di kursi terpisah. Saat rapat dimulai. “ Semester pertama, pertumbuhan usaha hanya 7%, 2% dari target yang ditentukan. “ Kata Presiden direktur. Dia menampilkan lewat slide kinerja perusahaan. Semua menatap slide itu. Tanpa bersuara lagi, dia menatap kepada yang hadir dalam rapat. “ Selama ini anggaran teralokasikan kurang efektif untuk promosi dan perbaikan system logistic. “ kata direktur keuangan. “ Saya ketahan cash out untuk memperkuat promosi dan system logistic. Karena Direktur Produksi membatasi jadwal order. Alasanya jaga kualitas. “ Kata direktur produksi. Presiden direktur menatap mereka satu per satu. Tidak ada emosi di wajahnya. Hanya tenang, tapi tajam. Ia kembali melihat slide. Lalu berkata pelan, “Angka tidak pernah salah. Yang salah adalah cara kita membaca dan meresponsnya.” Ruangan hening. Ia berdiri, mendekati layar. “Target kita 9%. Realisasi 7%. Artinya bukan gagal. Tapi ada 2% yang hilang. Pertanyaan saya sederhana, 2% itu hilang di mana?” Ia menoleh ke direktur keuangan. “Promosi tidak efektif. Anggaran sudah keluar. Berapa conversion rate-nya?” tanyanya. Direktur keuangan membuka catatan. “ Rata-rata 1,8%, Pak.” “Benchmark industri?” “Di atas 3%.” Presiden direktur mengangguk pelan. “Berarti masalahnya bukan di anggaran. Tapi di strategi.” Ia beralih ke direktur produksi. “Order dibatasi untuk jaga kualitas. Bagus. Tapi saya tanya—berapa tingkat reject kita sekarang?” “Di bawah 1%, Pak.” “Berapa standar toleransi industri?” “2–3%.” Presiden direktur tersenyum tipis. “Artinya kita over-quality. Kita terlalu aman, sampai kehilangan peluang.” Ia kembali ke kursinya. “Sekarang saya simpulkan.” Semua kembali diam. “Masalah kita bukan di pasar. Bukan di dana. Tapi di koordinasi.” Ia mengangkat satu jari. “Produksi terlalu defensif.” Jari kedua. “Marketing tidak presisi.” Jari ketiga. “Keuangan reaktif, bukan strategis.” Ia berhenti sejenak. “Mulai hari ini, kita ubah.” Nada suaranya tetap tenang, tapi tegas. “Produksi naikkan kapasitas 15%. Saya izinkan toleransi reject sampai 2%. Jangan takut salah, kita perbaiki di proses.” “Marketing, semua campaign berbasis data. Hentikan yang conversion di bawah 2%. Fokus ke channel yang measurable.” “Keuangan, bukan hanya jaga kas. Tapi alokasikan untuk growth. Saya ingin setiap sen punya return.” Ia menatap seluruh ruangan. “Dalam 3 bulan, kita kejar 2% yang hilang itu. Bukan dengan kerja lebih keras, tapi dengan kerja lebih tepat.” Ia berhenti. Lalu menutup dengan kalimat sederhana. “Perusahaan ini tidak butuh orang pintar. Perusahaan ini butuh orang yang bisa membaca angka… dan berani bertindak.” Ruangan tetap hening. Karena semua tahu—arahnya sudah jelas. Meeting selesai. Saya puas. Sistem seperti itu berlaku dari level manager sampai top eksekutif. Setiap leader harus kuasai detal tugasnya dan cepat membuat keputusan solutif. Dan itulah buah training berjenjang. Makanya Wenny bisa tenang diatas puncak. Saya bisa tenang di rumah bersama oma dan main sosmed, kadang main mahyong di spa. Melihat perseteruan antara Purbaya dan Rosa saling menyalahkan dan merasa paling benar. Tapi kalau ada masalah, solusi dari presiden bentuk Satgas. Artinya presiden tidak kuasai detail tugasnya. Informasi yang masuk ke dia cenderung bias..