Program MBG itu diinisiasi oleh Jokowi dan Prabowo hanya melanjutkan. “ Itu kan program School Meal Coalition atau SMC. Tadinya kan rencana program itu akan dapat dukungan konsorsium WFP, Bank Dunia, IMF, Gates Foundation, Rockefeller Foundation, WEF. Pemerintah hanya keluar dana bridging. Nyatanya, janji konsorsium hanya zonk. “ Kata Ira.
“ Kalau begitu kenapa dilanjutkan? Pakai APBN lagi..tanya saya.
“ Sampai hari ini team Prabowo masih janjikan bahwa mereka commit. Dan Prabowo masih tunggu terus. Berharap ..”
“ Sepertinya PHP dech..” kata saya tersenyum.
“ Bagaimana dengan Danantara? Kamu kan paham dunia keuangan dan korporat? Tanya Ira.
“ Tadinya kan Danantara itu dibentuk karena ruang fiscal semakin sempit.. Maka perlu ada terobosan sumber pembiayaan di luar APBN. Nah danantara itu solusinya. Ya sama dengan MBG, presiden dijanjikan akan dapat dukungan dari Lembaga keuangan international. Nilainya ratusan miliar. Itu uang mudah. Makanya mantan PM Inggeris berindak sebagai lobbies dan Ray Dalio menjadi arranger. Keduanya duduk sebagai anggota dewan penasehat Dananatra. “ kata saya.
“ Sampai kini hasinya Zonk..” kata ira tersenyujm. “ Bisanya terbitkan patriot Bond, itupun skemannya pakai uang Bank Himbara beli nya dengan menggunakan fasiliats kredit konglomerat.” Sambung Ira.
“ Ya..” kata saya.” Sekarang ketika rupiah melemah. Danantara gunakan peluang dapat posisi dari presiden dengan membentuk DSI. Lagi lagi dengan janji bahwa DSI bisa buat rupiah menguat.” Lanjut saya.
“ Dan lagi lagi presiden percaya..dan lagi lagi nanti hasilnya nanti pasti zonk” Kata ira geleng geleng kepala.
“ Mengapa Ale, sepertinya Presiden mudah tergoda dengan skema too good to be true. Sepertinya takut melewati proses yang sulit dan terpelajar..” tanya Ira.
“ Itu terkait dengan latar belakang orang. Orang lahir dari keluarga kaya cenderung anggap semua mudah Orang lahir dari keluarga miskin, sadar hidup ini tidak ramah, tidak ada yang too good to be true.
Ira menatap saya. “Maksudmu?”
“Orang yang lahir dari lingkungan sangat nyaman sering tumbuh dengan pengalaman bahwa dunia mudah ditaklukkan. Masalah bisa diselesaikan dengan akses, koneksi, nama keluarga, fasilitas, atau perintah.. “
Saya berhenti sejenak.
“Sebaliknya, orang yang lahir dari keluarga miskin biasanya lebih cepat paham bahwa hidup tidak ramah. Tidak ada makan siang gratis. Tidak ada kekayaan yang turun dari langit. Tidak ada proyek besar yang berhasil hanya karena pidato bagus. Orang miskin belajar dari kenyataan bahwa kalau sesuatu terdengar terlalu mudah, biasanya ada harga tersembunyi di belakangnya.”
Ira mengangguk perlahan.
“Jadi ini soal pengalaman hidup?”
“Ya. Pengalaman hidup membentuk cara seseorang membaca risiko. Orang yang pernah jatuh karena tidak punya pelindung biasanya lebih curiga kepada janji manis. Ia tahu bahwa setiap kemudahan punya syarat, setiap bantuan punya kepentingan, dan setiap tawaran spektakuler harus diperiksa sampai ke akar.”
“Sedangkan orang yang terbiasa dilayani?”
“Sering kali lebih mudah percaya bahwa dunia bisa digerakkan oleh kehendaknya sendiri. Ia melihat hambatan sebagai gangguan, bukan sebagai sinyal untuk belajar. Ia ingin hasil besar, tetapi tidak selalu sabar melewati proses teknokratis: data, feasibility study, governance, due diligence, pilot project, audit risiko, dan pembelajaran institusional.”
Ira diam. Ia mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Orang yang terlalu mudah percaya pada too good to be true biasanya belum cukup akrab dengan kenyataan. Dan bangsa yang ingin selamat tidak boleh dipimpin oleh ilusi. Ia harus dipimpin oleh keberanian untuk belajar, kesabaran menjalani proses, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak ada kemajuan besar yang lahir dari jalan pintas.” Kata saya menyimpulkan.