Saya bertemu Dewi kemarin. Dia mitra Awi pada business shadow banking. Usianya belum 40 “ Sejak tahun 2015 BI selalu memprediksi rupiah akan menguat sesuai dengan ekspektasi. Itu berkali kali disampaikan BI saat rupiah jatuh dan lakukan intervensi pasar. Tetapi nyatanya kurs rupiah terus terdepresiasi. “ Kata Dewi..
“ Kalau diukur dari rentang 10 tahun. Rupiah dikantong kita sudah menyusut 60%. “ Kata saya menguatkan omongannya.
“ Lebih separuh IDR kepenggal. Sedih banget. Selama 10 tahun, pertumbuhan ekonomi hanya 5% pertahun. Itu sama aja kita tekor secara kuantitafi. Engga maju. Malah mundur.“ Kata Dewi “ Tapi CDS kita masih ok. Tetap rendah premiumnya. “ Kata Dewi dengan optimis.
“ Ya CDS itu mengukur probabilitas default surat utang. Bukan diukur dari fundamental. Itu market. Nah selagi suku bunga SBN tinggi. CDS akan tetap rendah premiumnya. Karena itu artinya pemerintah akan selalu terhindar dari default. Ya bayar utang pakai uang. Gali lobang tutup lobang.”
“ Tapi kan dampaknya ruang fiscal kita semakin menyempit. Karena harus bayar bunga dan cicilan. Sekarang lebih 1/3 APBN habis untuk bayar bunga dan cicilan. Apa engga mungkin bunga diturunkan? Tanya Dewi.
“ Ya bisa saja diturunkan. Resikonya otomatis premium CDS akan naik. Capital outflow terjadi. Bukan hanya asing, local juga lakukan capital outflow. Rupiah bisa tumbang. Dan itu akan berdampak sistemik.” Kata saya.
“ Pertanyaan aku yang pertama bapak belum jawab. Mengapa kurs rupiah tidak bisa distabilkan.” Kata Dewi.
“ sejak 2016 SBN kita 86% diserap investor residen. Tetapi itu yang beli sebagian besar adalah Perbankan, Asuransi, Dapen dan BI. Itu engga sehat. Apalagi dari sekian investor SBN , yang terbesar adalah BI. Kalau Bahasa vulgarnya kan sama aja mekanisme SBN itu cetak uang. Makanya orang berduit terutama asing, ogah pegang IDR lama lama. “ Kata saya.
“ Jadi jawabnya karena trust surat utang rendah.” Kata Dewi menyimpulkan.
“ Nah lain halnya kalau 80% lebih SBN investor nya adalah rakyat Indonesia. Seperti China, Jepang. Nah itu secure. Tapi mayoritas rakyat kan bokek. Mana mau 50 konglo bantu negara. Tuh, buktinya saat BI lakukan operasi moneter lewat perbitan SRBI justru asing yang beli. Itupun karena suku bunga tinggi. Bukan karena trust. Kalau ditotal sekarang penguasaan asing pada SBN dan SRBI udah mendekati 50%. Mahal kan ongkosnya. “ Kata saya.
“ Dew, “ saya mengerutkan kening saat dia buka kancing blazer nya. Dalamnya pakai baju putih. “ Kamu engga pakai kutang? Tanya saya.
“ Pakai nipple silicon.” Katanya tersenyum. Dia rogoh ke balik bajunya. Dan perlihatkan ke saya nipple silicon. “ Payudara aku memang cocok pakai nipple karena engga seperti papaya. “ Dewi tersenyum. “ Pak, saya mau bahas rencana koh Awi tingkatkan trade financing Crude.” Sambung dewi.
Ah mending gua buru buru jalan. “ Saya ada janji ketemu orang. Entar aja bahasnya. “
“ Dewi anta rya.”
“ engga perlu .” Kata saya segera melankah.