Cerita aja
Tiga tahun lalu, saya sedang duduk di lounge Ritz-Carlton Jakarta bersama beberapa teman lama. Suasananya santai, tetapi isi pembicaraan jauh dari ringan. Kopi tersaji di meja, gelas-gelas kristal berembun, dan di balik tawa kecil yang sesekali pecah, saya tahu semua orang di ruangan itu sedang membawa beban yang sama: utang.
Saya lebih banyak diam. Menyimak.
Mereka adalah pengusaha yang pernah terlihat kokoh sebelum pandemi. Tetapi COVID mengubah banyak hal. Arus kas terganggu. Proyek tertunda. Pendapatan menyusut. Sementara kewajiban kepada bank tetap berdiri seperti tembok. Sebagian dari mereka memang sudah memperoleh relaksasi kredit melalui program pemulihan ekonomi pasca-COVID. Tetapi relaksasi bukan penghapusan utang. Ia hanya menunda rasa sakit.
Di tengah obrolan itu, seorang fund manager terkemuka mulai bicara. Wajahnya tenang. Bahasanya rapi. Ia menjelaskan bahwa masalah utang bank bisa diselesaikan melalui pasar modal. Saham-saham mereka di bursa bisa “diangkat” perlahan. Dengan kapitalisasi pasar yang membaik, mereka bisa membuka ruang refinancing, private placement, rights issue, atau transaksi lain yang tampak elegan di mata publik.
“Caranya?” tanya salah satu dari mereka.
Fund manager itu tersenyum.
“Likuiditas murah. Kita pakai yen. Carry trade.”
Ia menjelaskan dengan bahasa yang seolah akademis. Pinjam yen dengan bunga rendah, tukar ke aset berisiko, masuk ke saham, gerakkan harga perlahan, bangun persepsi positif, lalu ciptakan momentum. IHSG tidak boleh terlihat digoreng kasar. Ia harus naik seperti pasar yang sedang menemukan kembali keyakinannya.
“Pelan-pelan saja,” katanya. “Biar kelihatan normal.”
Lalu ia mulai menyebut peran buzzer, influencer bursa, kanal Telegram, komunitas investor ritel, analis bayaran, dan narasi optimisme. Semua itu akan digunakan untuk menciptakan persepsi bahwa saham-saham tersebut sedang memasuki fase baru. Investor lokal akan digerakkan oleh cerita. Dana pensiun dan institusi akan datang setelah grafik terlihat meyakinkan. Bank akan lebih nyaman ketika collateral saham tampak bernilai.
Dengan bahasa sederhana, ia sedang mengatakan satu hal: risiko lama akan dipindahkan ke publik. Utang yang awalnya berada di neraca bank akan digeser ke pasar. Beban pemilik lama akan dikurangi. Harga saham akan dinaikkan. Narasi akan dibangun. Likuiditas akan diciptakan. Lalu sebagian dari mereka bisa keluar dengan elegan.
Saya hanya tersenyum. Dalam hati saya berkata: ini bukan financial engineering. Ini otak bandit.
Dulu di luar negeri saya bermain seperti itu, bahkan lebih rumit. Saya sudah lama meninggalkan permainan seperti itu. Saya paham betul cara kerja dapur gelap pasar. Saya tahu bagaimana harga dibentuk, bagaimana persepsi diproduksi, bagaimana ritel dibuat merasa terlambat jika tidak membeli, dan bagaimana institusi kadang masuk bukan karena nilai, tetapi karena tekanan benchmark, relasi, atau iming-iming transaksi lanjutan.
Namun kali itu saya tidak ikut bermain di bursa. Saya memilih berdiri di sisi lain dari meja. Saya minta Awi mengaktifkan jaringan shadow banker di Singapura untuk masuk ke pasar repo. Sebab saya tahu, kalau mereka ingin menggerakkan saham, mereka pasti butuh likuiditas jangka pendek. Mengangkat harga saham bukan hanya soal cerita. Itu butuh uang. Butuh jaminan. Butuh repo. Butuh pembiayaan sementara agar mesin harga bisa terus hidup.
Para emiten itu datang membawa saham sebagai collateral. Mereka butuh dana cepat. Mereka berani menetapkan harga tebus tinggi. Misalnya, saat transaksi repo ditandatangani, harga saham berada di Rp1.000. Mereka berani berjanji membeli kembali di Rp2.000.
Bagi saya, itu bukan masalah. Saya tahu mereka sudah mengatur agar harga saham bisa bergerak di atas Rp2.000. Mereka membutuhkan harga itu untuk menyelesaikan skenario yang lebih besar. Mereka tidak sedang mencari keuntungan kecil dari fluktuasi harian. Mereka sedang membangun panggung untuk refinancing, exit, dan penyelamatan neraca.
Mereka ingin saham terbang ke bulan. Saya tidak bertaruh pada bulan. Saya bertaruh pada kebutuhan mereka terhadap oksigen. Di situlah bedanya. Awi tidak mengambil untung dari bursa. Ia mengambil untung dari bunga repo. Dari kebutuhan likuiditas jangka pendek. Dari kepanikan yang dibungkus strategi. Dari para pemain yang ingin terlihat sebagai arsitek pasar, padahal sesungguhnya sedang mencari napas.
Saya katakan kepada Awi, “Kita bukan ikut menggoreng saham. Kita hanya menjadi rentenir bagi para bandit.”
Awi tertawa.
Tetapi ia paham maksud saya. Dalam transaksi seperti itu, yang paling penting bukan euforia pasar, melainkan disiplin keluar. Jangan jatuh cinta pada grafik. Jangan percaya pada cerita yang dibuat sendiri. Jangan terlalu lama berada di ruangan yang dipenuhi asap.
Lalu situasi mulai berubah. Ketika Purbaya menjadi Menteri Keuangan dan mulai menggelontorkan dana SAL, saya menangkap sinyal lain. Bank sedang tidak baik-baik saja. Mereka menghadapi tekanan likuiditas, tekanan kualitas aset, dan tekanan regulasi. Basel III membuat perbankan lebih berhati-hati menghitung risiko. Collateral saham yang dulu bisa terlihat menarik, dalam situasi pasar yang rapuh bisa berubah menjadi sampah di neraca.
Saham yang kemarin menjadi jaminan, hari ini bisa menjadi beban. Di situlah saya tahu: pesta hampir selesai. Saya perintahkan Awi mengurangi transaksi repo. Jangan perpanjang eksposur. Jangan masuk kontrak baru. Rapikan semua posisi. Shadow office yang selama ini beroperasi dari kamar hotel di Singapura mulai ditutup. Dokumen dirapikan. Rekening dibersihkan. Pada Februari 2026, seluruh kontrak repo sudah selesai. Tutup buku.
Setelah itu, pasar menunjukkan wajah aslinya. Bursa yang semula dijanjikan akan pergi ke bulan ternyata tidak pernah sampai ke langit. Ia justru jatuh ke comberan. Harga-harga yang dulu dipoles oleh narasi mulai kembali mencari gravitasi. Saham-saham yang dulu dipuja sebagai peluang emas berubah menjadi reruntuhan angka merah. Ritel yang datang paling akhir menjadi pihak yang paling telanjang menerima hujan batu. Dapen menderita unrealize loss triliunan rupiah..
Sementara Awi engga keluar modal untuk ngutangi emiten. Duitnya juga dari hutang Yen. Collateral hanya credit link note atas asset offshore. Singkatnya modal hanya USD 1 juta. Bisa pinjam usd 50 juta. Masuk ke REPO minimal untung 100% dari USD 50 juta. Makin kaya aja AWI. Udin tetap dagang sempak