Kuantitatif
Tahun 2010 saya pernah mendapat proposal membangun panel surya di Gurun Kubuqi, Mongolia Dalam, China. Luas nya lebih 18.000 hektar. Saat itu saya baru saja belajar penggunaan aplikasi ekonomi quantitive. Saya gunakan software IBM dari SPSS. Saya tertarik menghitung kelayakan investasi itu dengan menggunakan model matematika. Untung di China sudah tersedia data Egoverment. Jadi saya tidak sulit kembangkan Analisa saya secara konferehensif.
Saat itu secara ekonomi quantitative membuat panel surya jelas tidak layak. Tapi saya mencoba menganalisanya dengan pendekatan study ekonomi pembangunan. Saya dapatkan data statistik polusi udara di China. Itu saya hitung tingkat polutannya dari tahun ke tahun. Setelah itu saya hitung kerugian social akibat polutan itu. Dengan data Kesehatan penduduk di kota besar, kerentanan terhadap penyakit, dan kehilangan jam kerja karena sakit. Ketemu angkanya.
Dari hitungan itu saya kaget. Ahaa..anggaran pembangunan panel surya jauh lebih murah kalau dibandingkan dengan kerugian social selama 5 tahun. Sampai jam 1 pagi saya melamun. Kemudian saya lanjut dengan create product investasi untuk proyek panel surya itu. Tentu jenis instrument investasi berupa thematic dengan risk management dari pemerintah lewat subsidi. Saya hitung subsidinya. Ternyata hanya 10% dari social cost akibat poluttan.
Kemudian saya buat simulasi terhadap berbagai kemungkinan resiko terhadap hambatan tekhnologi. Berharap dari simulasi ini saya dapat temukan angka untuk dana riset memiitigasi resiko. Ketemu lagi angkanya. Setelah baca semua. Saya kirim email ke teman saya yang juga pejabat di China. Seminggu kemudian, dia balas email saya. “Mari ketemuan bro.” katanya. Saya temui di Beijing. “ Nanti kalau proyek ini dibangun, kamu akan saya beri tahu.
Tahun 2017 dia email saya. “Bro, proyek gurun kebuqi mulai dibangun. Akan dimanfaatkan tahun 2025 namun terus dikembangkan sampai tahun 2030. Panjang nya mencapai 400 Km dan lebarnya 5 km. Terimakasih, berkat hitungan kamu jadi lebih memudahkan pemerintah membuat keputusan yang visioner.” Tulisnya. Tahun 2024, 4 trader credit carbon bailout biaya bangunnya. Dengan trade off take credit carbon nya.
Apa hikmah dari tulisan diatas? Tidak ada persoalan tentang uang terkait dengan proyek pemerintah. MEngapa ? karena negara itu membangun peradaban komunitas. Perlu visioner untuk terjadi nya transformasi. Namun tidak bisa dengan retorika. Harus dengan hitungan akademis.
Thanks , berkat matematika, ekonomi bukan lagi teori social tetapi sudah jadi Sains matematika. Faktor ekomomi terkait multi variable cost and benefit bisa dihitung secara kuantitatif. Thanks berkat komputer, saya yang bego matematika bisa dengan mudah menghitung dengan pendekatan financial engineering maupun ekonomi quantitative.
Kelemahan Indonesia, kelemahan matematika.Makanya kalau bicara program ujungnya minta uang dari APBN atau BI. Sama dengan emak emak.