Mia sengaja datang dari New York untuk mendampingi saya meeting di Singapore. Usai meeting, saya langsung ke Jakarta pulang. Menunggu waktu boarding. Saya santai di café bandara Changi bersama Mia. “ Apakah informasi tidak tersedia sehingga seperti pak Dharmawan tadi tidak paham situasi ekonomi sekarang? Kata Mia. Sepertinya Mia mendengar saya bicara dengan Dharma tadi di Orchard waktu amprokan di Sheraton.
“ Informasi tersedia luas. Hanya kan tidak semua orang punya literasi keuangan. Sehingga mereka tidak bisa memanfaatkan informasi itu dalam bersikap. Kalau ada yang punya literasi, kan tidak semua smart financial. Bahkan orang kayapun tidak semua smart financial, apalagi kayanya dari rente“ Kata saya.
“ Sehingga mudah dipengaruhi oleh buzzer atau inflencer. Seperti informasi debt to PDB yang aman dibandingkan negara lain. Mereka percaya begitu saja dengan nerasi pemeritah. Karena memang mereka tidak punya pengetahuan menggunakan alat analisis sepeti DSR terhadap pajak dan penerimaan ekspor“ kata Mia.. “ Kadang justru yang jadi influenser pemerintah sendiri.” Lanjut Mia tersenyum
“ Dulu sebelum kamu paham dan mengerti bisnis keuangan, kamu malah lebih buruk keadaannya. Walau sarjana wawasan kamu rendah sekali. Kamu bisa seperti sekarang ini setelah lulus Harvard dan ikut magang di AMG selama 1 tahun dalam team fund structure .” Kata saya.
“ Itu sebab setiap ketemu saya dulu, bapak engga pernah ajak diskusi.” Kata Mia tersenyum. Ingat aja dia. “ Nah orang seperti saya dulu itu sekarang ada 80% dari populasi Indonesia. Mungkin udah diatas 90%. Kalau di survey soal tingkat kepuasan kepada pemerintah. Ya 80% puas terhadap pemerintah. Karena yang ditanya engga paham esensi dari materi questionary. Pasti hasil survey itu bias dan absurd” lanjut Mia
“ Makanya civil society tidak efektif sebagai penyeimbang kekuasaan dalam system demokrasi. Dan pemerintah memang menikmati situasi ini. “ Kata Mia lagi. Saya senyum aja.
“ Ale ..” Sapa seseorang membuat saya terkejut dan menoleh kesamping. “ Eh Alfian. Seru saya langsung berdiri. “ Assalamualaikum ya saudaraku. “ Kata saya merangkulnya. Dia sahabat saya. Mia sempat berwajah agak sedikit lain. Dengan replek dia merapat kesaya. Karena Datuk menggunakan baju gamis dan berjanggut. Saya tahu dari teman di KL. Beberapa tahun lalu Fian masuk dalam lingkaran Tablighi Jamaat.
“ Dari tadi saya perhatikan kau. Mau tegur tapi ragu. Karena kau nampak beda. Agak gemuk. Tidak seperti terakhir ketemu. Kurus.” “ Kata Afian. “ Dia Chindo atau China Sing atau China daratan? Tanya Fian melirik kepada Mia yang ada di samping saya.
“ Oh ya kenalkan. Ini Staf dari NY.” kata saya. Fian hanya mengangguk dan menolak Mia salami dia. Mia menyerahkan kartu Nama. “ Tentu Chindo” kata Mia. Dia sempat melirik kartu nama Mia. “ Head of trading support. “ Kata Fian melirik ke Mia. Saya tawarkan Fian gabung dengan table saya. Dia mengangguk.
“ Ale, engga sedikit korban di Gaza. Sejak serangan oktober 2023, lebih dari 55.700 orang tewas dan 130.000 luka-luka, termasuk ribuan anak dan perempuan .” Kata Fian. Saya tahu dia sampaikan itu karena sebagai muslim tentu dia berempati kepada penderitaan rakyat Palestina di Gaza.
“ Masalah Gaza itu sekarang adalah residu dari era unilateral. Dan tidak adanya persatuan diantara rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaanya. Kesepakatan Oslo I tahun 1993 dan Oslo II tahun 1995 hanya ditandatangani antara Israel dan Fatah, tanpa melibatkan Hamas. “ Kata saya.
Fian mengangguk, dengan menambahkan bahwa “ akar masalahnya, Hamas dan Fatah memiliki visi yang berbeda dan tak bisa dipadukan. Fatah mendukung solusi dua negara dan pengakuan Israel. Hamas menolak pengakuan Israel dan berjuang dengan jalan jihad bersenjata terhadap pendudukan Israel. “ Saya senyum aja. Engga mau komen soal itu.
“ Pendapat Ale bagaimana Soal Palestina itu ? Tanya Fian
“ Secara realistis geopolitik dan militer saat ini, menghapus Israel dari peta adalah tidak mungkin. Itu sama saja menolak takdir sejarah. Menolak eksistensi Israel sebagai negara Yahudi di tanah Palestina. Jadi, solusi realistis adalah dua negara, bukan penghapusan salah satu pihak. “ kata saya. “ Dan lagi terkesan naif bila Hamas mencoba mengubah hasil Perang Arab-Israel 1948 dan pendudukan 1967 melalui perlawanan bersenjata..” Sambung saya.
“ Fatah lebih cinta dunia. Itu masalahnya. Beda dengan Hamas” Fian terkesan geram. Saya tak ingin menjawab soal ini. Sikap seperti inilah yang kadang justru mempersulit keadaan. Timbul pertanyaan waras. Mengapa solusi yang begitu mudah menjadi rumit. Mengapa memilih yang rumit dan bahkan impossible. Sepertinya tidak ada ruang untuk berbagi atas dasar persepsi hidup damai berdampingan. Sementara dampak dari sikap itu, lihatlah rakyat tidak berdosa jadi korban. Sampai kapan ini akan terus berlangsung?
“ Yang saya tidak habis pikir, mengapa Negara Arab diam saja, saat saudara muslim nya di Gaza dibantai oleh Israel “ Kata Fian tetap dengan wajah geram. Saya tersenyum dengan sikap Fian. Apa yang bisa diperbuat Arab? Sementara mereka sendiri secara tak langsung juga terjajah dari adanya geostrategis AS. Negara negara Arab sangat bergantung kepada AS untuk menjaga stabilitas kawasan. Secara politik mereka juga rentan dengan spirit pro Palestina. Maklum negara Arab tidak menerapkan demokrasi. Kalau dibiarkan aksi protes dalam negeri terhadap serangan Israel di Gaza itu akan memicu instabilitas politik domestik lebih luas.
“ Ale, kamu kan muslim. Apa bisa kamu berpihak kepada saudara muslim kita di Gaza..” Pinta Fian.
Saya terhenyak mendengar permintaan Fian. Saya melirik kepada Mia dan berharap dia membantu saya menjawab pertanyaan Fian. “ Jangan hanya melihat eksistensi Israel sebagai satu negara. Tetapi lihatlah AS. Kita tahu dibalik terbentuknya negara Israel berkat peran AS. Keberadaan Israel di tanah Palestina bagian dari politik hegemoni AS di Kawasan teluk paska perang dunia kedua. Maklum wilayah itu kaya minyak yang mana AS tidak ingin hanya Inggris, Perancis mengontrolnya. “ Kata Mia.
“ Artinya, Israel bukan sekedar proyek Yahudi, tapi proyek kolonial modern yang didukung Barat untuk memperluas pengaruh di wilayah yang dulunya dikuasai Kekaisaran Ottoman, yang kemudian dipotong potong oleh Inggris dan Prancis lewat Sykes-Picot Agreement.” Kata Fian menyimpulkan. “ Saya paham, tidak ada proyek colonial tanpa motive ekonomi dan selalu ujungnya uang. “ Sambungnya.
“ Anda benar! Jawab Mia, “ Mari perhatikan ini. 90% sumber daya Migas di Timur Tengah itu dikuasai TNC Amerika seperti ExxonMobil menguasai konsesi di Irak UEA, Qatar, Arab Saudi. Chevro di Irak-Kurdistan, Bahrain, Arab Saudi, Israel. ConocoPhillips di Qatar, UEA. Occidental Petroleum di Oman, UEA, Qatar, Israel. Juga raksasa service provider oil and gas seperti Halliburton di Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, Qatar. Juga Schlumberger seluruh Teluk, Irak. Baker Hughe di seluruh wilayah GCC, Mesir, Irak. Nah dengan realitas itu kita sepakat dan paham dalam membaca peta politik di Timur Tengah” Kata Mia.
“ Tapi yang namanya korporat kan motive nya selalu bisnis. Kadang mereka sengaja menciptakan instabilitas regionalagar harga minyak dan gas naik. Mereka tidak yakin instabilitas itu akan meluas. Karena yakin AS bisa amankan Kawasan. Soal korban nyawa rakyat tak berdosa akibat konflik mereka engga peduli “ lanjut Mia tersenyum.
” Artinya, suka tidak suka wilayah Timur Tengah itu keamanan dominasi AS atas energi global, termasuk menjaga dolar ruling currency. Para raja yang berdaulat itu hanya berperan sleeping partners dari hegemoni AS.” Kata Fian menyimpulkan secara sederhana. ” Begitu kan maksud kamu” Kata Fian dengan melotot.
Mia mengangguk.“ Kehadiran korporasi migas AS dan penyedia jasa, itu geostrategis AS. Makanya Ya harus dipertahankan untuk tetap eksis secara militer dan diplomatik di Timur Tengah. “ Lanjut Mia.
“ Itu sebab ada pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi. Dan AS punya kapall induk yang selalu stand by melindungi koridor pasokan energi global, khususnya Selat Hormuz. “ Fian menambahkan.
“ Nah, jadi wajar kan kalau AS ikut campur dalam konflik Israel-Iran. Termasuk di Gaza. Karena itu dianggap mengancam kepentingannya. Sebelumnya kita tahu Invasi Irak 2003 tak lepas dari motif kontrol sumber daya dan dukungan total pada Saudi.” Kata Mia.
Fian geleng gelengkan kepala “ Sulit saya pahami ada manusia punya sifat buruk laku begitu hanya karena uang.” Katanya. “ Lantas apa sebenarnya motive iran begitu ngotot melawan AS dan mendukung Hamas.? Tanya Fian.
” Agak panjang penjelasannya.” kata Mia.
Fian siap menyimak. Saya senyum aja.
“Tahun 2006 Hamas memenangkan Pemilu Legislatif di Palestina. Terjadilah konflik antara Hamas dan Fatah yang didukung Eropa dan AS. Karena Hamas menolak kesepakatan Oslo. Pada 2007, terbentuk dua kelompok Palestina. Hamas di Gaza, Fatah di Tepi Barat. Kebetulan sekali tahun itu beda dengan tahun tahun sebelumnya di era unilateral. Tahun itu awal terbentuknya tatanan global multipolar.
Peluang itu dimanfaatkan oleh Iran untuk membangun pengaruh di kawasan sambil menarik dukungan dari China dan Rusia. Ya, memanfaatkan Hamas di Gaza dan kemudian Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi di Suriah dan Irak. Sebagai proxy. Dengan agenda menghalangi dominasi AS–Israel.
Iran menilai Abraham Accords dan tren normalisasi Israel dengan UAE, Bahrain, Maroko, Saudi sebagai ancaman strategis. Melalui Hamas sebagai kekuatan proxy Iran, terjadilah konflik di Gaza. Memaksa Israel melakukan operasi militer dengan korban kemanusiaan sangat besar, itu jelas merusak reputasi negara Teluk bila menjalin aliansi dengan Israel. Maklum, Timur Tengah itu mayoritas muslim, dan Hamas bukan shiah tapi sunni. Ya, Iran smart. Mereka gunakan issue itu agar negara Teluk tidak leluasa menjalin aliansi dengan Israel.
Pada waktu bersamaan Iran mendapat dukungan simbolik dari umat Muslim sedunia dengan memposisikan diri sebagai pembela Palestina. Di dalam negeri Iran, dukungan ke Hamas juga jadi alat konsolidasi nasional dan ideologis bagi rezim Mullah. Sementara bagi Israel, Hamas adalah teroris, titik. Jadi semua orang di Gaza dianggap bagian dari ekosistem teror. Semakin keras Israel semakin Iran diuntungkan secara politik untuk mencapai agendanya mendukung kepentingan aliansinya dengan china dan Rusia lewat BRICS dan SCO. “ Kata Mia.
“ Apa keuntungan ekonomi Iran dari aliansi itu? Tanya Fian.
“ Walau Iran kena sanksi ekonomi oleh PBB, Iran tetap bisa bertransaksi secara global lewat Libanon dan jaringan Hamas yang ada di Dubai dan Qatar. Iran juga mendapatkan dukungan ekonomi sangat besar selama 30 tahun belakangan terutama dari China. Ini bukan hutang atau skema debt trap. Tetapi counter trade. Investasi China ratusan miliar usd dibidang energi, infrastruktur digital jaringan 5G ditukar Iran dengan memberikan pasokan minyak ke China.
Kemudian antara Iran dan China terlibat dalam proyek jangka Panjang. Yaitu proyek Koridor Ekonomi China–Pakistan atau dikenal dengan proyek CPEC. Dan Koridor Iran–Asia Tengah–Xinjiang, melalui Turkmenistan / Kazakhstan. Itu akan mengamankan China akan pasokan minyak dan gas dalam jangka panjang tanpa tergantung jalur logistik konvensional yang dikuasai AS. Tentu juga sebagai pasar baru bagi produk industry dan manufaktur China.
Sementara aliansi Rusia–Iran berkembang pesat. Mereka tidak hanya kerja sama jual beli minyak/gas, tapi membangun Proyek lapangan gas raksasa, Infrastruktur LNG. Sistem transportasi energi. Strategi bersama penghindaran sanksi AS dan Eropa. Ya, ini adalah bentuk nyata dari adanya multipolar. Tidak ada lagi sepenuhnya dominasi Barat dan dolar global. Dalam diam, dua negara yang terkena sanksi ini bersama China focus menyusun kekuatan baru yang bisa mengubah peta geopolitik dan geostrategis.
Dunia hari ini termasuk Timur Tengah adalah medan catur multipolar. Tidak ada lagi satu penguasa tunggal. Justru kekuatan baik lokal maupun global saling bertaut dan mengimbangi. Dalam sistem ini. Konflik tidak hilang, tapi jadi lebih terkendali. Politik luar negeri jadi lebih fleksibel dan transaksional, tentunya. Hanya bangsa yang cerdas yang bisa survive. Engga bisa lagi hanya mengandalkan idiologi atau keyakinan yang abstrak. Apapun di dunia kini tidak ada yang serius kecuali bisnis dan ekonomi ” Demikian kata Mia.
Fian Nampak terhenyak. Terdiam. Saya senyum aja. “ Benarlah. Semua karena kutukan dan fitnah akhir zaman. Manusia hanya mengejar sahwat ekonomi belaka. “ Kata Fian terdengar seakan bicara kepada dirinya sendiri. Saya tak hendak berdebat soal perasaan. Sumber masalah ada pada rakyat Palestina sendiri. Jadi merekalah sendirilah yang harus menyelesaikannya.
Dengan kondisi saat ini—blokade eksternal oleh israel, kekacauan internal oleh operasi militer Israel, krisis kepemimpinan—sulit bagi rakyat Palestina untuk memujudkan impian kemerdekaan secara utuh. Persatuan politik nyata, dimulai dari rekonsiliasi inklusif (termasuk Hamas dalam kerangka PLO), adalah prasyarat fundamental untuk membalik arah sejarah Gaza. Tanpa itu, residu era unilateral ini tetap menghantui masa depan kemerdekaan Palestina