skill financial engineering

Arsip Terupdate
Skill financial engineering. Frasa “shadow banking” awalnya dicetuskan oleh Paul McCulley, kepala ekonom perusahaan manajemen investasi PIMCO, pada tahun 2007. Walau istilah itu didasarkan karena beroperasi seperti bank tapi bukan bank atau tidak patuh terhadap system perbankan. Namun nyatanya tidak mungkin operasi keuangan shadow banking dalam skala besar bisa didukung oleh Lembaga keuangan dan perbankan. Istilah shadow banking memang terkesan agak merendahkan untuk bagian sistem keuangan yang begitu besar. Bagaimanapun shadow banking bukanlah kelembagaan bisnis. Itu hanya menganalogikan pihak yang punya skill financial engineering bertindak sebagai intermediasi antara investor dengan produk pasar uang atau perbankan. Seperti sekuritisasi atas asset-backed commercial paper (ABCP), asset-backed securities (ABS), collateralized debt obligations (CDOs) and repurchase agreements (repos). Itu semua product hedge fund. Sekuritas ini digunakan oleh shadow banker untuk memberikan solusi terhadap masalah financial terkait dengan hutang dan piutang sehingga likuiditas meningkat. Kalau terjadi dalam prakteknya operasi shadow banking yang menimbulkan kerusakan terhadap system perbankan dan pasar modal, seperti kasus Lehman Brother yang berujung jatuhnya Wallstreet, itu kesalahan bukan pada shadow bankter. Tetapi aturan yang lemah dan otoritas yang tidak melaksanakan fungsi pengawasan dengan baik. Karena likuiditas lebih banyak berputar di asset financial bukan pada sector real. Sehingga menimbulkan moral hazard, bubble asset. Tapi kegagalan pada kasus Lehmah tergolong kecil dalam hal size jika dibandingkan total likuidatas dan sekuritisasi Aset yang dilakukan shadow banking. Tahun 2010 saja sudah diatas USD 20 trilion. Sebagian besar shadow banking berperan dalam pengembangan bisnis International holding yang bergerak dalam bidang Industry high-tech, logistic, dan downstream industry mining. Dengan adanya kemajuan IT peer to peer, shadow banker juga membangun ekosistem financial yang terhubung dengan supply chain financial, project derivative value. Mereka menjadi solution provider untuk skema project financing dan trade financing yang yang tidak bisa dilayani oleh perbankan konvensional. Dengan demikian shadow banking telah menumbuh kembangkan financial inklusif.