“ B, kan sejak perang Rusia-Ukraina? Indonesia beli minyak Rusia? Kata Peter.
Saya senyum aja.
“ Tepatnya indonesia beli dari trader. Trader beli minyak Rusia di pasar spot dan kemudian dikapalkan ke Singapore lewat broker. Yang crude masuk refinery jadi BBM. Yang BBM di blending di Singapore dan ada juga di blending di Indonesia.” Kata Mia.
“ Oh jadi Indonesia engga dapat untung dari harga diskon” Kata Peter.
Mia menggeleng. “ invoice dari Singapore. Yang untung agent di Singapore dan Trader. Mereka itu perusahaan terafiliasi dengan AS.” Jawab Mia.
“ Mengapa AS? Tanya Peter
Mia tersenyum.
“ Biar aman jalur shadow fleet. AS kokoh benteng embargonya. Tapi yang jaga benteng kan manusia. Ya lemahkan manusianya. Suap ! Selesai.” Kata saya.
“ Terus kenapa kemarin Presiden anda berani beli langsung dari Rusia. Apa engga takut kena sanksi AS. Kan Indonesia udah teken ART” tanya Peter.
“ Itu kan atas persetujuan AS. Sama dengan India yang dapat persetujuan AS untuk beli dari Rusia. Karena AS engga bisa jamin pasokan.” Jawab saya.
“ Jadi bisa dapat diskon langsung.” Tanya Peter.
“ Engga juga.” Jawab saya. “ Yang dapat diskon tetap broker. Kan Indonesia beli lewat ISC. Bahkan harga bisa lebih mahal. Karena ongkos refinery dan Blending minyak Rusia itu mahal, ya dihitung harga pokok. “
“ Kenapa Indonesia sangat bergatung dengan AS.? Tanya Mia
“ Karena setiap presiden yang ingin aman kekuasaanya harus dapat endorsement dari AS” jawab Peter.
Saya senyum aja. Usai Kongkow saya antar Mia ke kamar hotelnya
---
Malam itu saya bertemu Peter, relasi lama dari New York. Mia duduk di samping saya. Setelah pembahasan bisnis di safehouse selesai, saya ajak mereka pindah ke café GH. Suasananya lebih santai, tapi pembicaraan justru makin dalam.
“B… kamu masuk ke Asia Tengah sejak kapan?” tanya Peter.
Saya menyeruput kopi sebentar. “ Sejak 2009. Waktu China mulai bangun pipeline dari Turkmenistan ke Xinjiang. Itu turning point. China mulai keluar dari ketergantungan pada supply tradisional.”
Peter mengangguk pelan.
Mia ikut menyela. “ Setelah 2010, distribusi energi tidak lagi satu arah. Gas dan minyak dari Asia Tengah tidak hanya ke China, tapi juga mengalir ke Eropa lewat Turki, dan ke global market lewat berbagai jalur.”
Peter mulai terlihat tertarik.
Mia melanjutkan dengan tenang. “ Kawasan Asia Tengah itu underestimated. Kazakhstan punya cadangan minyak besar. Turkmenistan termasuk salah satu pemilik cadangan gas terbesar dunia. Azerbaijan punya akses strategis ke Laut Kaspia dan jalur ke Mediterania. Uzbekistan juga punya produksi gas signifikan.”
Ia berhenti sejenak, menyesap teh.
“Lalu tahun 2001 terbentuk Shanghai Cooperation Organisation. Itu bukan sekadar forum keamanan. Itu pintu integrasi Kawasan China, Rusia, Asia Tengah, dan kemudian Iran masuk dalam orbitnya. Dari situ terbentuk koridor energi Eurasia.”
Peter menatap Mia lebih serius.
Saya menambahkan pelan, “ Bedanya dengan OPEC, ini bukan kartel formal. Tapi jaringan. Lebih fleksibel. Lebih sulit dikendalikan.”
Mia melanjutkan, “Sejak 2015, Eurasian Economic Union mulai berjalan. Rusia melihat energi bukan hanya komoditas, tapi alat negosiasi. Hubungan dengan Eropa berubah. Gas menjadi leverage.”
Peter mengangguk. Ia mulai menangkap arah pembicaraan. “Makanya Crimea penting bagi Rusia,” katanya pelan.
Saya tersenyum tipis. “Bukan hanya wilayah,” jawab saya. “Tapi kontrol jalur dan akses laut.”
Saya melanjutkan “Waktu perang dagang AS–China, semua berubah. China tidak bisa lagi bergantung pada jalur laut yang dikontrol Barat. Maka dibangun jalur darat lewat Asia Tengah, Rusia, sampai ke Eropa—bagian dari Belt and Road.”
Mia menambahkan, “ Di saat yang sama, Iran yang kena sanksi tetap bisa berdagang lewat jalur darat ke Turki dan Asia. Sistemnya tidak lagi bergantung pada satu kanal.”
Peter terdiam.
Saya lanjutkan, “Dan jangan lupa Gwadar Port di Pakistan. Itu bukan sekadar pelabuhan. Itu shortcut ke energi Timur Tengah tanpa harus lewat choke point tradisional seperti Malaka dan lewat Chabahar ke hub logistic darat ke China tanpa perlu lewat Hormuz.
Peter akhirnya bertanya yang paling penting.
“Semua transaksi itu… pakai USD?”
Saya menggeleng. “ Tidak selalu.”
“Lalu?” kejar Peter.
Saya menatapnya sebentar. “ Sebagian pakai yuan. Sebagian pakai settlement bilateral. Sistemnya makin beragam.”
Peter menarik napas panjang. “ Pantas dominasi USD turun.”
Saya hanya tersenyum.
“ Dan lucunya 60 % impor migas Israel dari Azerbaijan. Tapi invoice nya dari Turkey. Bayarnya pakai uang crypto “ Kata Mia tersenyum.
“ Peter mencoba merangkum “Jadi… Serangan AS ke Iran dan sehingga eskalasi meluas, benar benar tanpa perencanaan yang matang. Menyerang iran sama saja menyerang sekutu AS, seperti Eropa, Turkey dan Jepang, Taiwan, Korea dan Israel. Karena dengan system logistic yang dibangun china itu, selama ini mereka juga menikmati migas murah tanpa harga OPEC.”
Saya tidak langsung menjawab. Saya hanya berkata pelan. “Dunia tidak sesederhana itu. Tapi satu hal pasti— siapa yang menguasai jalur energi dan logistik… dia yang menentukan arah permainan.”
Dunia tidak lagi dikendalikan oleh satu sistem. Tapi oleh jaringan yang saling terhubung—dan saling bersaing. Dan di dalam jaringan itu… energi bukan lagi sekadar komoditas tapi alat untuk membentuk ulang keseimbangan global.