menciptakan nilai

Arsip Terupdate
“ALe…” kata aling saat ketemu saya di cafe “…kau sudah baca berita tentang Danantara?” Saya menatapnya sebentar. Wajahnya terlihat kesal dan kecewa, seperti seseorang yang merasa harapan besarnya tiba-tiba ditempeleng realitas. “Ada apa, Ling?” tanya saya. “Dulu kita semua kira Danantara bakal bikin ekosistem logistik. Yang efisien, modern, yang bisa ngangkat UMKM, bisa ngubah cara bisnis di Indonesia.” Ia berhenti, menghela napas panjang. “Tapi lihat sekarang… mereka malah jadi liquidity provider BEI, beli SBN, nutupi lobang GA tanpa mengubah bisnis model, investasi energi sampah, sama—” ia menahan tawa getir, “ bangun peternakan ayam.” Saya tersenyum tipis. “Peternakan ayam itu memang puncak kontemplasi ya, Ling.” Aling mengangkat kedua tangannya. “Dari ekosistem logistik nasional… jadi broiler farm. Bagaimana bisa jatuh sejauh itu, Le?” Saya menaruh cangkir kopi di meja dan menatapnya. “Masalahnya sederhana, Ling. Eksekutif Danantara itu bukan orang yang pernah membangun usaha riil. Mereka terbiasa mengelola aset, bukan menciptakan nilai.” Aling mendekat dan duduk tepat di hadapan saya. “Kau maksud… mereka bukan builder?” Saya mengangguk. “Betul. Mereka ahli menyusun laporan, bukan memecahkan masalah. Mereka jago rapat, tapi tidak mengerti lapangan. Mereka administrator yang diberi branding seolah inovator.” Aling terpaku. “Jadi mereka tidak paham supply chain, logistik, industri… semua itu?” “Tidak,” jawab saya. “Yang mereka pahami itu portofolio. Dan portofolio tidak pernah membangun negara. Yang membangun negara itu ekosistem.” Ia terdiam lama. Menghela napas. Lalu menatap saya lagi. “Ale… berarti kita ini selama ini tertipu visi ya?” Saya tersenyum pahit. “Kita tidak tertipu, Ling. Kita hanya terlalu berharap. Danantara itu lahir dengan narasi besar, tapi dijalankan oleh jiwa kecil.” Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Kenapa mereka tidak melakukan yang besar? Kan dana besar, power besar…” “Karena membangun itu sulit, Ling,” jawab saya pelan. “Butuh keberanian, kreativitas, pengalaman, dan kemampuan membaca pasar. Itu kerja berat. Sementara mereka lebih nyaman melakukan hal yang aman: beli SBN, main di BEI, pilih proyek yang gampang, bikin peternakan ayam.” Aling menutup wajahnya dengan tangan. “Le, kok miris sekali ya…” “Ling, visi itu butuh otak dan nyali. Danantara punya dana, tapi tidak punya keduanya.” Ia menurunkan tangannya perlahan. “Kau benar,” katanya lirih. “Saya pikir mereka akan mengubah ekonomi. Mengubah distribusi. Mengubah logistik.” Saya mengangguk pelan. “No, Ling. Negara hanya berubah kalau orang-orang di dalamnya berani berubah. Danantara itu cermin bahwa kita masih kekurangan petarung bisnis. Yang ada baru manajer aset.”