“ Ale, kenapa Yuan itu utangnya besar banget “ Kata Aling seraya perlihatkan neraca keuangan ke saya tahun 2024. “ Itu angka off balance sheet. “ Kata saya. “ Coba liat utang konsolidasi on balance sheet. “ Sambung saya tersenyum
Aling perhatikan laporan keuangan Yuan dengan seksama. “ Oh kecil banget ya. Hanya 15% dari total asset. “ ALing bengong. “ Gimana bisa begitu ?
“ Karena Yuan berhutang tidak melibatkan neraca holding. Tetapi menggunakan Special Purpose Vehicle atau SPV. Utangnya bersifat non recouse. Collateral pinjaman adalah proyek itu sendiri yang diwakili oleh SPV. Artinya Yuan hanya meminjam untuk investasi. Sementara modal kerja pakai equity dari Yuan sendiri. “Kata saya.
“ Artinya Yuan hanya pinjam uang untuk menambah asset dan income dimasa depan. Sementara untuk biaya operasional seperti bayar gaji dan lain lain dari uang Yuan sendiri. Kalau proyek gagal, yang disita SPV. Sementara Yuan aman saja.“ Kata Aling menympulkan. “ Makanya tidak sulit dapatkan pinjaman dan bunga murah. “Lanjut ALing.
“ Itu namanya berhutang untuk produksi. “Kata saya tersenyum. “ atau istilahnya leverage terhadap uang cash yang ada di holdng.” Sambung saya.
“ engga ngerti gua “ kata Aling.
“ Contoh Yuan punya laba ditahan USD 100 juta. Itu bisa membiayai USD 1 miliar proyek lewat perbankan dan pasar uang. Terjadi leverage sebesar 10 kali. Nah peningkatan asset dari hutang ini akan mempercepat pertumbuhan usaha. Tumbuh 5% saja pertahun, itu artinya 50% /tahun dari laba ditahan “ Kata saya.
“Wow..” Aling melotot “ Gimana bisa begitu ?
“ Ya kekuatannya ada pada SDM yang high grade. Pengelolaan resiko bisnis yang prudent dan didukung stake holder berbasis business model “Kata saya.
“ OH ngerti gua. Kenapa Yuan berinvestasi di SDM, riset dan ekosistem bisnis. Terjawab sudah. “ Kata ALing. Dia memandang saya lama. Seperti baru mengenal saya. “ Siapa yang merancang ini semua ? tanya ALing. Saya senyum aja.
“Coba negara kita menerapkan strategi seperti itu. Selesai masalah Indonesia. “ Kata ALing. “ Tapi ini uang APBN dipakai untuk konsumsi dan bayar belanja rutin. Malah defisit. Engga tersisa untuk leverage. Utang bukannya untuk ekspansi malah dipakai untuk bayar utang. Sedih banget ya..” Sambung Alng. Saya senyum aja.