Kemarin saya undang teman makan malam. Dia kerja di bank asing. Walau usia tidak muda lagi tetapi tetap cantik. “ Sekarang likuiditas bank ketat sekali. “ katanya. Emang gua pikirin. Gua engga ada utang bank di Indonesia. kata saya dalam hati. Tetapi saya senyum aja.
“ Pak, sebagai hedge fund player, gimana pendapat bapak dengan situasi keuangan sekarang ? Tanyanya.
“ Kamu buka situs SUSPI bank Indonesia. Lihat data utang sektor publik” kata saya. Dia buka lewat notepad dia. Q2-2023, Gross utang sektor publik sekitar Rp 15.000 triiliun. Katanya
“ Kamu tahu kan apa itu utang sektor publik” Kata saya.
“ ya tahu. Itu utang pemerintah non APBN ditambah dengan utang LK dan Perbankan, termasuk bank sentral. Termasuk utang yang tidak dicatat utang negara tetapi mempunyai kewajiban untuk bailout dan utang PMA yang dijamin lewat skema utang SDA.” Katanya.
“ Nah berapa yang masuk ke sektor perbankan dalam bentuk DPK? Tanya saya.
“ Data 2023 mencapai lebih Rp. 8000 triliun. Terdiri dari deposito, rekening giro, rekening simpanan.
“ Berapa yang disalurkan ?
“ Disalurkan lewat kredit sebesar Rp. 6000 triliun lebih. Disalurkan ke SBN sebesar Rp1.600 triliun lebih. Totalnya Rp. 7600 triliun. Praktis hampir 100% dana pihak ketiga tersalurkan semua. Makanya wajar kalau likuiditas ketat sekai.”
“ Paham ya.” Kata saya tersenyum. “ Nah kalau utang sektor publik dalam bentuk instrument sebesar Rp. 15000 triliun something, dan yang disalurkan oleh bank sebesar Rp. 7600 triliun, artinya ada dana yang disalurkan diluar perbankan dan LKBB Rp. 7400 triliun.” Kata saya.
“ Ya benar. Kemana uang itu mengalir?
“ Uang itu mengalir lewat semacam skema financial engineering. Ya bisa menggunakan skema itu hanya perusahaan yang berskala global dan sudah pasti TBK. Misal pembiayaan mineral tambang, Aksi akuisisi dan divestasi yang dilakukan para taipan indonesia, PSN. Belum lagi skema restruktur kredit korporat dan BUMN lewat relaksasi perbankan yang biayai lewat penerbitan SBN non public offer. Masih banyak lagi skemanya. itu semua secara tidak langsung melibatkan negara harus bailout kalau default. “ Kata saya sambil nikmati makan malam.
“ Mengapa engga nangkring di bank dana itu?
“ Karena sumber dana dari luar negeri umumnya singapore dan China. Tentu cash flow ke luar, bukan ke dalam.” Kata saya tersenyum. Teman itu terdiam dan munngkin mikir.
“ Gila ya. Hampir Rp. 8000 triliun dinikmati oleh segelintir orang"
“ Kamu buka data Oxfam “ Kata saya. Dia langsung buka situs Oxfam. “ harta empat orang terkaya di Indonesia itu setara dengan akumulasi kekayaan milik 100 juta penduduk. Bisa jadi kalau total Dana Pihak Ketiga (DPK) pada maret 2023 sebesar Rp8.006 triliun. Rupanya, sebanyak Rp4.231 triliun atau sekitar 53% dari total DPK perbankan dimiliki oleh hanya 0,02% populasi penduduk Indonesia. “ Katanya. Saya diam saja. Karena itu opini.
“ Ya jumlahnya sekitar 54 ribu orang penduduk Indonesia, dengan rata-rata isi kantong simpanan mereka per orang sebesar Rp 98 miliar. Mereka kaya karena sumber dana non konvensional yang dijamin negara dan SDA“ katanya lagi.
“ Itu 54 ribu orang kalau mereka masuk Gelora Senayan masih longgar.” kata saya bersatire. Dia terdiam. Saya lanjut saja makan. Saya tidak beropini tetapi hanya membaca data dari dia saja.
“ Saya suka bicara dengan bapak, “ katanya tersenyum. “ karena saya dapat pengetahuan praktis. Kalau ketemu dengan pengusaha lain kebanyakan membanggakan diri dengan aset dan kehebatan keluarganya. “ Lanjutnya.
Usai makan malam dia panggil waitress untuk bayar bill. Dia mau bayar bill, tapi saya cepat serahkan Palladium card ke waitress. Dia melotot melihat card itu. Saya cuek aja.