Sore itu Dian datang menemui saya di sebuah kafe. Wajahnya tampak bersemangat. Begitu duduk, ia langsung mengeluarkan laptop. “ Pak, saya mau minta pendapat.”
“Tentang apa?”
“Startup IT.” Ia memutar laptop ke arah saya. “ Saya sudah membuat business plan.”
Saya membacanya pelan. Lima belas menit berlalu tanpa sepatah kata. Dian mulai gelisah.
“Gimana menurut Bapak?”
Saya menutup laptop. “ Jujur?”
“Iya.”
“Saya lebih banyak melihat cash out daripada cash in.”
“Maksudnya?”
“Semua biaya sudah dihitung. Sewa cloud. Gaji programmer. Digital marketing. Server. Cyber security. Customer acquisition. Legal. Semuanya ada.”
“Lalu masalahnya?”
Saya tersenyum. “ Pendapatannya.”
Dian terdiam.
“Cash in kamu masih berupa harapan. Semuanya berdasarkan asumsi. Asumsinya pengguna bertambah. Asumsinya investor masuk. Asumsinya pelanggan mau membayar. Asumsinya valuasi naik. Sementara biaya keluar setiap bulan adalah kenyataan.”
Dian menghela napas.
“Jadi bisnis apa yang menurut Bapak lebih secure? Saya benar-benar bingung.”
Saya tidak langsung menjawab. Sebaliknya saya bertanya. “ Kamu tahu teripang?”
“Sea cucumber?”
“Iya.”
“ Teripang itu kalau diolah jadi marine peptide, sekilo harganya Rp 1 juta. Kalau 1 ton bisa Rp 1 miliar “ kata saya.
Matanya membelalak. “ Gila, ! Gimana prosesnya nya ?
“ Sederhana saja. “ kata saya tersenyum “ Yaitu lewat proses Hidrolisis enzim, Filtrasi, Ultrafiltration, Konsentrasi, Spray Drying”
“ Kedengaran nya rumit pak “
“ Engga serumit IT. Itu ilmu nyata dan mesin tersedia di pasar. “ kata saya.
“Jadi kalau Bapak membangun perusahaan hari ini, Bapak pilih startup IT atau hilirisasi?”
Saya tersenyum sambil menghabiskan kopi.
“Saya tidak pernah melihat bisnis dari apakah itu digital atau manufaktur.”
“Lalu?”
“Saya selalu melihat satu hal.”
“Apa?”
“Apakah produk itu menyelesaikan masalah yang nyata, menghasilkan arus kas yang nyata, dan memiliki permintaan yang terus ada.”
“ Maksudnya?
“Startup yang hebat bisa menjadi perusahaan besar jika berhasil membangun pelanggan yang mau membayar.. Tetapi industri hilir juga bisa menjadi mesin pertumbuhan jika mampu mengubah sumber daya alam menjadi produk bernilai tinggi. Sama-sama bisa berhasil. Bedanya, pada banyak proyek startup, risiko terbesar adalah apakah pasar akan benar-benar terbentuk. Sedangkan pada produk seperti marine peptide, pasarnya sudah ada secara global. Dan permintaan terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran orang akan kesehatan dan gaya hidup sehat “ kata saya