KEMBALI
Dashboard.
Risiko terselubung
Arsip Terupdate
Dulu pelajaran perbankan sederhana: sebelum memberi kredit, bank bertanya, “Usahanya menghasilkan uang atau tidak?” Sekarang pertanyaannya terasa bertambah “Program pemerintah atau bukan?” “Program pemerintah.” “Oh… lanjutkan rapatnya.” S&P Global mencatat kredit tiga Himbara yang mereka nilai tumbuh rata-rata 26% yoy per Juni 2026, sementara industri hanya 12%. Pendorong pentingnya adalah kredit terkait program pemerintah dan BUMN. S&P khusus menyoroti pinjaman Agrinas yang berkaitan dengan pembangunan koperasi dan mencapai sekitar 2%–6% dari total kredit masing-masing bank yang dinilai. Ini seperti ayah menyuruh anak membuka warung. Modalnya pinjam dari kakak. Kalau warung untung, bagus. Kalau warung rugi, ayah bilang: “Tenang, nanti kita bicarakan dalam rapat keluarga.” Persoalannya, bank tidak hidup dari semangat kekeluargaan. Bank hidup dari cash flow, margin, kualitas aset dan modal. S&P mengatakan cicilan pertama Agrinas jatuh September ini. Pinjamannya tidak mempunyai jaminan pemerintah langsung, meskipun bank dapat mengklaim kekurangan pembayaran kepada pemerintah. Efektivitas mekanisme itu, menurut S&P, belum pernah diuji. Di situlah lelucon mulai mahal. Kalau koperasi menghasilkan arus kas sendiri, selesai. Kalau tidak, tagihan bergerak seperti permainan kursi: ada koperasi, dibelakangnya Agrinas, ajukan pinjaman ke bank himbara, resiko ada pada pemerintah dan yang bayar APBN. Semua duduk ketika musik berhenti. Kecuali pembayar pajak. Dia dari awal memang tidak disediakan kursi. Lebih lucu lagi, dunia sedang memasuki periode uang mahal. Cost of funds naik, tetapi sebagian kredit program mempunyai yield relatif rendah. S&P memperkirakan NIM Himbara yang dinilai dapat tertekan 10–20 bps dalam 12–18 bulan. Mengapa ? pemerintah akan menghadapi tekanan dari dua neraca sekaligus: APBN harus membayar refinancing lebih mahal, sementara neraca bank BUMN menyerap semakin banyak risiko kebijakan pemerintah. Semakin dalam kerusakan negeri ini.