PT Pupuk Iskandar Muda 1 (PIM), tahun lalu sedang di ujung tanduk. Pasalnya, pasokan gas bumi sebagai bahan bakar utama mesin produksi pupuk terancam terhenti. Di sisi lain, pad tahun yang sama pabrik pupuk milik PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) juga sempat mengalami shutdown atau berhenti operasi. Hal itu seperti yang dikatakan Pak Jokowi bahwa Pupuk mahal dan langka karena gas langka akibat perang Ukraina -Rusia.
Benarkah ? Mari Cek data.
Nilai ekspor produk LNG Indonesia dan Gas Pipa Indonesia di pasar dunia terus meningkat setelah pandemic covid-19 tahun 2020. Pada 2022, tercatat nilai ekspor LNG Indonesia secara total mencapai USD 6,6 Miliar, atau naik dari USD 4,6 Miliar di tahun 2021, sedangkan nilai Ekspor Gas melalui Pipa Indonesia pada 2022 meningkat menjadi USD 3,13 Miliar dibandingkan tahun 2021 dengan nilai USD 2,84 Miliar. Apa artinya? Kita surplus terbukti bisa ekspor. Seharusnya pasokan dalam negeri terjamin. Tapi mengapa kurang?
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2022 Indonesia melakukan impor gas bumi mencapai angka 6,8 juta ton. Angka ini naik 5,5% dibandingkan tahun 2021 sekaligus menjadi impor gas terbesar dalam lima tahun terakhir. Artinya pemerintah juga impor gas dengan harga international. Makanya mahal. Nah patokan Jokowi pada kondisi impor.
Mengapa terjadi seperti itu? Padahal Cadangan gas bumi t, yakni 13.988 miliar kaki kubik persegi (billion square cubic feet/BSCF), serta Papua 11.412 BSCF. Mengapa? karena semua lapangan gas kita sudah di offtake oleh buyer luar negeri. Dan semua investasi gas itu dibiayai dengan skema counter trade. Artinya pengembalian investasi dalam Gas. Jadi walau SDA ada pada kita tapi yang punya investor. Indonesia memang begitu. Bego nya engga ketulungan. Engga berubah kelakuan sejak era Soeharto.