m2 Agustus 2025

Arsip Terupdate
M2 pada Agustus 2025 tembus Rp9.657,1 triliun, tumbuh 7,6% yoy. Rinciannya, M1 naik 10,5%, uang kuasi 5,6%. Bunyinya manis: likuiditas longgar, transaksi lancar. Seakan-akan, negeri ini sedang berpesta pora. Tapi mari jujur: pesta itu cuma pakai kupon makan, bukan beras asli. Produksi ekonomi tidak bertambah, sawah tetap menghasilkan 10 karung, tapi pemerintah membagikan kupon dua kali lipat. Apa yang terjadi? Harga naik, rebutan makin ganas, dan siapa yang kenyang? Bukan rakyat, tapi para pemilik lumbung yaitu konglomerat rente yang lihai menimbun. Di meja rapat elite, kebijakan ini disebut stimulus likuiditas. Di warung kopi, rakyat lebih jujur menyebutnya kebijakan dungu. Karena setiap tambahan uang yang beredar, bukannya mencetak barang dan jasa, justru lari ke kantong rente: properti, obligasi, dan instrumen spekulatif. Hasilnya: kurs rupiah makin lunglai, inflasi merayap, dan cadangan devisa digerogoti untuk intervensi. Ironis sekali. Di saat RAPBN 2026 sudah berdarah-darah dengan defisit melebar, otoritas justru menambah bensin di tungku dengan melonggarkan likuiditas. Mereka berharap pertumbuhan semu bisa menutupi lubang fiskal. Padahal, sejarah sudah memberi pelajaran: pesta kupon selalu diakhiri dengan krisis kepercayaan. Rupiah yang jinak hanya lahir dari disiplin fiskal, independensi moneter, dan institusi yang kredibel, bukan dari banjir kupon tanpa sawah. Lalu, apa yang kita saksikan? Sebuah negara yang bangga menggelar jamuan, tetapi lauknya sudah habis, hanya kupon yang menumpuk. Para tamu kehormatan, konglomerat rente dan spekulan valas tersenyum lebar. Sementara rakyat? Mereka masih mengantre di luar, menatap piring kosong, mendengar pemerintah berteriak, “Jangan khawatir, uang beredar tumbuh 7,6%!” Kalau ini bukan kebijakan dungu, lalu apa? Perhatikan graphik dibawah, korelasi kenaikan uang beredar dengan pelemahan kurs. Anehnya orang dungu itu dipercaya sama orang bodoh dan diharapkan oleh orang miskin ! Ya wassalam! Secara personal saya udah ingatkan lewat tulisan. Saya tak lagi berhutang apapun secara moral, dan lagi toh saya hanya rakyat jelata yang bukan siapa siapa dan tidak makan dari APBN dan tidak berbisnis PSN