“ Pah, ini ada orang mau jual kebun sawit 15.000 hektar dan Pabrik PKS “ Kata Anak saya saat di kamar kerja saya di rumah. Saya siap mendengar dengan serius. “ Ini dokumen nya” sambungnya seraya menyerahkan map tebal.
“Kamu dapat penawaran langsung dari pemilik kebun atau perantara ?
“ Dari salah satu pemegang saham “
“ OK, papa ajarkan cara dealnya. "
“ Ya ok. Gimana ?
Saya baca dokumen itu dengan cepat. “ Beli dengan harga maksimum 60% dari harga penawaran dia” Kata saya.
“ Kenapa ?
Saya pergi ke white board. MInta dia perhatikan“ Ini dasar hitungannya.” Kata saya mulai jelaskan secara angka berdasarkan dokumen yang ada “ Usia produktif kebun tinggal 5 tahun. Jadi kamu harus ada program planting. Itu cost lagi. Kapasitas produksi kebun dibawah normal. Hanya 200.000 ton pertahun. Normalnya 300.000 ton. Itu cost lagi untuk recovery. Kapasitas produksi Pabrik PKS rendah, itu artinya rendemen nya tinggi. Itu cost lagi untuk rasionalisasi. Mungkin kita harus pecat GM pabrik dan karyawan, yang tentu perlu biaya pesangon dan lain lain “ Kata saya menuliskan angka demi angka.
“ Nah dari semua itu begini angkanya cost offering yang layak” Kata saya menyimpulkan dengan angka. Putra saya bengong melihat angka angka itu.
“ Tapi menurut teman yang jadi perantara, pemilik kebun terjebak kredit macet” Kata Putra saya.
“ ya engga ada masalah. Kita deal dengan bank.”
“ Gimana deal dengan bank?
“ BIsa melalui credit recovery. Yang pasti proses akuisisi nya perlu waktu audit lapangan dan legal paling cepat 6 bulan. “Kata saya.” Nah selama 6 bulan itu kta harus bayar team audit. Engga ada masalah. “
“TErus kalau kita udah bayar team audit dan ternyata engga sesuai dengan data yang ada. Gimana ?
“ Harga turun lagi.”
“ Kalau mereka engga mau?
“ Ya batal “
“ Tapi aku udah keluar uang di depan untuk biaya audit”
“ Ya. Itu resiko lue lah..Resiko berburu peluang” Kata saya kalem. Putra saya stress.Baru bayangkan resiko aja dia sudah stress.
“ Nak, dengan semua effort audit dan angka yang ada. Bank pasti minta solusi ke kamu untuk mendukung credit recovery. Bank tidak mau sampai itu dilelang. Mereka inginkan tetap jalan.
Nah kalau bank minta solusi kamu bisa tawarkan berbagai skema, yang pasti bank terima. Misal Papa bantu kamu dapatkan fasilitas NCL dari bank di Singapore. Itu bisa dijadikan SWAP collateral. Kamu serahkan NCL itu ke bank kreditur dan kamu dapatkan semua assset perusahaan itu. “ Kata saya tersenyum.
“ kenapa bank singapore mau berikan fasiitas NCL?
“ Kan papa punya buyer CPO di Singapore. Dia akan offtake produksi kamu itu dan dia akan bantu yakinkan bank di singapore. Sederhanakan. Tentu agar mereka tidak beresiko, pasti mereka minta cross settlement antara rekening penjualan dan pembelian. Untuk pastikan mereka tidak loss kalau kamu default hutang di bankTidak ada yang gratis.” Kata saya tersenyum.
“ . Engga ada masalah. yang penting cash flow lancar. “ Kata anak saya. “ Tapi kalau jadi, ini perusahaan punya kiki, bukan punya papa. Nanti fee papa sebagai konsultan gua bayar” Sambung anak saya. Saya senyum aja.
“ Boleh engga. Gua pinjam ruang meeting di kantor GI? Biar keliatan bonafide. “ Kata anak saya terkesan inferior dia.
“ Pakai aja. Bahkan kamu bisa pakai lounge executive untuk terima tamu khusus deal ini. Nanti papa kasih tahu ke Lina” Kata saya.
“ terimkasih pah.
“ Tapi pastikan selama 6 bulan kamu belajar tentang bisnis kebun sawit termasuk downstream nya. “ kata saya.
“ Siap “