Ya wajar.
Kita membanggakan ekspor non migas selama 55 bulan selalu surplus. Itu bukan kabar gembira. Karena mayoritas ekspor kita adalah sumber daya alam dan mineral ekstraksi. Tapi ada sector industry yang terpaksa mengurangi impor karena daya beli ekspor turun dan belanja domestic down. Itu tentu mengurangi belanja impor. Makanya neraca perdagangan surplus. Artinya ekonomi kita tidak baik baik saja.
Mengapa kurs melemah sementara neraca perdagangan mencatat surplus? Padahal Cadev kita besar. Kurs itu dipengaruhi oleh Neraca pembayaran transaksi berjalan. Itu selisih atas neraca dagang dan jasa. Nah walau perdagangan kita tinggi namun di sector jasa kita rendah. Apa saja sector jasa itu?
Pertama. Ongkos kapal. Walau kita katanya negara bahari, nyatanya kita engga punya kapal cargo berukuran besar untuk ekspor dan impor. Kedua. Asuransi. Perdagangan itu perlu di cover asuransi atas resiko delivery. Semua perusahaan asuransi terhubung dengan luar negeri. Lokal hanya jadi broker doang.
Ketiga. Pembayaran utang luar negeri. Maklum hampir semua industry dan korporat kan utang ke luar negeri. Termasuk pemerintah dan BI. Tentu bayar bunga dan cicilan. Ke empat. Jasa tenaga ahli asing dan ongkos wisata orang berduit ke luar negeri.
Selama ini Neraca transaksi berjalan kita tidak pernah surplus. Selalu defisit. Kalaupun mencatat surplus modal dan financial, itu karena BI menarik utang luar negeri. Tentu itu akan menjadi ongkos dimasa depan terutama bayar bunga dan cicilan. Itu akan menekan defisit neraca transaksi berjalan. Itulah yang membuat IDR tidak pernah stabil.
Ciri khas negara terbelakang memang lemah dalam hal jasa. Maklum sector jasa itu perlu skill dan IQ diatas rata rata. Singapore itu hebat, karena sector jasanya sangat besar meningkatkan surplus Neraca pembayaran nya. Negara berkembang seperti Indonesia itu memang SDM nya rendah sekali Jadi wajar kalau ada program MSG. Agar anak anak kita dimasa depan engga seperti bapaknya yang low class