Kemarin saya sambil nunggu Awi di Starbucks, saya ditemanin Lina. “ Pak, katanya nickel kita akan habis 7 tahun lagi. Yuan kan punya Industri nikel di Guangxie. “ katanya. “ Apa sih sebenarnya nilai tambah hilirisasi nikel itu ? tanyanya.
“ Kamu tahu Powder nikel?
“ Kan itu salah satu produk dari industri nikel punya Yuan”
“ Ya benar.”
“ Apa itu ? tanya Lina antusias.
“ Serbuk nikel merupakan sejenis serbuk logam nikel yang tampak berwarna abu-abu. Bentuknya macem macem. Ada bubuk nikel bulat dan bubuk nikel tidak beraturan.
Menurut proses produksi yang berbeda, bubuk nikel dapat dibagi menjadi bubuk nikel karbonil, bubuk nikel elektrolitik, dan bubuk nikel yang diatomisasi.
Menurut ukuran partikel juga macem macem. Ada bubuk nikel kasar, bubuk nikel sedang, bubuk nikel halus, bubuk nikel sangat halus, bubuk nikel ultrahalus, dan bubuk nano nikel.” Kata saya.
“ Untuk apa itu ?
“ Untuk bahan campuran bagi Industri baja tahan karat dan paduan tahan korosi lainnya, seperti baja nikel, baja kromium nikel dan berbagai paduan logam non-besi. Juga untuk campuran, katalis dan banyak digunakan pabrik koin mata uang. Dapat digunakan sebagai katalis hidrogenasi, untuk industri diantaranya seperti, produk keramik, peralatan kimia khusus, sirkuit elektronik, pewarna kaca dan pembuatan senyawa nikel, pesawat terbang, tank, kapal perang, radar, rudal, pesawat ruang angkasa dan industri sipil dalam pembuatan mesin, pigmen keramik, bahan magnet permanen, remote control elektronik dan bidang lainnya. “ Kata saya.
“ Mahal harganya?
“ I Kg sekarang Rp. 5 juta, atau 1 ton Rp. 5 miliar atau USD 3,3 juta, Itu bukan ukuran nano, yang harganya berlipat” Kata saya.
“ Gila ya. “ Katanya.
“ Ya gila. Kalau utang negara Rp. 8000 triiiun atau USD 550 miliar. Itu artinya cukup 166.000 Ton, lunas utang.. Bandingkan ekspor nikel kita yang mencapai jutaan ton. Tetap aja kita belum bisa bayar utang. Itu karena Pig Iron kita kapalkan ke China agar China bisa buat downstream nikel berupa Powder nikel dan lain lain ” kata saya.
“ Dan Yuan punya pabrik itu sejak tahun 2011. Di Indonesia orang masih belum kepikir, bapak udah bangun. Kenapa bapak berpikir sejauh itu.
“ Karena saya pedagang. Berusaha jual barang yang mudah dijual dan pembeli tergantung dengan saya.”
“Dan itu karena tekhnologi.”Kata Lina.
“ Yup”