Yuni memimpin perusahaann terkesan responsip. Apapun dia lakukan check lapangan. Apapun keluhan anak buah dia dengar dan tanggapi. Pernah sampai tidur di pabrik hanya untuk memastikan kerja tiga shift pabrik tableware berjalan efektif. Tahun 2009 atau lima tahun dia memimpin perusahaan, saya kursuskan Management. Setelah itu lambat laun dia berubah. Sehingga terkesan dia lebih strategis namun tidak taktis. Saya tetap harus lead dia lakukan perubahan dan perbaikan.
Kemudian tahun 2011, dia sudah bisa berpikir strategis dan bertindak taktis terukur. Mengapa? karena sejak tahun 2009, kalau dia ada masalah. Dia datang ke saya. Saya train dia menyelesaikan masalah atas dasar data dan informasi dari hasil proses management.” Baca buku ini dan itu “ kata saya.
“ Kasih tahu aja Uda.” Katanya memelas.
“ Terus sampai kapan saya terus lead kamu. Lantas apa gunanya kamu saya bayar mahal? Ikuti perintah saya. Baca buku buku itu. Nanti kembali ke saya.” Kata saya ketus. Dia patuh.
Setelah itu dia datang lagi ke saya. Nah saya ajak dialogh. Lebih mudah saya menjelaskan karena dia sudah baca buku. Dan diapun bisa menyerap solusi dari saya dan mempertajamnya. Itu berlangsung selama 3 tahun. Akhirnya tanpa saya suruh, dia pun jadi gemar membaca. Karena sering ngobrol dengan saya, sering saya bilang bloon. Diapun terpancing baca buku umum. Lama lama dia kaya literasi. Dengan itu dia bisa meresponse apapun dengan nalar yang cepat dan bijak. Dasar logikanya terasah berkat membaca dan diapun jadi teman diskusi yang asik.
Penghujung tahun 2021 dia lakukan persiapan jadi CFO di Yuan Holding. Dia hanya tamatan SMU. Setahun dia mengikuti orientasi sebagai TOP executive Yuan Holding. Dia travelling ke seluruh kantor Yuan di 80 kota dan negara. Setelah itu dia harus membuat paper tentang Yuan. Hasil evaluasi team HRD Yuan, disampaikan kepada pemegang saham Yuan dan Investor associated. Dari 4 pemegang saham dan 16 investor associated menyatakan dia qualified.
Pemimpin itu harus 2/3 waktunya di kantor. Dia berpikir dan membuat keputusan setiap hari. Dia berusaha mengindari acara seremonial yang terkesan narcis. 1/6 lagi waktunya untuk berinterakasi dengan stakeholder dan 1/6 lagi waktunya untuk membaca. Kalau waktunya banyak di luar kantor, itu artinya dia engga punya agenda yang dia pikirkan dan pasti engga ada waktu membaca, ya umumnya yang begitu para pemimpin yang punya karakter psikopati dan megalomania.