Cadev

Arsip Terupdate
Cadev Ketika hendak pulang. Lina telp saya. “ Pak lina sedang OTW ke kantor dari Jalan Sudirman.” Saat itu saya sedang di Central Park bersama teman. “ Ya udah jemput saya” Kata saya. “ Pak Cadev kita terbesar sepanjang sejarah. Dan itu hanya di era Jokowi bisa tercapai kinerja terbaik.” Kata Lina. “ Saya tanya kamu sekarang. “ Kata saya. “ Untuk apa Cadev itu ? “ Ya untuk menopang neraca pembayaran” Jawab Lina. “ Terus kalau neraca pembayaran defisit. Lantas darimana sumbernya cadev bisa meningkat ? “ Ya dari utang seperti SRBI, SVBI, SBN global Bond “ Jawab lina tangkas. “ Good ! Ok. Mengapa harus utang?tanya saya. Lina terdiam. Tapi akhirnya dia jawab cepat. “Ya kalau Cadev tinggi kan kurs mata uang akan menguat. “ “ Bisa angga kurs terus menguat kalau Cadev dari utang? Tanya saya. “ Utang di market kan volatile tergantung suku bunga. Kalau suku bunga tinggi ya uang mengalir ke dalam. Kalau suku bunga turun, ya uang keluar. Wah..” lina menoleh ke saya. “ Artinya kapan saja kurs bisa melemah. Kapan saja bisa default kalau utang tidak terkendali. Wah bukan masa depan yang baik” Katanya melotot. “ Tapi kan rasio utang kita terhadap PDB masih dibawah 40%. Bandingkan dengan Singapore dan Jepang diatas 100%.” Kata Lina. “ Saya tanya kamu sekarang. “ Kata saya.” Dalam neraca yang jadi ukuran Kesehatan keuangan, apakah rasio utang terhadap produksi atau asset atau rasio likuiditas? Tanya saya. “ Ya likuiditas. “ Jawabnya cepat. “ Apa itu ? “ Rasio utang terhadap laba atau pendapatan kotor. Lebih konservatif lagi, rasio utang terhadap pembayaran bunga. Itu untuk menentukan probabilitas risiko gagal bayar terhadap utang." Kata Lina “ Nah kamu tahu” Kata saya. “ Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan pajak saja tahun 2024 mencapai 20%. Itu belum termasuk bayar cicilan. Kalau ditambah cicilan hutang, maka rasionya udah 45%. Artinya hampir separuh pendapatan pajak habis untuk bayar utang dan bunga. Nah, kalau kamu sebagai dirut atau ibu rumah tangga. menghadapi situasi hampir separuh laba kotor atau pendapatan habis untuk bayar Bunga dan cicilan. Gimana? “Ya nyerah lah pak. Itu pasti akan terjebak gali lubang tutup lubang” Kata lina. “ Nah itulah yang terjadi di Indonesia sekarang” kata saya. “ Tapi pemerintah keliatannya happy saja” Kata Lina. “Happy itu soal nature. Ada orang yang memang tidak peduli dengan kewajiban selagi masih bisa ngutang. Itu disebut mindset tidak tahu diri atau mindset pecundang. Karena dia pikir akan selalu baik baik saja. Padahal mana ada orang bisa terus ngutang. Ada batasnya sampai dia tidak bisa lagi keluar dari lubang utang karena sudah terlalu dalam utang dia gali. “ Kata saya. “ Ada juga nature tahu diri. Berusaha mengekang selera agar hutang bisa terbayar dari kinerja dan jumlahnya terus berkurang bukannya bertambah. Itu yang terjadi pada GI. Sekarang utang GI hanya 5% dari asset. Itupun utang kepada pemegang saham sendiri. “ Kata Lina menoleh ke saya. “Sementara owner nya hidupnya sangat bersahaja . Eksekutifnya naik BMW dan Maybach. Tetapi karena itu kita jadi segan dan berusaha menghasilkan yang terbaik dan tidak mau korup. Malu lah.” Lanjut lina tersenyum " Lin, kenapa sih kamu selalu sempatkan antar saya pulang? kan repot jadinya. Santai aja" kata saya. " Itu perintah ibu Yuni waktu dia sarahkan Jabatan dirut GI ke Lina. Dan setelah mendengar wejangan bu Yuni, lina jadi paham. Engga apa apa kan pak? Kata Lina. Saya diam saja. Duh yun, gua pikir lue terlempar ke Hongkong gua bisa bebas. Ternyata tetap sama aja.