Persepsi negatif investor

Arsip Terupdate
“Ale, kenapa investor punya persepsi negatif terhadap Indonesia?” tanya Herman. “Jawaban paling pasti hanya investor yang tahu,” jawab saya. “Kita hanya bisa membaca perilaku mereka. Prinsip investor itu sederhana, yaitu buy low, sell high, and pay later. Mereka ingin beli semurah mungkin, jual setinggi mungkin, dan sebisa mungkin memakai leverage. “ “ terus..” “ Masalahnya, sekarang aset Indonesia—Rupiah, SBN, maupun saham—dianggap tidak lagi murah dibanding risikonya. Saat mereka mau keluar, pembelinya juga terbatas. Mau pakai leverage sulit, karena bank juga tidak mau membiayai posisi yang dianggap terlalu berisiko. Maka yang terjadi adalah sell-off. Jadi jangan berharap rebound cepat. Ini bukan koreksi biasa. Ini crash.” “Apa penyebabnya?” tanya Herman. “Karena pemerintah terlalu sibuk bicara spending, tetapi kurang bicara revenue,” jawab saya. “Setiap hari narasinya belanja, program, ekspansi, stimulus. Padahal negara hidup dari utang dan penerimaan pajaknya terbatas. Pasar mulai membaca pemerintah sebagai tidak disiplin fiskal. Kalau tidak ada yang menghentikan, ujungnya pasar takut pemerintah akan tergoda melakukan pelonggaran moneter, quantitative easing, atau bentuk lain dari cetak uang. Itu yang membuat pasar makin curiga dan menimbulkan persepsi negative.” “Apa karena mereka tidak suka dengan Prabowo?” tanya herman. “Tidak juga,” jawab saya. “Apa alasan mereka harus tidak suka kepada Prabowo? Prabowo bukan pemimpin sekelas Putin yang harus ditakuti dan dihabisi. Dia orang yang masih bisa diajak bicara. Dia juga bukan tipe yang akan head-to-head dengan Amerika secara frontal.” “Bukan itu maksud saya,” kata Herman. “Maksud saya, apakah ini karena Prabowo ingin mengontrol sumber daya alam dan dianggap ingin menghabisi investor global?” “Itu juga bukan alasan yang tepat,” jawab saya. “Indonesia punya hak penuh untuk menguasai sumber daya alamnya sendiri. Itu hak kedaulatan. Tetapi ada syaratnya, yaitu pastikan utang luar negeri dibayar dan jangan terus mencari utang baru ke luar negeri. Setelah utang lunas dan tidak lagi bergantung pada pembiayaan asing, silakan saja mengatur SDA sesuka hati. Orang asing tidak peduli. EGP saja.” “Tapi kalau utang belum dibayar?” “Ya jangan salahkan mereka kalau nyinyir,” jawab saya. “Kalau kita masih butuh uang mereka, masih punya utang kepada mereka, masih menerbitkan bond ke pasar global, maka mereka akan meminta kita mematuhi standar internasional, ya fiskal harus disiplin, hukum jelas, kontrak dihormati, bank sentral kredibel, dan kebijakan tidak berubah-ubah.” “Kalau pemerintah tidak peduli dengan nyinyir mereka ?” tanya Herman. “ Ya mereka akan dump Rupiah, SBN” jawab saya pelan. “Mereka akan jual aset Indonesia sampai harganya jatuh. Bukan karena benci. Tapi karena dalam pasar, kalau risiko dianggap tidak terkendali, aset akan dibuang lebih dulu. Setelah itu baru orang bertanya kenapa Rupiah menjadi sampah.” “ Sederhana aja ya masalahnya. Kita ini negara bokek tapi songong..sok kaya” Kata Herman. Saya senyum aja.