Gagal ngerti.
Mengolah bauksit tidak sama seperti nikel, yang dibakar dalan tanur sembur. Tapi bauksit perlu dimurnikan menjadi alumina yang kemudian diubah menjadi logam melalui elektrolisis. Nah ini memerlukan energi yang sangat besar. 60% biaya produksi alumina adalah energi. Ya, investasinya padat listrik, padat modal. Makanya kalau buat smelter alumina, yang pasti untung duluan adalah yang memasok listrik. Yang jualan fuel ( batubara atau gas ). Kalau harga fuel naik, ya listrik mahal. Engga efisien lagi.
Makanya jangan kaget tahun 2008 bila negara timur tengah yang kaya minyak dan gas membangun Smelter aluminium. Sebenarnya mereka jualan minyak dan gas tetapi melalui industri aluminium. Saat itu merupakan strategi yang jitu menyelamatkan industri MIGAS yang sedang jatuh harga, sementara aluminium sedang tinggi tingginya. Setidaknya mereka bisa tetapkan harga jual fuel ke smelter diatas harga produksi. Pada tahun 2012, Timur Tengah menyumbang sekitar 10 persen dari produksi aluminium utama dunia. Bauksit didatangkan dari Afrika Barat.
Bulan juni 2023 Jokowi melarang ekspor bauksit. Sebenarnya entah siapa yang biskin. Katanya larangan itu cara agar China dan Eropa merelokasi smelter nya ke Indonesia. Yang jadi masalah Jokowi tidak paham. Bahwa China dan Eropa sejak tahun 2008 mulai membatasi produksi smelter bauksit bukan karena tidak ada bahan baku bauksit. Bausit bukan hanya dari Indonesia Indonesia, di Afrika juga melimpah. Yang jadi masalah adalah soal energi. Sesuai kesepakatan iklim Paris, China dan Eropa melarang smelter bauksit gunakan bahan bakar dari Batubara. Karena polutan.
Jadi seharusnya Jokowi tahu kalau ingin melarang ekspor bauksit ya bangun dulu PTLA. Itu energi murah dan ramah lingkungan. Sumber PLTA raksasa ada di Papua dan Kalimantan Utara. Sungai Kayan, mampu menghasilkan PTLA dengan kepasitas 9000 MW. Atau yang dekat Australia, bangun PTLA di Sungai Mamberamo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Focus ke sana.
Agar ekspor alumina bisa terkendali dari ilegal ekspor seperti kasus nikel, ya buat KEK untuk pusat industri alumina berserta downstreamnya. Itu pasti akan didatangi pemain industri alumina dari seluruh dunia. Dengan kapasitas cadangan bauksit dan nilai tambah industri downstream aluminium yang ratusan kali, saya yakin 2 tahun produski itu bisa lunasi hutang Indonesia. Kalimantan Utara dan Papua akan jadi kota industri berkelas dunia.
Tapi apa yang dilakukan Jokowi? justru memberi izin pengolahan bauksit ( smelter ) dengan fuel batubara. Dan itu konyolnya lagi hanya sebatas alumina, yang kemudian di-kapalkan ke China untuk diolah jadi aluminiun dan downstram luas. China memang pasar terbesar alumina, Karena China udah melarang smelter alumina yang boros energi dan polutan. Memang kesepakatan target mencapai emisi karbon nol yang digagas J0kowi pada G20 Bali, itu hanya retorika dan mungkin saja Jokowi tidak paham. Sedih saya. Presiden yang saya pilih dengan cinta dibegoin sama team terdekatnya dan dipuja sama kaum bigot.