Saya bertemu Florence tadi sore sebelum dia ke Singapore. “ Ale, apa yang dimaksud dengan Chilean Paradox. “ Tanya Florence. Dia tanya saya sedang baca email dari London lewat smartphone.
“ Oh itu di Chili “ Kata saya tetap focus baca email.
“ Gua tahu Chili. Maksudnya apa ? Tanya florence sepertinya kesel karena saya tetap sibuk dengan smartphone saya. Segera saya focus kedia.
” Ok begini. “ kata saya serius “ Seharusnya kalau data ekonomi menunjukan indikasi fundamental ekonomi baik dan data survey 80% rakyat puas dengan presiden. Artinya kebijakan pemerintah bagus. Nah itulah keadaan di Chiili. Tetapi nyatanya tahun 2019 kemarin terjadi gelombang protes yang hampir menuju revolusi. Kan lucu, Nah itu yang disebut paradox atau istilahnya Chilean Paradox. Itu jadi studi kasus oleh semua universitas fakultas ekonomi.” Kata saya.
“ Kenapa sampai begitu ?
“ Ya yang bisa menggerakan aksi massa besar atau people power itu kan kelas menengah. Contoh revolusi paska proklamasi kemerdekaan Indonesia kan digerakan oleh kelas menengah. Rakyat ya ikutan saja. Dalam kasus Chili, indikator ekonomi memang bagus. Tetapi kelas menengah mulai merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Karena anggaran sosial pemerintah sangat besar openin 10% rakyat miskin. Akibatnya tidak tersedia dana stimulus di APBN untuk meningkatkan income kelas menengah. Kalau rakyat miskin teriak, engga didengar. Tetapi kelas menengah teriak ya ceritanya lain.” Kata saya.
“ Dalam hal apa kelas menengah merasa tidak diperhatikan? Contohanya apa ? tanya Florence.
“ Contoh di Indonesia, sekarang kelas menengah makan uang tabungan. Itu data statistik BI yang dilihat menurunnya data Dana Pihak Ketiga di bank. Kelas menengah itu terdiri dari Buruh, karyawan dan pedagang tradisional termasuk UMKM” Kata saya.
“ Oh bukan kelas atas ? Tanya florence mengerutkan kening.
“ Bukan. Justru Chilean Paradox itu orang kaya semakin kaya.”
“ Terus apa akar masalahnya ?
“ Ya sumber masalahnya adalah Presiden lebih utamakan konsesus politik di tingkat elite saja atau istilah kerennya oligarchi, yang terhubung dengan pengusaha. Dan untuk popularitas, dia focus ke program populisme terhadap rakyat miskin., Ya dia meludah keatas yang kena muka sendiri, dia meludah ke bawah dibawa angin kena muka lagi. Dia lupa bahwa kekuatan real itu ada pada kelas menengah.” kata saya.
“ Kata Wenny lue kenal dekat dengan Madam Michelle Bachelet” Kata Florence.
“ Dulu tahun 2011.Pernah dekat waktu gua di UNF dan dia juga di UN hak asasi manusia. Sekarang udah engga” kata saya sambil lalu.