Tumbuh karena belanja dan utang.

Arsip Terupdate
Tumbuh karena belanja dan utang. Smart financial itu adalah jangan sampai untuk bayar bunga saja memenggal diatas 10% pendapatan anda. Misal anda, sebagai pegawai. Gaji sebulan Rp. 5 juta. Anda konsumsi lewat hutang dengan bunga setiap bulan Rp. 1000.000. Itu konyol namanya. Karena memenggal 20% dari pendapatan anda. Sampai mati anda tidak akan bebas secara financial. Sekali anda gagal bayar bunga, maka jangka waktu cicilan akan diperpanjang. Jadi bagaimana mengatasinya ? pahami bahwa anda hanya bisa berkembang dari peningkatan laba, bukan dari utang. Utang itu hanya alat leverage, bukan financial resource. Makanya pacu produktifitas. Kalau engga bisa, restruktur biaya secara smart. Hindari invisible cost seperti karyawan yang tidak bermanfaat terhadap growth ya PHK aja. Buang biaya tetap. Ganti dengan biaya variable. Contoh daripada punya kendaraan yang menelan biaya tetap supir dan maintenance, ya lebih baik jual saja untuk dapatkan uang tunai untuk tingkatkan produksi. Bayar sesuai kebutuhan lewat outsourcing/ sewa. Prinsip smart financial itu bukan hanya berlaku pada personal atau pada perusahaan, tetapi juga pada negara. Sama saja. Jangan terjebak dengan rasio utang terhadap Aset atau rasio utang terhadap PDB. Karena bayar bunga dan utang itu cash. Sementara asset atau PDB itu bukan cash. Aset dan PDB itu bernilai kalau anda punya putaran uang cash. Kalau cash flow terganggu, asset dan PDB jadi junk. Artinya kunci dan jantung dari sistem negara atau perusahaan adalah cash flow. Focus ke sana. Pahami itu Nah bagaimana tata kelola APBN kita. Mari kita lihat RAPBN tahun 2024. Walau rasio utang terhadap PDB 38%, masih lebih baik dari negara lain. Tetapi untuk bayar bunga tahun 2024 saja sekitar Rp. 500 triliun. Itu sama dengan 18% dari pendapatan negara yang sebesar Rp2.802,2 triliun. Pembayan bunga menempati pos anggaran terbesar dibandingkan pos anggaran sosial dan ekonomi lainnya di APBN. Apakah dengan struktur cost sebesar itu pemerintah lakukan langkah smart financial. ? Tidak. Justru pemerintah pacu pertumbuhan ekonomi dengan belanja diatas pendapatan, yaitu mencapai Rp3.325,1 triliun. Nah apa yang terjadi? bolong APBN sebesar Rp. 522,8 Triliun. Memang kecil kalau dibandingkan PDB yaitu dibawah 2%. Tapi dibandingkan pendapatan, itu mencapai 19%. Tahun 2018 saja, rasio utang terhadap pos penerimaan transaksi (Ekspor/impor) berjalan Indonesia mencapai 170%. ( Thailand saja hanya 40%). Artinya penerimaan 100 tapi bayar bunga dan utang sebesar 170. Konyol kan. Skema APBN ini sudah berlangsung puluhan tahun. Tidak ada perubahan. Trend nya dari tahun ke tahun, semakin besar nilai pos bayar bunga. Mengapa ? kita tidak berkembang karena produktifitas tetapi berkembang lewat spending pemerintah dan itu ditopang oleh skema utang. Utang dibayar lewat berhutang lagi. Jadi udah debt trap. Dampaknya mata uang kita terdepresiasi dan harga barang dan jasa terus naik. Yang miskin semakin sulit terangkat dan tentu lewat skema utang ini APBN longgar membuat orang kaya semakin kaya..ya kaya tapi songong. Engga tahu diri dan tak tahu malu. ##30 November 2023