KEK ALumina.
Setelah pelarangan ekspor bauksit pada Juni 2023, Kementerian Investasi/BKPM mengungkapkan pada akhir tahun ini atau awal 2024 akan ada dua fasilitas pemurnian (refinery) bauksit yang segera beroperasi. Tapi itu juga belum pasti. Ada 8 izin proyek smelter bauksit yang sudah dikeluarkan pemerintah, tapi kini masih berupa tanah lapang. Tahun 2019 saja, PT Inalum (Persero) bekerja sama dengan PT ANTAM Tbk., melalui anak usaha patungan mereka PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) berencana membangun Smelter Grade Alumina Refinery di Kalimantan Barat. Sampai sekarang belum juga jadi smelternya.
Mengapa pembangunan smelter Bauksit ini tidak secepat Nikel? Padahal SDA bauksit kita itu sangat besar. Kita produsen bauksit terbesar nomor lima dunia. Nilai ekonomi ? Nilai tambah untuk ingot saja mencapai 5,5 kali. Kalau masuk industri hilir seperti alumina slab, billet, dan rod, dan alloy ingor castin nilai tambahnya akan 32,2 kali. Kalau diolah lebih jauh, nilai tambahnya mencapai 115,8 kali. Potensi pasar industri downstream aluminium mencapai USD 2,2 triliun. Luar biasa memang.
Mengapa ? Kendalanya ada tiga hal. Pertama, Tidak tersedianya listrik yang murah. Karena ongkos produksi dari bauksit ke alumina memerlukan energi yang besar. 60% ongkos produksi adalah listrik. Kalau menggunakan fuel batubara jelas tidak feasible kecuali tenaga air. Tapi ongkos bangun PLTA besar sekali.
Kedua, investasi smelter alumina membutuhkan dana besar, sedikitnya USD 1 miliar untuk kapasitas yang layak. Kalau anggaran sebesar itu, tanpa ada dukungan listrik yang murah dan logistik yang efisien, ya engga ada investor mau keluar duit, apalagi bank.
Ketiga, umumnya investor Smelter alumina adalah pemain dalam industri aluminiun terpadu dan mempunyai jaringan market yang sudah established di tingkat hilir. Jadi sulit bagi pemain baru untuk masuk. Karena resiko market yang tidak pasti.
Bagaimana mendatangkan investor smelter alumina dan belajar dari kegagalan hilirsasi nikel, nah saran saya sebaiknya pemerintah membangun KEK di Kalimantan Barat dengan dilengkapi listrik PLTA dan pelabuhan berkelas dunia, serta dukungan logistik dari area penambangan bauksit ke pelabuhan feeder dan kemudian di kapalkan ke KEK Alumina. Kalau pemerintah lakukan itu, investor berkelas dunia akan datang dan saya yakin KEK di kalimantan barat itu akan berkembang menjadi kota industri yang modern lebih baik dari IKN dan kota lainnya.