Komponen di pecah

Arsip Terupdate
Seorang teman, staf ahli di kementerian, bertanya kepada saya saat makan siang. “Pak, kenapa banyak industri susu di Indonesia dikuasai asing?” Saya tersenyum. “Karena susu itu bukan sekadar bisnis pangan. Susu itu bisnis margin. Dan kalau ada bisnis dengan margin tinggi, arus kas stabil, pasar besar, dan konsumennya terus bertambah, jangan heran kalau investor global datang.” Dia mengernyit. “Maksud Bapak, industri susu itu dekat dengan hedge fund?” “ Ya.” “Karena marginnya besar?” “Bukan hanya besar. Marginnya bisa direkayasa lewat teknologi, formulasi, branding, dan segmentasi pasar.” Dia menatap saya lebih serius. “Coba jelaskan.” Saya mengambil iphad dan mulai menggambar skema sederhana. “Susu segar itu bukan satu barang tunggal. Di dalamnya ada air, lemak, protein, laktosa, mineral, dan vitamin. Kalau masuk pabrik, salah satu proses awalnya adalah separasi. Susu dimasukkan ke cream separator. Karena perbedaan berat jenis, lemak akan terpisah menjadi cream, sementara bagian rendah lemak menjadi skim milk.” “Terus?” “Satu liter susu segar bisa dipecah menjadi beberapa aliran nilai. Lemak masuk ke produk premium. Skim milk masuk ke produk volume. Whey dari proses keju bisa masuk ke sports nutrition. Laktosa bisa masuk ke industri makanan dan farmasi. Protein susu bisa masuk ke nutrisi medis, susu anak, atau produk tinggi protein. Semakin dalam komponen itu dipecah dan diformulasi, semakin besar nilai tambahnya.” “Berarti bagian paling mahal adalah lemaknya?” “Dalam banyak produk, iya. Lemak susu itu mahal karena memberi rasa, aroma, tekstur, dan mouthfeel. Dari cream bisa dibuat butter, whipping cream, cooking cream, ghee, anhydrous milk fat, es krim premium, pastry ingredient, cokelat, biskuit, dan produk bakery. Di situlah margin premium.” “Kalau skim milk?” “Nah, skim milk itu basis volume. Karena lemaknya sudah diambil, nilainya lebih rendah. Walau nilainya udah sampah. Jangan dibuang. Negara berkembang masih mau beli dengan harga mahal. Skim milk bisa dibuat susu rendah lemak, yogurt, susu bubuk skim, atau produk susu formulasi murah.” “Formulasi murah itu maksudnya dicampur bahan lain?” “Ya. Skim milk bisa dicampur dengan artificial produk seperti vegetable fat, milk protein concentrate, whey powder, vitamin dan mineral premix, stabilizer, emulsifier, gula, maltodextrin, dan flavor. Dalam skala mass production, biaya per unit bisa ditekan sangat rendah. Jadilah produk seperti filled milk, recombined milk, atau formulated milk.” Dia tersenyum. “Susu tapi bukan susu?” Saya senyum aja.. “Jadi pasar Indonesia gampang dimasuki?” “Bukan hanya gampang. Sangat menarik. Populasinya besar. Kelas menengahnya tumbuh. Orang tua ingin anaknya minum susu. Negara punya program gizi. Sekolah butuh suplai. Rumah sakit butuh nutrisi. Pabrik makanan butuh ingredient. Dari sisi investor, ini pasar yang luar biasa.” Dia lalu bertanya, “Berapa marginnya?” Saya tersenyum. “ Sekitar 400% dari harga pokok susu segar” “Maksudnya?” “Biaya bahan baku hanya satu bagian. Yang membuat harga jual tinggi adalah positioning. Produk dibuat seolah-olah ilmiah, sehat, modern, dan aspiratif. Ada riset nutrisi, ada klaim vitamin, ada kemasan premium, ada iklan ibu-anak, ada endorsement dokter, ada distribusi modern retail. Konsumen tidak membeli susu semata. Konsumen membeli rasa aman, harapan anak pintar, tubuh kuat, dan status sosial.” Dia terdiam. “Saya mulai paham. Jadi yang dijual bukan hanya cairan putih dalam kemasan.” Katanya. “Betul. Yang dijual adalah narasi nutrisi. Dan narasi itu sangat mahal.” “Kenapa investor finansial tertarik?” “Karena industri seperti ini punya karakter yang disukai financial investor. Pertama, cash flow stabil. Kedua, demand relatif defensif. Ketiga, brand menciptakan pricing power. Keempat, formulasi bisa mengatur biaya. Kelima, pasar negara berkembang masih tumbuh. Keenam, produk bisa diperluas ke banyak segmen: anak, ibu hamil, lansia, atlet, pasien, diet, diabetes, high protein, low fat, premium, murah, sampai produk sekolah.” “Jadi cocok untuk strategi yield?” “Ya. Investor seperti private equity atau hedge fund mencari return di atas instrumen aman. Kalau obligasi negara atau obligasi AAA memberi return rendah, mereka mencari aset yang bisa memberi yield lebih tinggi. Bisnis dairy dan nutrition bisa dikemas menjadi aset yang menarik, ya punya EBITDA, punya brand, punya distribusi, punya pasar berulang. Dari situ bisa dibuat leverage, refinancing, acquisition, roll-up, dan exit lewat IPO atau dijual ke strategic buyer.” “Jadi bukan cuma jual susu?” “Bukan. Ini financial engineering di atas consumer demand. Produk susunya di bawah, arus kasnya di tengah, valuasinya di atas.” Dia tertawa kecil. “Dan yang membayar semua itu negara berkembang seperti Indonesia? “ Ya karena mereka bodoh dan lebih percaya kepada persepsi market.” Jawab saya tersenyum. Di situlah masalah Indonesia. Kita punya konsumen besar, tetapi basis produksi susunya lemah. Peternak kecil. Produktivitas sapi rendah. Pakan mahal. Cooling unit terbatas. Kualitas susu tidak seragam. Akhirnya industri lebih mudah impor skim milk powder, whey, dairy fat, dan premix dari luar. Di dalam negeri tinggal blending, packaging, branding, dan distribusi. Dan itu difasilitasi oleh pemerintah.