Business model.

Arsip Terupdate
Business model. Mengapa Singapore begitu berani invest hanya satu terminal senilai USD 2 miliar ( bandingkan pembangunan terminal 4 bandara Soeta hanya USD 1 miliar). Mengapa Singapore mau keluar uang begitu besar? Engga takut rugi? Kalau anda pernah belajar new infrastructure business models anda akan paham bagaimana infrastruktur ekonomi dibangun di era sekarang. Bandara Changi itu dari awal di design sebagai Bandara Transit dari utara ke selatan dan Selatan ke utara. Menurut AOG, Bandara Changi, Singapura, bandara paling sibuk di Asia Tenggara. Perhari 3,16 juta penumpang. Walau jumlah penumpang perhari Bandara Soeta ( 3,08 Juta) sedikit dibawah Changi namun penumpang pesawat di Bandara Soeta sebagian besar penumpang tujuan akhir. Beda dengan singapore yang sebagian besar adalah penumpang transit. Artinya sebagian besar orang memang menghabiskan waktunya di Terminal. Beda dengan Indonesia dimana terminal hanya numpang lewat untuk keluar. Makanya business model Bandara Changi memang menjadikan terminal sebagai outlet shopping mall. Tentu agar membuat orang nyaman, design terminal dibuat modern dan mewah. Jadi apa sih itu business model? anda lihat itu bandara. Tapi bisnis nya bukan bandara tapi traffic penumpang. Size investment nya bukan pada fungsi bandara tapi fungsi outlet. Sama halnya MRT Hong Kong. Itu bukan bisnis angkutan kereta dan buss tetapi bisnis putaran uang cash dari sistem pembayaran octopus. MRT Hong Kong disubsidi oleh Octopus, bukan oleh pemda. Kereta cepat (HSR) di China dan jepang itu bukan semata bisnis jualan ticket kereta tapi juga bisnis real estate di jalur pelintasan kereta. Operator HSR subsidi ticket dari keuntungan kenaikan harga tanah di jalur kereta itu. Negara tidak subsidi apapun. Sama halnya dengan jalan tol di China. Itu bukan bisnis jualan toll fee tapi bisnis pengembangan kawasan. Tol disubsidi pengembang dari kenaikan harga tanah dan value kawasan. Sampai disini paham ya. Sayangnya di Indonesia pengetahuan business model tidak diajarkan di kampus. Literatur yang jadi rujukan konsultan perencanaan dan pemerintah masih menerapkan konsep jadul ya konsep kotraktor bukan konsep development. Makanya walau profesor yang bicara tetap aja keliatan puritan. Ya kurang baca aja..