Demokrasi…

Arsip Terupdate
Demokrasi… Mengapa demokrasi itu penting? tanya teman. Saya mengerutkan kening. Karena umumnya orang kalau bicara demokrasi selalu dikaitkan dengan pemilu dan kebebasan berbicara. Tapi ada yang harus disadari oleh kita semua. Sistem demokrasi itu tercermin dari fostur ekonomi kita. Perhatikan saja. Lebih 50% (data 2022 54,4 %) Produk domestik Bruto itu disumbang oleh sektor rumah tangga. Kemudian pembentukan modal bruto (PMTB) atau investasi ( swasta dan asing) terhadap PDB sebesar 30,81%. Sisanya belanja dan investasi pemeritah berkisar 6% dan 8%. Dari data diatas kita bisa paham ya. Bahwa ekonomi kita kuat bukan karena mayoritas peran pemerintah. Dari total belanja negara Rp3.090,8 triliun, sebesar Rp. 2.034,6 Triliun atau 65% berasal dari pajak dan cukai. Sisanya dari utang dan Pendapatan negara non pajak. Gimana dengan value kinerja pemerintah? Mari lihat data sektor keuangan. Total aset (2020) perbankan RI 59,5% terhadap PDB. Sementara itu negara lain yaitu Singapura mencapai 572,1%; Malaysia 198,6%; Thailand 146,6% dan bahkan Indonesia kalah dengan Filipina yang aset perbankannya mencapai 99,2% PDB. Dari sisi nilai kapitalisasi pasar juga Indonesia tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga lain. Rasio market cap pasar modal Indonesia hanya 48,3% PDB. Padahal negara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand rasionya di atas 100%. Bahkan rasio Filipina juga lebih tinggi atau hampir 2x rasio RI. Apa artinya? kalau mau ukur tingkat trust pemerintah, jangan lihat data tingkat kepuasaan yang dikeluarkan lembaga survey. Tapi lihat data kepercayaan nasabah pada bank dan pasar modal. Karena orang punya uang engga mungkin bisa diprovokasi oleh media massa dan sosial media. Semakin tinggi rasio aset perbankan terhadap PDB semakin tinggi trust pemerintah di hadapan publik. Mengapa trust pemerintah itu rendah sekali? karena korupsi. Indek korupsi kita buruk sekali. ICOR juga tinggi alias tidak efisien dari segi tata kelola anggaran. Berdasarkan riset yang dilakukan Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia meraih skor 6,71 pada Indeks Demokrasi 2022. Skor tersebut sama dengan nilai yang diperoleh Indonesia pada Indeks Demokrasi 2021, dan masih tergolong sebagai demokrasi cacat (flawed democracy). Politisi atau pejabat, seyogia jangan menepuk dada. Engga usah merasa lebih pintar dari rakyat. Anda tidak hebat banget. Mengapa ? Karena value intangible atau trust kalian rendah alias low credibility. Mereka kerja seperti supir pedati. Yang menggerakan roda adalah tenaga sapi. Bukan otak supir pedati. Supir pedati duduk manis bersiul sambil pecut sapi. “ Mereka memang tidak tahu diri.. udah numpang makan dengan rakyat, sombong lagi, terus minta dihormati berlebihan.” kata teman saya. Semoga paham, mari cerdas politik.