Cerdas financial

Arsip Terupdate
Cerdas financial Selama berumah tangga, saya tidak punya asuransi kesehatan. Kalau istri dan anak atau saya sakit apakah saya aman dari kewajiban biaya berobat ? Ya aman. Saya selalu ada uang untuk merawat keluarga sakit dengan layanan VIP. Ya pakai uang sendiri. Bukan karena saya punya harta berlebih. Tetapi itu cara smart saya menentukan pilihan soal income dan spending. Atau smart financial. Bagaimana caranya ? Waktu saya awal membangun bisnis. Semua saya handle sendiri. Tapi tetap saya hitung cost gaji saya sebagai direktur utama dan juga karyawan. Pengeluaran itu selalu saya sisihkan setiap bulan. Istri saya selalu menghindari biaya tetap untuk asuransi dan biaya angsuran pembelian barang. Kalau setiap bulan ada sisa uang gaji, ya istri saya tabung. Karena dia tahu sebagai pengusaha saya bisa saja bangkrut kapan saja. Tidak pernah ada cost personal dalam bisnis kecuali gaji yang saya terima. Sehingga akuntansi perusahaan tidak bias. Kalau ada laba dan belum cukup untuk modal pengembangan bisnis, ya saya tempatkan pada produk investasi yang likuid dan punya invisible income. Misal saya tempatkan di emas dan Tabungan bank. Saya tidak mungkin terjebak dalam invisible cost seperti beli kendaraan mewah yang tingkat penyusutan tinggi dan perawatan mahal atau beli rumah mewah yang butuh perawatan mahal. Atau punya selir. Saya focus aja ke bisnis dan mengembangkan modal dari laba. Dalam kondisi apapun saya hindari biaya konsumsi karena keinginan. Tapi untuk pendidikan atau kursus atau beli buku, biaya pergaulan menambah networking, beramal, tidak pernah ragu untuk konsumsi. Karena “ waktu” saya perlu berproses meningkatkan value pengetahuan dan spiritual. Tanpa konsumsi itu saya tidak akan siap berkembang. Bisa jadi laba yang terkumpul tidak bisa di leverage karena wawasan udah mentok dan rakus. Seiring berkembangnya usaha, saya mulai diversifikasi penggunaan laba. Tidak melulu di tabungan atau emas. Tetapi saya masuk ke passive income. Membeli asset keras yang kalau diutilize misal disewakan, bisa dapatkan income. Dan juga masuk ke portfolio business, seperti beli tanah untuk ditahan dan dijual lagi. Beli saham blue chip. Dari sana saya belajar bagaimana meleverage aset agar portfolio saya berkembang. Nah kalau terjadi bangkrut akibat ekspansi. Saya tidak sampai jual aset pribadi, Karena aset perusahaan terstruktur dengan sehat dan likuid. Itu sebagai sumber bayar kewajiban yang default. Secara personal saya tidak default. Karena aset perusahaan dan laba tidak pernah saya pakai untuk pribadi. Itulah buah smart financial planner. Dari itu semua, saya dapatkan hikmah luar biasa. Apa? Pengalaman bangkrut membuat saya bijak. Pengetahuan yang terus bertambah membuat saya penuh percaya diri. cerdas financial planner sudah mendarah daging, membuat saya tidak mudah frustrasi. itu adalah investasi yang bernilai tinggi untuk saya terbang lebih tinggi dan tinggi. Masuk usia 40 insting saya sudah terlatih, six sense saya sudah terbentuk. Dalam lima tahun saya mampu kembangkan bisnis di luar negeri. Besarnya 100 kali dari bisnis yang 4 kali bangkrut diusia emas saya. Dan puncak dari semua pencapaian bukanlah harta dan tahta, tetapi self-fulfillment yang memungkinkan beribadah lapang dan selalu ada waktu bersama keluarga dan sahabat. Kelemahan kita orang Indonesia, sangat tidak cerdas soal keuangan. Pegang uang seakan besok tidak ada hari lagi. Males berinvestasi pengetahuan. Merasa puas dengan ijazah yang ada. Rakus, sehingga males berproses yang butuh waktu tidak sebentar; Maunya serba instant. Serba tergantung denga orang lain. Akibatnya ditelan oleh waktu.