Revolving utang
Tahun 2025 , alokasi anggaran yang perlu disiapkan untuk pembayaran utang mencapai Rp1.350an triliun (lebih 1/3 APBN). Total utang jatuh tempo mencapai Rp800,33 triliun yang terdiri dari utang Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp705,5 triliun dan pinjaman Rp94,83 triliun. Dan bunga yang mencapai Rp552,9 triliun yang terdiri dari pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp497,62 triliun dan pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp55,23 triliun.
Setiap tahun pembayaran bunga terus meningkat. Pada 2020, pembayaran bunga utang hanya Rp314,1 triliun, lalu naik menjadi Rp343,5 triliun di 2021 dan 2022 naik lagi menjadi Rp386,3 triliun. Kemudian pada 2023 naik lagi menjadi Rp439,9 triliun. Pemerintah tidak punya masalah bayarnya. Karena pemerintah akan gunakan fasiltias revolving.
Nah apa yang akan saya bahas adalah skema penyelesaian utang lewat revolving. Arti revolving adalah utang bergulir. Singkatnya, saat jatuh tempo tidak di call oleh pihak kreditur tetapi mereka menerima tawaran dari debitur untuk dilanjutkan terus sampai batas waktu yang ditentukan oleh debitur.
Revolving dikenal dalam bisnis seperti Revolving loan facility ( RLC) dari bank untuk pembiayaan project. Yang sifatnya bisa ditarik partial sesuai kebutuhan dan membayarnya sesuai kemampuan. Jadi sebagai alat berjaga jaga. Ada juga Revolving LC. Utang dalam trade financing yang bila diconfirmed bank penerbit, itu bisa digunakan untuk modal kerja.
Nah dalam hal obligasi atau SBN, kalau direvolving itu atas dasar permintaan dari penerbit dan pihak investor setuju. Tentu dengan syarat yang menarik seperti bunga lebih tinggi. Caranya? bond lama ditukar dengan bond baru. Contoh pemegang bond seri A akan dibayar dengan bond seri B. Dan ada beberapa metode settlement untuk revolving.
Dengan cara revolving ini walau pemerintah bokek hutang bisa tunda bayar nya. Tentu asalkan bunga dibayar cash. Engga nunggak. Kalau bunga nunggak ya engga bisa revolving. Kelebihan Indonesia ya kredibilitas nya tinggi. Selalu patuh dan taat bayar bunga.