Main main kelola negara.
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan bensin di Indonesia termasuk rendah dibanding negara-negara anggota ASEAN kecuali Malaysia. Lebih murah dibandingkan China, Korea, Jepang. Apalagi Eropa. Kita bangga. Apalagi kalau dengar Menteri BUMN bicara betapa besar peran BUMN membantu negara.
Tapi bagi pedagang yang ngerti bisnis minyak. Senyum aja. Mengapa ? BBM yang kita konsumsi itu 10 kali polutannya dibandingkan negara lain yang sudah menerapkan standar euro dengan sulfur 50. BBM kita sekitar 500-600 sulfurnya. Jadi sebenarnya kita lebih mahal.
Contoh sederhana aja. Anda beli BBM dari Rusia dan iran. Kemudian anda blending untuk dapatkan kadar 500 PM sulfur. Itu bisa untung 3 kali lipat. Jadi andai engga disubsidi, tetap aja untung. Apalagi disubsidi, untung berlipat lagi. Mengapa ? karena memang bisnis di Indonesia itu enak. Rakyat nya bego dan pengusaha maupun pemerintah memang mental nya doyan begoin rakyatnya.
Harga beras di China, Singapore, Korea , Jepang, kita termasuk murah. Mayoritas mereka konsumsi beras premium dengan harga eceran Rp. 120.000/4 kG. Sementara Mayoritas orang Indonesia konsumsi beras second grade sekitar Rp. 12.000/kg. Mungkin yang makan beras premium hanya 1% penduduk, yang harganya sekitar Rp. 140.000/4kg.
Nah yang diekspor Thailand dan Vietnam, india, ke Indonesia, itu sebagian besar beras second grade, dengan harga CIF Rp. 9500/Kg. Murah? Ya karena kalau kita engga beli, mereka gunakan beras second grade itu untuk pakan ternak. Beras second grade itu memang bikin kenyang dan gula tinggi. Enak, bikin orang mudah kena diabetes dan kembung. Kita happy aja. Apalagi dapat beras bansos. Pemerintah bangga. rakyat tambah bego.