Membangun dan belaja

Arsip Terupdate
Membangun dan belajar. Kita memuji kehebatan Jokowi membangun infrastruktur Ekonomi. Hingga tahun 2022, total pembangunan tol telah mencapai 2.042 km, sedangkan pembangunan non-tol mencapai 5.515 km. Selain itu, pembangunan proyek bandara telah mencapai 16 bandara dan 38 bandara mendapatkan perbaikan. Pembangunan proyek pelabuhan juga dioptimalisasi dengan 18 pelabuhan baru dan sebanyak 128 pelabuhan mengalami perbaikan. 12 proyek bendungan yang telah selesai dan 27 bendungan akan ditargetkan selesai pada tahun 2024. Keren ya. Tapi pujian kita itu dibantah sendiri oleh Jokowi pada Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah, ( 27/5/2021) lalu. Apa kata dia? "Bangun pelabuhan, pelabuhan baru, nggak ada akses jalan ke situ. Ya apa-apaan? Gimana pelabuhan itu bisa digunakan. “ Apa artinya ? Jokowi mengakui kualitas perencanaan program pemerintah yang buruk. Misalnya saja pelabuhan yang mangkrak dan tidak memiliki akses jalan. Itu contoh kecil saja. Yang lain masih banyak. Paham ya. Sekarang saya mau gambarkan apa yang dikeluhkan Jokowi itu. Kita bangun KEK di Sei Mangkei. Triliunan uang dikeluarkan. Apa hasilnya ? hanya unilever doang yang bangun pabrik diatas lahan ribuan hektar itu. Mengapa ? engga ada jalan akses. Kemudian pemerintah bangun jalan toll dari Sei Mangkey ke Kuala Tanjung Port and Industrial Estate. Berharap dengan itu KEK akan ramai. Tapi apa yang terjadi? Tidak ada lahan untuk bangun kawasan pendukung logistik. Kalaupun ada lahan, harganya sudah mahal banget. Udah engga feasible. Hingga kini kapasitas yang terpakai sekitar 15% dari kapasitas multipurpose terminal yang sebenarnya sekitar 400.000 TEUs Kita bangun jalan toll di Bitung untuk akses ke KEK Bitung. Berharap ekonomi tumbuh. Tapi apa yang terjadi ? KEK yang luasnya l 534 hektar sampai sekarang sepi. Apa pasal? listrik enggak cukup untuk membangun pelabuhan ikan yang butuh kapasitas coldstorage besar. Akibatnya Jalan Tol Manado Bitung merugi. Sama juga dengan bangun jalan toll Sumatera sangat panjang. Tapi tidak tercipta pusat pertumbuhan ekonomi baru. Akibatnya pengelola tol sumatera semua merugi. Mengapa ? Semua tanah di kiri kanan toll sudah dikuasai boss sawit. Mana mau boss sawit korbankan tanahnya walau secuil untuk bangun kawasan industri. Apa hasilnya ? hampir seluruh potensi Poros Maritim Dunia dinikmati oleh negara tetangga yang justru bukan negara kepulauan seperti Indonesia, yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Saat ini, sekitar 90% kapal dunia lalu-lalang di Poros Maritim Dunia yang melalui perairan Indonesia, yakni 80% di Selat Malaka dan 10% lainnya melintasi Selat Makassar. Di Selat Malaka, jumlah kapal yang melintas lebih dari 100.000 dengan mengangkut 90 juta TEUs kontainer per tahun. Singapura dan Malaysia masing-masing mampu menyedot sekitar 40 juta TEUs, Thailand 10 juta TEUs, sedangkan Indonesia tidak lebih dari 1 juta TEUs. Capek hati engga? buan waktu dan buang uang. Pemerintah bangun terus pembangkit listrik, Kejar target. Kini PLN mengeluh karena kelebihan pasokan. Padahal yang kelebihan itu Jawa. Daerah lain masih kurang. Anehnya engga ada yang mikir bangun interconnection trasmisi listrik jawa-kalimantan, Jawa- Sumatera. Agar kelebihan pasokan bisa didistribusikan ke tempat yang kurang. Pemerintah keluar uang puluhan triliun bangun bendungan dan irigasi, tapi harga pupuk mahal dan subsidi pupuk dicabut. Produksi petani jeblok. Kita terpaksa impor beras. Lantas untuk apa bangun bendungan dan irigasi begitu mahalnya? Ya useless. Jokowi itu tipe pemimpin yang fasilitator, bukan tipe kepemimpinan strategis. Dia sibuk banget dan setiap hari dia bertemu banyak orang. Bahkan kelas buzzer dan influencer dia openin. Apapun dia meeting kan. Dia tidak terlalu ambil pusing dengan pemborosan dan kualitas. Yang penting engga mangkrak. Apa yang terjadi? proses pembangunan tidak melahirkan proses belajar, dan bahkan menimbulkan instrik yang merugikan visi kepemimpinan itu sendiri. Sebenarnya gaya kepemimpinan Fasilitator itu harus punya anak buah seperti Ahok, Jonan, yang jago soal POAC.