Ada teman cerita sedang berusaha dapatkan akses untuk jadi direksi BUMN. Dia sekarang staff ahli kementrian dan punya keneksi kuat ke ring kekuasaan. “ Sebagai teman saya nasehati kamu. Mending tetap di kementrian. Keahlian kamu diperlukan untuk membantu pemerintah membuat kebijakan yang tepat. “ Kata saya.
“ Ah percuma, Nyatanya setiap advice saya tidak didengar. Bahkan sejak jadi team ahli engga pernah tuh diajak bicara oleh menteri.” Kata teman menggerutu. “ Kenapa lue sampai underestimate dengan kemampuan saya ? Tanya teman.
“ Saya tanya sekarang. Jelaskan ke saya tentang business model” Kata saya. Dia menjawab dengan serangkaian referensi dan teori ekonomi. Saya tersenyum. “ Kenapa kamu tersenyum.?
“ Teori kamu itu udah jadul. Business model sekarang udah menggabungkan value engineering dan social engineering. Market tidak lagi dicari tetapi diciptakan. Prilaku konsumen tidak lagi di bahas untuk menjangkau pasar, tetapi diubah agar semakin mudah menguasai pasar. Uang tidak lagi jadi raja sehingga harus dipatuhi syarat dan ketentuannya, tetapi jadi pelayzn untuk ikuti arah dan kemuan bisnis” kata saya.
“ Terusss.”
“ Ya panjang banget kalau dijelaskan secara detail. Tetapi intinya adalah Money follow business. Bukan business follow money” Kata saya.
“ Bisa beri contoh ..”
“ Dulu business airplane adalah business premium yang hidup dari ticket dan gaya hidup mewah. Tetapi berlalunya waktu, gaya hidup mewah berubah menjadi gaya hidup efisien. Ticket pun menjadi murah. Atau dikenal dengan LCC, low cost carrier. Jumlah penumpang meningkat. Labapun meningkat.
Kemudian jumlah pesawat diproduksi terus bertambah. Harga pesawat meningkat, harga avtur juga meningkat. LCC berubah menjadi LCL Atau low cost logistik. Airlane tidak lagi hidup dari jualan ticket tetapi menjadi bagian dari ekosistem ecommerce. Ticket hanya jadi supplementary business saja. Kira kita begitu’ Kata saya.
“ Duh artinya business model itu terus berubah. Apa jadinya kalau kita tidak mengikuti perubahan ? bisa digilas oleh perubabhan itu sendir. Itu baru airplane. Belum lagi yang lain ya” Katanya. Saya mengangguk.
“ Contoh lain lagi apa ?
“ Dulu jalan umum diperlukan untuk koneksitas antara kota dan wilayah yang sudah ada. Lambat laun, kota dan wilayah semakin padat. Perlu ada pusat ekonomi baru dengan minimum jaraknya denga kota yang sudah ada yaitu 100 Km. Namun membuka pusat ekonomi baru tidak mudah. Disamping anggaran negara terbatas, juga keahlian pemerintah terbatas,
Maka perlu libatkan keahlian swasta menjadikan kota itu kota mandiri. Tapi kota mandiri itu perlu jalan akses menghubungkan ke kota lain. Maka pemerintah memberikan konsesi jalan tol, yaitu jalan komersial. Jadi jalan tol itu adalah business model pembangunan pusat ekonomi baru, walau melintasi kota lainnya namun core nya tetap kepada pusat ekonomi baru. Laba didapat dari peningkatan harga kawasan dalam business property, bukan hanya dari tarrif. Itu yang terjadi di China dan Malaysia.” Kata saya.
“ Wah memang keliatan sederhana, Tetapi memahaminya tidak mudah.” Kata Teman.
“ Ya kamu harus belajar teori tentang value engineering dan social engineering. Nah dari sana bisa ditentukan business model yang tepat. Kemudian agar uang follow business, ya create financial engineering. Cobalah. APapun itu pasti make money.” kata saya.
“ Tapi kuncinya memang betul kata kamu, perlu kemampuan literasi. Maksudnya bukan hanya focus kepada pengetahuan yang ada tetapi juga mau membuka diri belajar dari pengetahuan diluar kita. Itulah kekurangan pemerintah. Merasa udah benar tetapi salah.” Katanya. Saya mengangguk.