KEMBALI
Dashboard.
Bolshevik
Arsip Terupdate
Sejarah lebih sering mengingat Revolusi Rusia melalui Lenin, Trotsky, dan kaum Bolshevik. Padahal revolusi yang menjatuhkan Tsar Nicholas II pada Februari 1917 tidak bermula dari pidato Lenin ataupun rapat partai. Ia bermula dari dapur-dapur yang kosong. Musim dingin 1916–1917, Rusia sebenarnya belum kehabisan gandum. Namun Perang Dunia I telah menyerap lokomotif, gerbong, batu bara, dan tenaga manusia. Kereta api lebih dahulu mengangkut pasukan, senjata, serta amunisi ke medan perang. Tepung terlambat mencapai Petrograd. Harga bahan pangan melonjak lebih cepat daripada upah. Bagi pemerintah, keadaan itu merupakan persoalan inflasi dan distribusi. Bagi seorang ibu, itu berarti anaknya tidak makan. Pada 23 Februari 1917 menurut kalender Rusia—8 Maret dalam kalender Gregorian—perempuan-perempuan pekerja tekstil di Distrik Vyborg meninggalkan pabrik. Hari itu bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Mereka bukan ahli teori revolusi. Sebagian besar tidak pernah membaca Marx. Mereka hanya tidak sanggup lagi berdiri berjam-jam dalam antrean untuk pulang tanpa membawa roti. Ketika gerakan itu pecah, Lenin masih berada dalam pengasingan di Swiss. Bahkan sebagian aktivis sosialis di Petrograd menganggap pemogokan tersebut terlalu dini dan tidak terorganisasi. Namun sejarah tidak selalu menunggu kaum terpelajar menyelesaikan teorinya. Anak-anak yang lapar tidak dapat diminta menunggu sampai partai memutuskan bahwa keadaan telah matang untuk revolusi. Pemerintah mengirim polisi dan tentara. Beberapa pasukan sempat menembaki demonstran. Ketika ada emak emak terkapar diterjang peluru. Para pria dan Ayah bangkit melawan. Bagi mereka, emak adalah kehormatan yang tidak bisa ditawar. Para serdadu juga memilih tidak mengarahkan senjata lagi kepada demontran. Lenin baru kembali ke Rusia pada April 1917. Beberapa bulan kemudian, kaum Bolshevik merebut kekuasaan dalam Revolusi Oktober. Mereka membawa organisasi, strategi, dan kepemimpinan untuk mengarahkan api revolusi. Karena akhirnya menang, mereka juga memperoleh kekuasaan untuk menentukan bagaimana sejarah diceritakan. Lenin menjadi wajah revolusi, sedangkan para perempuan pekerja yang menyalakan percikan pertamanya perlahan tersingkir dari ingatan. Bolshevik memang menguasai revolusi. Namun mereka tidak menciptakan apinya.