Saya diskusi dengan Ira tadi sore. Ya sekedar menanti waktu jam 7 malam untuk pulang. Ada Paslon terjebak dalam populisme. Jualan program untuk dapatkan suara. Jualan kartu untuk orang miskin. Jualan untuk wanita hamil. Jualan untuk anak indonesia makan gratis. Gimana pendapat kamu? Tanya Ira.
“ Semua itu ongkos yang berasal dari uang rakyat. Bukan uang nenek mereka para paslon. Resiko belanja populis itu rakyat juga menanggung lewat harga dan jasa publik service yang terus naik. Sementara utang terus bertambah dan ruang fiskal terus menyempit. Artinya power APBN itu semakin melemah untuk ekspansi sosial. Kan pepesan kosong akhirnya. Itu hanya cara untuk meningkatkan eletronal. Ya teknik menipu rakyat bego” kata saya.
“ jadi, masalah substansi misi seorang presiden itu apa ? tanya Ira. Saya tersenyum dan udut rokok. Seruput kopi. Saya diam saja. “ Ale , apa masalah substansi itu?
“ Nanti gua jelaskan, lue bilang ah itu biasa saja. Kan tetap aja gua nothing di hadapan lue yang S3. Ogah “ kata saya. Dia tabok bahu saya.” Cepatat jelasin aja.” Desaknya.
“ Ya kalau engga mau pepesan kosong ya jangan ada beban bayar cicilan hutang dan bunga pada APBN. Nah kalau itu dilakukan, ruang fiskal kita melebar dan silahkan bicara populisme. Bagi bagi kartu” Kata saya. “ Gimana caranya bayar utang, Pendapatan APBN terus kan defisit.” sergah ira.
Ya jangan pakai APBN kalau pendapatan defisit. Gunakan diluar APBN. “ Kata saya.
“ Ya apa dan gimana bayar utang tanpa APBN? desak Ira.
“ Pernah dengar Debt Swap for Climate and environment ?
“ Pernah. Kan itu program world bank dan IMF. Di advokasi oleh OECD. Tapi gua bingung gimana implementasinya dan terbukti sampai sekarang pemerintah kita engga juga ngerti gimana melakukan Debt Swap. Katanya repot ya? Kata Ira. Saya senyum. “ Jelaskan secara sederhana operasional Debt swap itu” Desak ira.
“ Ok, Kata saya.” Contoh kita punya hutang lewat SBN katakanlah Rp. 1000 triliun. Utang ini bisa di swap dengan anggaran investasi yang dikeluarkan APBN untuk perbaikan kesehatan masyarakat seperti penyakit stunting, perbaikan lingkungan misal restorasi kawasan tambang yang rusak, mengganti fuel pembangkit listrik dengan fuel ramah lingkungan, menghutankan kembali lahan kritis. Jadi ekspansi APBN tidak terganggu sementara utang bisa lunas tanpa harus bayar. Itu namanya SWAP.”
“ Dari mana sumber dananya untuk SWAP itu ?
“ Saat sekarang dananya bersumber dari Fllintropi Fund, yang setiap tahun terkumpul sedikitnya USD 500 miliar di dunia. Ada juga Credit Carbon. Potensi pasar karbon untuk indonesia saja mencapai Rp. 8000 triliun.”
“ Skemanya gimana ?
“ Ya tidak dalam bentuk cash direct. Misal sumber dana philantropi, itu lewat pembelian surat utang negara debitur dan negara debitur bisa buy back dengan diskon sampai 90%. Dalam hal dana credit carbon, itu didapat dari bursa karbon di seluruh dunia” kata saya.
“ Wah sederhana ya cara lunasi hutang?
“ Ya sederhana. Tetapi standar kapatuhan terhadap program Debt Swap itu yang tidak sederhana. Karena menuntut kesediaan negara debitur untuk melaksanakan demokrasi dengan jujur dan adil. Tidak boleh ada nepostisme dan apalagi politik dinasti. Patuh kepada standar HAM, dan program sustainable growth yang bertumpu kepada linkungan, investasi yang berdampak luas kepada kehidupan sosial masyarakat dan pemerintahan yang menjaga moral dan etika atau pemerintah yang berakhlak.” kata saya.
“ Oh paham gua.Mengapa penting sekali etika dan moral atau goood governance itu ya. Tapi itu yang sulit kita delivery. Kita memang punya segala galanya, yang langka itu etika dan moral. Ah sama saja solusi yang bukan solutif. Capek dah. “ Kata ira Saya senyum aja. “ Ale, kata Ira. “ Kan hampir semua negara berhutang. Terus yang menyediakan dana filantropi dan cerdit carbon itu siapa?
“ Ya private, mereka yang menguasai sumber daya keuangan global, terutama pemain hedge fund. 80% dana filantropi dan Credit carbon berasal dari mereka. “ Kata saya.
“ Mengapa mereka mau keluar uang bayar utang negara?
“ Karena cinta!
“ Termasuk traktir makan janda yang S3 seperti gua ini ya, sambil mencerahkan agar menjadi bagian kampanye perbaikan standar moral dan etika. “ kata Ira. Saya senyum aja. " Tepatnya karena kamu GAMA dan gemesin." kata saya.