Jadi mentor.
Tahun 2014 ada anak muda datang ke saya. Ketemu di cafe. Dia wanita. Usia sekitar 25 tahun. Insinyur TI dari salah satu PTN. Namanya Tiara “Saya baca tulisan bapak di blog tentang financial engineering. Boleh saya belajar dari bapak.”
“ Saya tidak punya latar belakang akademisi dan juga tidak pernah masuk universitas. Jadi kalau kamu mau belajar dari saya, pasti gaagl. “ kata saya dengan nada datar.
“ Bapak arahkan saja saya. Selanjutnya saya cari sendiri. “ katanya tersenyum. Saya diamkan saja. Saya terus baca news lewat Smartphone. Di depan saya ada kopi dan pisang goreng. Dia sendiri tidak pesan apapun dengan waitress. Saya tatap dia sejurus.” Kamu engga pesan minum”kata saya mengerutkan kening.
“ Engga apa apa pak. Saya nanti aja. Saya hanya mau ketemu bapak aja.”
“ Kan udah ketemu saya. Ngapain lagi kamu duduk depan saya?
“Saya janji engga akan ganggu waktu santai bapak” katanya. “ Saya barusan pulang kantor “ Lanjutnya. Ya udah. Saya lanjutkan lagi dengan smartphone saya.Dan dia terus mematung depan saya. Tidak sibuk dengan hape.Sepertinya dia memang focus ke saya. Wah hebat nih cewek. Militan sekali. Pasti di benak dia, sebelum datang sudah tinggi sekali fantasinya.
Kemudian saya perlihatkan link web. “ Buka web ini.” kata saya. Dai segera buka lewat hapenya. “Ya pak. Ini holding business bidang infrastruktur ya pak? Udah TBK. Sekarang saham publik hanya 10%. Harga Rp. 90/lembar. “
“ Ya. Coba kamu buat analisa kemungkinan akuisisi sahamnya sampai 40%. Kata saya. Dia mengaggung dengan sikap sempurna.
“ Ada empat aspek yang harus kamu pahami. “ Lanjut saya. “ Pertama, Masalah fundamental bisnisnya. Kedua, Portfolo investasi. Ketiga, Motif dan prilaku pemegang sahan pengendali. Keempat, profile hutangnya. “ kata saya. Dia catat dengan baik di notepad nya.
***
Dalam seminggu dia minta ketemu saya’ Pak saya sudah selesai dengan analisa saya. Katanya.” apa bisa ketemu?
“ Ya udah. Jam 7 di cafe pavorit saya’. Tapi kirim analisa kamu itu ke email saya sekarang”
Tepat jam 7 dia datang. Wajah saya masam. “ Kamu mengambil data dari internet ya?“
“ Ya pak. “
“ Makanya sampah.” kata saya.“ Terus dengan hanya otak atik data yang tersedia di internet kamu merasa udah capable?
“ Ya Pak Maafkan saya.”
“ Udah saya bilang. Saya bukan dosen kampus kamu. Yang mengajarkan mahasiswa dengan standar normatif. Dunia bisnis apalagi dunia hedge fund bukan dunia normatif. “ kat saya.
Saya pandang dia sejurus. “ Apakah kamu masih mau belajar ?
“ Ya pak,”
“ Perbaiki analisa itu. Jangan ketemu saya lagi kalau kamu belum selesai analisanya.” kata saya.
“ Ya pak.”
“ Ya udah. Kamu boleh pergi” kata saya.
***
Tiga bulan kemudian, dia telp saya. “ Pak maaf. Boleh ketemu bapak?
“ Kirim via emal laporan analisa kamu. Kalau bagus kita ketemu, Kalau engga, engga usah ketemu” kata saya. Tak berapa lama dia kirim email. Saya baca cepat. Dan “ bang..go. “ Saya tersenyum puas. Dia dapatkan data insider dari stakeholder perusahaan itu. Pasti effort luar biasa dan beresiko. Saya langsung telp dia. “ ketemu di grand hyatt cafe. “ kata saya. Benarlah jam 7 dia sudah sampai.
“ Kamu berangkat ke Singapore. Ketemu dengan team lawyer saya. Dia akan atur segala sesuatunya untuk kamu qualified akuisisi 40% saham perusahaan TBK itu.” kata saya menyerahkan kartu nama saya dan saya tanda tangani dibelakang. “ Mereka akan call kamu untuk siapkan ticket dan akomodasi kamu selama di Singapore. Saat ketemu mereka berikan kartu nama saya ini. Paham." Lanjut saya.
“ Maksud bapak? Langsung praktek?
“ Emang kamu kira saya becanda. Dari awal saya udah bilang saya bukan dosen. Mau ? kalau engga, ya udah” kata saya.
“ Mau mau pak”
***
Proses berlangsung 4 bulan dari sejak persiapan, pendirian SPAC, penawaran, negosiasi, teken MOU, teken MOA dan Financial clossing. Selama proses itu saya tidak pernah intervensi dan tidak pernah lagi ketemu dia. Setahun kemudian setelah akuisisi, sebelum right issue saya exit lewat private placement ke investment holding di Singapore dengan untung 4 kali lipat. Tiara keluar. Team saya di Singapore beri dia bonus USD 3 juta. Setelah itu Tiara ketemu saya di jakarta.
“ Tiara engga mau lanjut belajar financial engineering. Engga mau..” katanya dengan mata berlinang. Saya senyum aja.
“ Jahat sekali pak. Nurani Tiara tidak bisa terima..” Lanjutnya.
“ Ya udah. Kamu lanjutkan hidup kamu. Gunakan uang USD 3 juta itu untuk hidup idealis. Jaga diri baik baik ya.”
“ Tapi Tiara mau terus berteman dengan bapak” katanya.
“ Saya terlalu tua untuk jadi teman kamu. Udah. Kamu harus yakin bisa dapatkan pria sebaya dengan kamu. Kamu cantik, terpelajar dan cerdas. Pasti hanya pria hebat yang akan jadi jodoh kamu” kata saya. Diapun berlalu.