Menurut bappenas, ekonomi inklusif sebagai pertumbuhan ekonomi yang menciptakan akses dan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi kesenjangan antar kelompok dan wilayah.
Pengertian vulgarnya, Perekonomian inklusif adalah sistem ekonomi yang mencakup semua orang, tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras/etnis, pencapaian pendidikan, latar belakang pribadi, status disabilitas/kemampuan, atau sifat lainnya, dan menghormati peran individu sebagai pekerja, tanggungan, pelajar, anggota keluarga. , pengusaha, dan pemilik bisnis.
Perhatikan definisi Inklusif ekonomi tersebut. BIsakah anda memahaminya dan kemudian menentuk metodelogi cara menerapkannya. Saya engga yakin pemerintah paham cara implementasinya. Memikirkan secara sederhana aja tidak bisa. Engga percaya?. Kalau pemerintah paham, engga mungkin pemerintah lakukan intervensi soslal lewat APBN dalam program keluarga pra sejahtera berupa subsidi dan Bantuan langsung tunai. Tidak mungkin ada istilah quota impor dan rente lainnya.
Ada empat hal komponen Ekonomi inklusif itu. Pertama, adalah pendidikan. Bukan hanya pendidikan formal tetapi juga informal bagi siapa saja, pengakuan pendidikan bukan pada ijazah tetapi skill dan kompotensi. Kedua, akses ke lapangan kerja baik formal maupun informal dengan upah sesuai standar pemerintah. Ketiga, akses kepada sistem perbankan, yang memungkinkan setiap orang dapat layanan perbankan. Kempat, kewirausahaan yang tumbuh karena tidak ada rente dan monopoli. Kelima, berhak mendapatkan akses informasi seluas luasnya.
Masih belum paham?. Mari kita lihat contoh sederhana aja di China yang sudah menerapkan ekonomi inklusif sejak tahun 2008. Supir taksi itu dijamin pendapatannya sesuai UMR. Kalau dibawah itu pendapatannya, pemerintah toput otomatis. Mengapa? Karena pelayanan publik seperti angkutan umum itu adalah tugas negara. Tidak boleh supir taksi harus berkorban demi pelayanan publik. Jadi walau supir taksi itu bukan PNS namun dia diperlakukan seperti PNS juga.
Petani itu bekerja untuk memenuhi jaminan pangan nasional. Tugas itu sebenarnya ada pada negara. Nah kalau panen petani gagal, ya pemerintah harus bailout. Kalau pendapatan petani dibawah UMR ya pemerintah harus topup.
Nah kalau pendapatan supir taksi itu diatas UMR, ya pemerintah senang. Tidak perlu topup. Kalau panen sukses dan pendapatan Petani diatas UMR yang pemerintah senang. Engga perlu topup.
Pada kenyataannya karena semua sektor menerapkan ekonomi inklusif, yang terjadi adalah proses emansipasi pembangunan berbasis komunitas semakin menguat dan sinergi terjadi dengan sendirinya. Peran pemerintah semakin berkurang. Justru yang muncul adalah kekuatan jaring sosial ditengah komunitas. Itulah demokrasi ekonomi sesungguhnya. Sistem bekerja dengan sendirinya. Orang engga penting lagi siapa presiden. Karena yang berkuasa adalah sistem dan itu ada pada rakyat, atau komunitas. Nah program ekonomi inklusif inilah yang akan diterapkan GAMA kalau terpilih.
Ekonomi inklusif di cina
Menurut data FAO, produksi mangga global sekitar 54,83 juta ton pada tahun 2020, dengan luas tanam melebihi 55 juta hektar. Mangga memiliki rasa yang unik dan aroma yang sedap serta mengandung beragam nutrisi. Buah ini sangat populer di kalangan konsumen dan secara bertahap berkembang menjadi buah tropis kedua yang paling banyak ditanam dan dikonsumsi di dunia
Nah yang menarik adalah cara Tiongkok membangun ekonomi iklusif pedesaan. Mereka tidak berusaha menguasai semua jenis buah buahan. Tetapi focus kepada beberapa buah buahan yang bisa dikembangkan saja. Diantaranya adalah Mangga. Ternyata diam diam program pengembangan itu sudah dilaksanakan oleh China Academic Science lewat riset varietas buah buahan, diantaranya Mangga. “ Mengembangkan varietas baru adalah proses jangka panjang, dibutuhkan waktu sekitar 12 hingga 15 tahun” Kata teman di Beijing. “ Itupun belum tentu sukses” Lanjutnya.
Tiongkok butuh waktu 20 tahun riset itu. Hasilnya tahun 2014 Tiongkok tebarkan Varietas mangga tanpa biji ( Seedless ) itu kepada rakyat di pedesaan. Awalnya buah mangga itu ukuran kecil dan tidak begitu manis. Tetapi terus dikembangkan. Kini sudah berukuran besar dan sangat manis. Walau kebun mangga itu dikelola oleh rakyat namun dikelola dengan mindset industri. Dan itu berkat ekonomi inklusif yang diterapkan dalam program revitalisasi ekonomi desa.
Apa yang terjadi kemudian? Proses produksi sejak tanam, perawatan, panen, paska panen, downstream industri dan ekspor, dilakukan secara inklusif. Kendala serius seperti ongkos logistik refrigerator yang mahal, pembusukan dan penurunan kualitas paska panen, dan delay masuk ke pabrik pengolahan, tidak lancarnya likuiditas, penurunan harga panen, dapat dihilangkan. Rata rata petani mangga punya penghasilan bersih setahun RMB 300.000 atau Rp. 600 juta atau perbulan Rp. 50 juta. Dengan itu petani jadi makmur dan agro industri tumbuh bergairah.
Tiongkok secara bertahap berkembang menjadi produsen mangga terbesar kedua di dunia setelah menyelesaikan kampanye pengentasan kemiskinan dan promosi strategi revitalisasi pedesaan tahun 2013. Pada tahun 2020, luas areal budidaya mangga Tiongkok mencapai 349.000 hektar dengan hasil sebesar 3,306 juta ton.
Begitulah. Apapun usaha harus berdasarkan sains. Apapun keputusan harus berdasarkan data dan sains. Enggga bisa hanya dengan retorika, bagi bagi dana desa dan makan siang gratis. Karena rakyat itu bukan budak yang menadahkan tangan atau anjing peliharaan yang mulut menganga lidah terjulur. Mereka perlu dukungan sains dan intervensi negara dalam hal ekonomi inklusif. Itu aja. Tanpa itu, semua omong kosong. Saya engga yakin elite dan pemimpin paham cara implementasikan ekonomi inklusif.