KEMBALI
Dashboard.
Pertamina tidak paham trading
Arsip Terupdate
## Apa yang Terjadi Sejak Tahun Ini? Sejak tahun ini, Pertamina membeli minyak dari luar negeri melalui **dua jalur**: 1. **Direct** ke produsen minyak 2. **Lelang** di Singapore Sekilas terlihat efisien. Prakteknya? **Justru sebaliknya.** Kesulitan mendapatkan: - Angkutan yang murah - Harga yang murah ### Mengapa? Untuk bisa deal dengan produsen dan trader di luar negeri, Pertamina harus bertindak sebagai **aggregator berkelas dunia**. Artinya harus punya: - Angkutan sendiri - Data management harga yang solid - Kontrol hedging lewat *future trading* dan *spot* **Hal-hal tersebut Pertamina lemah — bahkan tidak memiliki kapabilitas.** --- ## Kunci Masalahnya: Likuiditas USD Likuiditas USD adalah masalah besar. Kita lagi hemat valas. Bayangkan: > **Kebutuhan valas Pertamina per hari: USD 60 juta** Bukan angka kecil. Kalau dipaksa, bisa memberi tekanan pada rupiah. ### Perubahan Sistem Pembayaran | Dulu | Sekarang | |------|----------| | Bayar pakai **Rupiah** | Harus **cash pakai valas** | | Bayar **3 bulan** setelah barang sampai | Harus bayar di muka / cash | Sementara stok terus menyusut. **Apa tidak bingung mereka?** --- ## Ironi yang Lucu Lucunya, yang punya ide mengusulkan sistem ini ke Pemerintah kini **pura-pura bego**. > *"Kalau enggak ada duit ya jangan beli."* Saya hanya tersenyum. Membayangkan betapa bodohnya mereka mau saja dikerjain oleh petualang.