KEMBALI
Dashboard.
PS Smart kah
Arsip Terupdate
Sebelum masuk istana dan setelah menang pemilu. PS panggil SMI datang ke rumahnya. Mereka bericara lama. Apa yang ingin diketahu oleh PS. Sederhana aja. *Berapa saldo utang sampai dengan akhir jabatan Jokowi. Berapa bayar bunga dan cicilan utang per tahun. Berapa maksimal penerimaan negara setahun.* Dengan mengetahui itu dia sadar bahwa dia sudah masuk **on trap.** Tapi okay lah. Dia sadar bahwa dia naik berkat dukungan pemodal dari oligarki. " *Bapak tenang saja. Soal anggaran kurang, kita bisa atur. Di luar negeri kita punya uang lebih dari Rp 10.000 triliun. Utang bukan masalah. Yang penting kita dekat dengan AS dan jangan musuhi israel* " Kira kira begitu kata oligarki. Dia tidak percaya begitu saja. Dia butuh kepastian mereka mendukung pembiayaan APBN. Caranya? " *Bapak buat Danantara, dan dari sana uang kita di luar negeri sebesar Lebih Rp. 10.000 triliun itu bisa dibawa pulang. Semua mudah semudah menjentik jari.*" Diapun bentuk Danantara, dengan dewan penasehat termasuk Jokowi, SBY, dan Mantan PM Inggris, bahkan Hedge fund trader seperti Ray Dalio. Tentu dewan direksi dipilih oleh dia sendiri namun yang tentukan team oligarki yang ada di ring kekuasaan. " *Nah setelah ini, bapak hibur rakyat dengan makan siang gratis dan koperasi desa. Itu aja. Soal uang itu urusan kami.*" Setelah setahun lebih berkuasa, janji Danantara akan bawa duit masuk ribuan triliun tak kunjung terealisir. Selalu dapat janji entar. Lama lama dia mulai kesal. Karena defisit APBN engga bisa dibayar dengan janji "entar". Itu harus dengan uang cash. Dia mau marah juga sulit. Karena sudah terlanjur janji besar ke rakyat, sementara kenyataan utang dan bunga harus dibayar. Duit cekak. Kemudian Poerbaya usulkan pinjam uang ke China, dengan syarat tentunya jauhi AS dan Israel. " Okay engga ada masalah." kata PS, yang penting dapat likuiditas. Tapi ternyata China engga bantu banyak. Ya hanya secuil, itupun lewat **Panda bond.** Walau bunga kecil tetapi premium gede banget. Bingungkan. Ya udah pecat aja menterinya, ganti lain. Sekarang pihak yang menjanjikan banyak sebelumnya pada sibuk mau persiapan pemilu tahun 2029. Engga ada urusan dengan janjii sebelumnya. Mau di reshuffle, mereka engga peduli. EGP aja. Bagi mereka, 2 tahun di ring kekuasaa udah cukup modal untuk tarung di 2029. Sementara ekonomi semakin bergerak ke arah jurang resesi dengan situasi kini sudah **stagflasi**. Nah dalam situasi seperti itu, apa sikap PS? Excuse dengan lakukan serangan brutal. *To kill to be killed* atau terima kenyataan diri sebagai loser. Silahkan pendapat anda.