Apa resikonya

Arsip Terupdate
Saya sedang membuat kopi di minibar ketika Win masuk ke ruang kerja di safe house. Jam 5.20 sore. “Pak, mau makan apa?” tanyanya. “Saya makan malam di rumah. Istri saya udah nunggu" kata saya. " Ibu florence S3. Ibu Wenny, S3, Semua team Ale capital seperti mbak lastri, Mia, Monice, Suci, S3 semua. Wanita hebat disekitar bapak. Cantik semua" Kawa Win. " Kamu juga S2 kan, cantik juga " kata saya. Win mengangguk dan tersenyum. Ia lalu duduk menemani saya berbincang sambil menunggu waktu salat Magrib. Ia tahu kapan harus bertanya, kapan cukup mendengarkan, dan kapan meninggalkan ruangan. Tahu diri. Sederhana, tetapi tidak semua orang memilikinya. Saya memang hanya tamatan SMA. Namun, itu tidak membuat saya apriori terhadap kaum terpelajar. Justru saya sangat menghormati mereka karena saya tahu menjadi sarjana bukan perkara mudah. Saya sendiri pernah mencoba dan gagal. Karena itulah, ketika membangun perusahaan, saya selalu memilih orang-orang yang lebih pintar daripada saya. Mereka terdidik, kompeten, dan sebagian besar bahkan bergelar doktor. Saya tidak pernah merasa terancam oleh kecerdasan mereka. Sebaliknya, saya membutuhkannya. Cara berpikir orang tamatan SMA seperti saya relatif mudah dipahami oleh kaum terpelajar. Ketika saya meminta pendapat, mereka dapat menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang bisa saya mengerti: apa risikonya, di mana peluangnya, dan keputusan apa yang paling masuk akal. Dari merekalah saya memperoleh sandaran agar keputusan bisnis tetap berada dalam koridor ilmu pengetahuan, bukan sekadar mengikuti firasat atau keberanian yang membabi buta. Kelebihan saya mungkin hanya satu: saya mempunyai nyali untuk mengambil keputusan berdasarkan masukan mereka. Barangkali justru di situlah kelemahan sebagian kaum terpelajar. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi kadang terlalu banyak pertimbangan. Di dalam kepala mereka ada teori, risiko, variabel, serta segala kemungkinan kegagalan. Semua itu penting. Namun, pada suatu titik, seseorang tetap harus berani berkata, kita jalankan. Saya tidak lebih pintar daripada mereka. Saya hanya bersedia memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil dari kecerdasan mereka. Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang sarjana dan siapa yang bukan. Pemimpin yang baik bukanlah orang yang merasa harus mengetahui segala-galanya. Pemimpin yang baik adalah orang yang tahu diri: menyadari keterbatasannya, memilih orang-orang yang berkualitas dan berkompetensi tinggi, mendengarkan mereka dengan rendah hati, lalu mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan menanggung seluruh akibatnya. Moga Pak W02 paham saat reshuffle cabinet, nanti. Gimanapun kita perlu orang terpelajar dan benar benar genuine lulusan universitas terbaik di negeri ini. Track record jelas dalam bidang akademis, setidaknya mereka penah menulis buku. Karena anggota kabinet bukan jabatan politk, itu jabatan teknorat yang memang orang pintar pak, engga hanya bisa omong seperti buzzer.