OCCRP
“ Pah, katanya yang bilang Jokowi masuk sebagai pemimpin terkorup di dunia ulah AS. Itu settingan. “ kata Oma tadi usai sholat subuh.
“ Ya mama maksud laporan dari OCCRP yang lagi viral itu? Kata saya ingin menegaskan pertanyaan oma.
“ Ya pah.”
“ OCCRP itu menentukan siapa yang terkorup ada metodeloginya. Pertama, mereka lakukan survey untuk mendapatkan nominasi. Survey bukan kepada public tetapi kepada member mereka sendiri, yang semua adalah jurnalis independent. Nah kedua, setelah dapat nominasi, mereka punya panel hakim untuk menilai. Penilaian itu bukan atas dasar suka atau tidak. Tetapi atas dasar data dan informasi yang mereka dapat dari hasil investigasi jurnalistik.
Nah hasil Analisa team panel, terbukti Jokowi tidak terpilih sebagai pemenang. Yang menang mantan presiden Suriah Bashaar Al Asaad.
“ Oh gitu.”
“ Jadi pahami ya. Nominasi itu atas dasar survey. Ini bisa jadi bias. Ya namanya survey kan dimana mana tidak rasional jawaban responden. Sama saja dengan survey Kompas yang mengatakan tingkat kepuasaan kepada pemerintahan Jokowi diatas 70%. Sama saja dengan survey pemilu. Biasa saja. Tetapi team penilai atas dasar akademis dan data, itu lain hal. Ada pertanggungan jawab secara professional. “ Kata saya.
“ Engga ngerti gua.”
“ Contoh survey tingkat kepuasaan Jokowi 70% up. Ok. Tapi survey itu dianalisa berdasarkan data dan kinerja Jokowi. Oh ternyata indek korupsi sejak era Jokowi tidak berubah. Sama dengan awal dia berkuasa. Bahkan ICOR sangat tinggi dibandingkan era SBY dan Pak Harto. Artinya dia tidak bekerja memperbaiki index korupsi. Itu sama saja pembiaran. Terus berdasarkan data kita mengalami deindustrialisasi. Survey itu dianggap tidak layak untuk menilai kinerja Jokowi yang memuaskan.” Kata saya.
“ Tapi di indonesia, kan survey itu jadi pembenaran. Engga boleh dianalisa secara akademis. Paham ” Lanjut saya.
“ Paham gua” Kata oma “ Terus katanya OCCRP itu dibiayai oleh AS. Katanya AS engga suka dengan Jokowi. Benar?
“ Ah kalau AS membiayai tidak berarti AS dibalik OCCRP. Contoh USAID itu bagian dari NED. Banyak tokoh Indonesia yang dapat berasiswa dari NED. Misal Srimulyani, bahkan pernah kerja sebagai advisory di USAID. Kan jadi Menteri keuangan dan dipercaya oleh SBY, Jokowi dan Prabowo. Amin Rais juga dapat beasiswa dari NED. Jadi ketua MPR. Masih banyak lainnya. Lah, Papa juga pernah dapat beasiswa dari NED ikut short program di Erasmus,Belanda. Biasa saja” kata saya.
“ Tapi orang orang pada ribut katanya survey itu merusak reputasi Indonesia.”
“ Reputasi dihadapan rakyat dan international berbeda. Di mata rakyat reputasi pemerintah bisa lewat Bansos. Tapi dimata international; reputasi itu diukur dari tingkat suku bunga. Kalau suku Bunga SBN tinggi, itu tandanya reptutasi kita rendah. Dan sejak era Jokowi memang suku bunga tinggi kok. “Kata saya.
“ Oh gitu.”
“ Jadi laporan OCCRP itu biasa saja. Engga usah ditanggapi serius amat. Itu kerjaan team KPK, Kejaksaan dan Polri itu agar jadikan laporan OCCRP itu sebagai awal untuk berbenah diri untuk perbaiki index korupsi. Agar ke depan kita jadi lebih baik. Soal Jokowi pribadi, kan dia sendiri tidak mempermasalahkan. Dia santai aja. Kalau memamg dia korupsi ya buktikan saja. Dan lagi dia sudah end up“ Kata saya. Aneh aja bini gua, emak emak ngerti yang ginian.