Literasi
Saya diajak teman mendampinginya ke kantor Investment manager untuk meeting dengan investor. Teman ini punya konsesi pasir kuarsa. Saat sampai, dua tamu sudah ada di ruang meeting. Investment banker kenalkan dua orang itu wakil dari investor. Satu etnis China, wanita. Dana satu lagi pria, india. Mereka berdua menyerahkan kartu namanya.
Dalam presentasi yang disampaikan oleh investment manager, pihak investor keliatannya focus kepada sumber daya. Walau laporan sangat tebal terhadap data sumber daya namun mereka dengan cepat menyimpulkan. “ Kami tidak berminat menambang pasir kuarsa di darat kecuali berasal dari endapan yang ada di hulu sungai dekat laut. “ Kata salah satu wakil investor yang pria.
“ Mengapa ? tanya investment manager.
“ Karena pasir yang berasal dari endapan di hulu sungai berasal dari palung laut. Itu proses alam yang tak akan pernah habis dan tidak merusak lingkungan. Tetapi kalau berasal dari endapan delta yang ada di darat, itu beresiko terhadap lingkungan dan tidak sustain.” jawab wakil dari investor yang pria.
“ Emang jumlah pasir kuarsa yang dibutuhkan besar sekali” tanya Investment manager.
“ Tentu besar. Karena pasir itu sebagai bahan baku untuk membuat silicon. Kami akan produksi ingot polisilikon dan kemudian dikapalkan ke China dan Korea ke pusat industri panel Surya kami. “ Kata wanita wakil dari nvestor itu.
Saya lirik kartu namanya. Oh ternyata dia dari SIDC highTech Shanghai. Dia tidak tahu kalau dia sedang berhadapan dengan pendiri SIDC.
Teman saya tanya. “ Apa itu polysilicon?
“ Itu bahan bahan dasar untuk membuat FV dan campuran material circuit elektronik” Kata investor itu
“ Ngolahnya seperti buat kaca ? tanya teman saya.
“ Engga sesederhana itu. Karena pasir kuarsa diolah melalui Siemens atau proses pemurnian kimia. Proses ini melibatkan distilasi senyawa silikon yang mudah menguap, dan penguraiannya menjadi silikon pada suhu tinggi. Itu menggunakan fluidized bed reactor. Teknologinya mahal” Kata wanita dari waki investor itu.
“ Di Indonesia sudah ada pabrik itu ? tanya teman saya kepada investement manager.
“ Belum ada. “ Kata investment Manager. “ Yang ada buat panel surya tetapi bahan polisilikon ingot didapat dari impor. “
“ Kami punya Pabrik polisilicon di China dan juga Korea. Pasir kuarsa dari Afrika“ Kata wakil investor yang etnis India.
Usai meeting..” Udah lebih 50 tahun kita merdeka. Begitu banyak insinyur. Konglomerat kita termasuk terkaya di dunia. Udah pula jadi anggota G20. Buat pabrik pengolahan pasir kuarsa jadi polisilikon aja engga bisa. “ Teman saya nyeletuk seraya geleng geleng kepala. Dua orang tamu itu tidak tahu siapa saya. Mereka memang tidak kenal. Karena tidak pernah jumpa. Dan lagi SIDC menganut desentralisasi sub holding. Mereka hanya tahu boss di Sub Holding.
Dalam pelatihan Management SIDC, hal yang paling ditekankan adalah kemampuan literasi. Proses selama pelatihan itu bisa mengetahui apakah perserta punya kemampuan sekedar membaca atau kemampuan literasi. Contoh, mereka diberi buku dan setelah itu mereka diminta membuat essay atas buku yang dibaca itu. Yang punya minat baca, tetapi kurang literasi, diajarkan cara berliterasi. Setidaknya menggugah mereka untuk membaca atas dasar kebutuhan. Focus kepada esensi.
Setelah mereka lulus pelatihan dan mendapatkan posisi di lini menejemen, setiap hari mereka akan dapatkan informasi terbaru, baik dalam bentuk news maupun jurnal ilmiah. SIDC bekerja sama dengan news provider berkelas dunia seperti Reuter, Bloombergs. Juga kerjasama dengan berbagai kampus international yang rutin mengirim laporan ilmiah terhadap berbagai issue.
Karena mereka punya kemampuan iiterasi, informasi yang masuk itu sangat efektif mereka baca. Tidak perlu buang waktu membacanya. Nah dengan SDM seperti inilah SIDC berkembang melewati perubahan dan berkompetisi. Ya tanpa sains kita berjalan di ruang gelap..