npl

Arsip Terupdate
“Uda…” seru Yuni saat saya di apartemennya. “ Kenapa ya, teman Yuni—dia juga CFO—ngeluh terus. Bosnya marah-marah. Value saham perusahaannya tinggi di bursa, tapi leverage-nya rendah sekali. Padahal dulu, tahun 2007, saham masih bisa jadi alat leverage.” Saya tersenyum kecil. “Kamu baca saja Basel III,” jawab saya tenang. Yuni mengangguk “ Ya Yuni baca semua.” “ Coba Jelaskan. Saya mau dengar pemahaman kamu” Yuni menarik napas sebentar. “Secara aturan, saham memang eligible sebagai financial collateral. Tapi nilainya tidak pernah dihitung penuh.” “ Maksudnya?” Tanya saya. “ itu bisa dibaca pada BIS, Basel III Framework; BIS, Supervisory Haircuts, 2011; updated practices. Dalam kerangka Credit Risk Mitigation Basel,” Jelas Yuni, “ nilai saham publik dikenai haircut besar. Umumnya sekitar 30%, bahkan untuk industri volatile seperti tambang, komoditas, energi, bisa turun sampai 10% saja. Itu bukan kebijakan bank lokal. Itu standar global.” sambungnya. Yuni menarik napas. “ Pantesan banyak korporasi mendadak dari status kredit sehat jadi NPL.” Saya mengangguk. “Karena secara akuntansi pasar mereka terlihat sehat,” kata saya “ tapi di mata bank, yang tunduk pada risk-weighted assets—buffer-nya tidak cukup. Kalau mau tetap pakai saham sebagai penyangga kredit, harus top-up collateral. Kalau tidak, bank harus tambah modal atau menaikkan CAR. Dan itu mahal.” “ Ya itu sesuai dengan kuridor BIS, terkait dengan Capital Adequacy & RWA Treatment. “ Kata Yuni menyambung. “Berat banget bisnis sekarang,” gumam Yuni. “ Apalagi syarat saham jadi collateral makin ketat. Harus diperdagangkan aktif di bursa resmi.” Yuni tersenyum pahit. “Masalahnya, di Indonesia kan yang aktif sering cuma grup emitennya sendiri. Likuiditas kelihatan tinggi, tapi uangnya pindah dari kantong kiri ke kanan. Free float tipis. Harga saham jadi nggak transparan.” Saya hanya tersenyum. “Makanya,” lanjut Yuni, “ banyak yang coba tarik dana dari Lembaga Keuangan Non-Bank. Ngincer uang Dana Pensiun. Itu cara cepat buat exit dari tekanan NPL.” “Tapi di luar negeri, itu cepat sekali di-flag otoritas. Dana pensiun dibatasi. Alokasi ke satu saham tertentu biasanya nggak boleh lebih dari 1–2%. Kalau lebih, dianggap konsentrasi risiko.” Kata saya. “ Ya benar Itu kuridor OECD, Pension Fund Investment Regulation; FSB, NBFI Risk Concentration. “ Kata Yuni menambahkan. Hebat literasinya. Pantas dia hebat sebagai CFO Yuan. Saya tetap diam, membiarkan ia menyusun sendiri kesimpulannya. “Tahun lalu,” kata Yuni pelan, “ Dalam laporan IMF, Global Financial Stability Report; IMF, Asia Surveillance, menyebut bahwa Indonesia punya banyak korporasi zombie. Secara kredit sudah mati di mata bank, tapi di depan bursa masih dibuat hidup. Seperti boneka di atas panggung—geraknya pakai tali.” Saya tersenyum tipis. “Ya,” jawab saya akhirnya, “ Itu karena perusahaan yang bertahan bukan karena produktivitas, tapi karena akses refinancing dan valuasi pasar” Yuni terdiam sambil menatap saya lama. Sampai saya salah tingkah. Kenapa nih perempuan? “ Uda …seru Yuni “ tahun 2025 ini Yuan selesai pengambil alihan saham EV lewat Pasar negosiasi. Tidak restrictions. Semua lancar. “ kata Yuni. Saya diam aja “ Namun sukses menguasai saham unit bisnis orang terkaya di dunia, itu terkesan too good to be true. Apalagi bisnis EV kan terkait geopolitik “ lanjut Yuni. “ Ah bukan too good to be true. Itu karena memang team Yuan yang kamu pimpin hebat “ jawab saya seraya kibaskan tangan. “ jawab jujur. Apa uda terlibat di balik layar ? “ Saya di jakarta Yun. Gimana bisa terlibat ? “ Ya benar uda di Jakarta tapi uda punya team shadow yang mobile kemana mana “ Saya diam aja. Saya masuk kamarnya “ saya mau sholat “ kata saya. Yuni segera ambil sajadah di lemarinya. Saya masuk kamar mandi, dia juga ngikuti. Oh ternyata dia ambil handuk putih di lemari yang ada di kamar mandi. Usai sholat Awi datang. “ Ale, walau usia Yuni 52 tapi seperti usia 40. Awet muda dia” kata Awi. Saya senyum aja. “ Janda kaya dan punya kekuasaan lagi sebagai CFO holding MNC. Ya awet muda lah “ lanjut Awi.