risk_reward_balance hf

Arsip Terupdate
Saya bertemu dengan nitizen di café di hotel kawasdn Lapangan banteng Jakarta. Dia lebih dulu tegur saya. “ Babo ya.? Sapanya. Saya mengangguk. Kebetulan saya sedang nunggu teman datang. “ Boleh duduk babo? “ Tentu, silahkan.” “ Saya sedang sama teman kantor. Dari jauh saya lihat babo masuk café. Ragu juga mau tegur. Tetapi karena babo duduk sendirian. Ya saya beranikan tegur. “ Katanya. “ ternyata tebakan saya benar.” Dia tersenyum. “ Ya saya lagi tunggu teman.” Kata saya. “ Mau tanya babo, “ katanya.” Prinsip hedge fund itu dalam berinvestasi apa yang pertama dihitung? “ Resiko. “ jawab saya cepat. “ Bukan return? ” Saya menggeleng. “ Return itu kelas retail. Yang membeli product jadi dan follow market “ Kata saya. Dia mengangguk. “ Apa saja resiko yang jadi patokan.” Tanyanya lagi. “ Ya, resiko likuiditas, resiko leverage, Risiko Counterparty, Resiko sistemik, resiko kebijakan, resiko market psikologi.” “ Itu ada teori cara ngitung dan analisanya? “ Ada. “ “ Apa bukunya ? “ Wah kamu harus struggle sendiri. Cari bukunya sendiri. “ Kata saya tersenyum. Dia balas senyum. Cantik juga nih anggota DDB. Dia belum beranjak. Matanya masih menyimpan rasa ingin tahu. “Terus… setelah tahu risikonya, apa selanjutnya?” tanyanya. Saya tersenyum kecil. Pertanyaan itu seperti pintu masuk ke level berikutnya. Saya tarik napas sejenak, lalu menjawab pelan. “Baru kita bicara angka.” Dia langsung fokus. “Setelah risiko terpetakan, kita tentukan, berapa yield yang layak kita terima. Misal, obligasi itu bukan soal kupon. Tapi soal kompensasi terhadap risiko. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi yield yang kita minta. Kalau tidak dibayar sesuai risikonya… kita tidak masuk.” Dia mengangguk, semakin dalam. “Lalu size?” tanyanya. “Ya,” saya jawab. “Bukan cuma benar atau salah. Tapi berapa besar kita berani taruh.” Saya menatap dia. “Kalau risiko tinggi, size kecil. Kalau risiko rendah dan kita punya edge, size bisa diperbesar.” Saya ambil jeda, lalu melanjutkan. “Hal yang sama berlaku untuk semua instrument, komoditas, saham, bahkan mata uang. Semua kembali ke satu hal, risk–reward balance.” Dia mulai terlihat paham. Tapi saya tahu, ada satu layer lagi. Saya condongkan badan sedikit. “Dan di level yang lebih advanced…” Dia langsung diam. “Kita tidak hanya membeli aset. Kita bisa menciptakan produk.”Kata saya. “Seperti apa?” tanyanya pelan. “Synthetic product.” Saya lanjut dengan tenang. “Misalnya credit linked note, atau struktur lain yang menggabungkan obligasi, derivatif, dan proteksi risiko.” Dia mengernyit. Saya jelaskan lebih sederhana “Kita tidak lagi ikut market. Kita desain sendiri payoff-nya.” Saya tersenyum tipis. “Kalau retail beli produk. Institutional player… bikin produknya.” Dia terdiam cukup lama. Di wajahnya terlihat satu hal. pemahaman baru. “Jadi…” katanya perlahan, “investasi itu bukan soal cari peluang?” Saya geleng pelan. “Investasi itu soal memilih risiko mana yang mau kamu ambil… dan berapa kamu mau dibayar untuk itu.” Teman saya sudah datang. “ terimakasih babo. Sehat selalu” katanya undur diri.