Ekonomi Ilusi

Arsip Terupdate
Katakanlah, anda punya deposito rupiah. Kemudian menkeu sarankan kepada Bank BUMN agar naikan bunga deposito USD. Apa yang terjadi? Pasti Anda pindahkan deposito rupiah it uke deposito USD. Apalagi bunga deposito valas lebih tinggi dari Rupiah. Nah setelah itu dana valas, terperangkap ke dalam negeri. Menkeu bangga. Dia berhasil tahan valas dalam negeri. Namun ada yang dia lupa? Benar uang terperangkap di dalam negeri. Tapi dalam system ekonomi terbuka. Perpindahan capital tidak harus cross border. Pindahnya tabungan dari Rupiah ke USD itu sudah capital outflow. Makanya akibat kebijakan itu kurs rupiah melemah. Yang berdampak juga ke IHSG. Sehingga menjadi persepsi buruk. Melihat situasi ini dan agar tidak makin banyak orang Indonesia pindahkan tabungannya ke USD, BI buat aturan pembatasan pembelian USD limit 25,000 tanpa underlying. Tapi pemilk uang banyak akalnya. Mereka bisa lakukan cross settlement dengan rekening mereka di luar negeri. Tetap aja capital outflow. Rupiah makin melemah. Karena itu BI tagih kepada Menteri keuangan untuk stabilkan fiscal agar pelemahan kurs bisa ditahan dan diantisipasi. Namun Menteri keuangan ngeyel terus. Tetap loyal kepada presiden untuk membiayai MBG dan KDMP. Akhirnya agar kurs rupiah tidak terjun bebas, BI naikan suku bunga acuan BI-Rate. Dua kali dinaikan. Baru akhirnya exciting bagi pemilik dana. Mereka pindahkan tabungan valas ke Rupiah. Tentu Rupiah sedikit menguat. Namun dampaknya ke sector real sangat buruk. Korporat bisa saja menahan ekspansi saat bunga kredit tinggi. Tapi rakyat yang punya utang KPR dan Leasing, sesak napas. Apalagi terancam PHK karena dunia usaha rem ekspansi. Apalagi dalam waktu bersamaan pemerintah lepas harga Pertamax ke pasar. Daya beli kelas menengah drop. Ini beresiko lebih buruk daripada kurs rupiah melemah. Nah kalau anda investor bursa (pasar uang dan Modal), harus pahami bahwa penguatan kurs rupiah sekarang bukan karena adanya tambahan valas dari Ekspor. Tetapi karena insentif BI kepada orang kaya agar memotivasi mereka pindahkan tabungan valasnya ke rupiah. Dan pada waktu bersamaan bank membeli SRBI yang bunganya lebih tinggi dari tabungan. Bank dapatkan spread interest namun ekonomi ril stuck. Kita masuk ilusi ekonomi, bukan real…Yang pasti cuan ya orang kaya. Kelas menengah jadi blangsat dan yang miskin semakin semaput.