“ Apa yang dimaksud dengan social engineering? Tanya Amel. Dia punya holding investment di Singapore yang mengelola portofolio tambang di Indonesia. Kami berteman sudah lebih 30 tahun. Usia saya dan dia bertaut hanya 10 tahun. Dia sudah seperti adik saya.
“ Secara akademis, social engineering dalam kebijakan publik merujuk pada upaya yang terencana dan sistematis oleh negara atau institusi untuk membentuk, mengarahkan, atau mengubah perilaku sosial masyarakat agar selaras dengan agenda nasional” Jawab saya.
Dia menyimak.
“ Dalam literatur, konsep ini menggunakan pendekatan norm shaping. Mengubah apa yang dianggap “wajar” atau “baik” dalam masyarakat. “
“ Caranya gimana ?
“ Ya, mengubahnya lewat lewat edukasi, kampanye publik, atau kurikulum. Bisa juga lewat Incentives & disincentives. Negara menggunakan kebijakan fiskal, subsidi, atau regulasi untuk mendorong perilaku tertentu dan menekan perilaku lain. Membangun sistem, aturan, dan struktur yang secara tidak langsung “memaksa” perilaku masyarakat berubah melalui mekanisme formal. “ Lanjut saya.
“ Contoh konkrit nya apa?
“ Contoh Iran, sebelum revolusi Islam iran, tradisi hidup modern disimbolkan oleh istana yang megah dan militer yang kuat berkat dukungan Barat. Nah setelah revolusi Islam Iran, itu diubah menjadi masyarakat egaliter yang bertumpu kepada sains dan kemandirian. Kalau selama hampir 5 dekade iran bertahan dari embargo barat, itu berkat suksesnya social engineering. Tanpa itu, udah lama rezim itu jatuh. “
“ Indonesia punya konsep social engineering itu? Tanya Amel.
“ Punya lah. “ Jawab saya “ Kita punya Pancasila. Itu social engineering yang paling hebat dan holistic. Karena mengubah masyarakat Indonesia yang tradisional menjadi masyarakat dunia yang ber Tuhan dan berakhlak. “
“ Tapi mengapa..jusru menempatkan negara kita masuk kelompok negara terkorup di dunia…” Kalimat Amel menggantung diudara. Saya paham.
“ Karena kita meninggalkan nilai lama tanpa lewat perubahan yang bermartabat diatas prinsip. Padahal kita sudah punya Pancasila. Artinya, kita masuk dalam trap social engineering negara maju lewat hutang dan investasi. “ Jawab saya dengan tersenyum.
Amel tersenyum. “ Sejak tahun 2013, Holding saya menjadi bagian dari ekosistem Yuan, lambat laun terjadi proses social engineering terhadap budaya perusahaan. Akibatnya sekarang ditengah tekanan global akibat konflik regional, holding saya tetap sustain. Diversifikasi sumber daya terjadi alamiah sebagai bagian dari perubahan prilaku eksekutif dan pemegang saham “ katanya.
Saya senyum aja.
“ Dengan keteladanan hidup kamu, itu jadi behavioral approach yang efektif terhadap lingkungan Yuan. Behavioral economics, kamu ubah tidak dengan kata kata tetapi dari sikap hidup sederhana, dan focus kepada kinerja yang bermartabat. “ Lanjut Amel.
Saya diam saja.
“ Dan sukses nyata dari social engineering ya diri saya sendiri. Kamu ubah saya dari wanita kampung, yatim piatu menjadi pebisnis kelas dunia. Walau proses nya sangat berat dan kadang menyakitkan hati kalau ingat cara kamu menegur saya.” Kata Amel. Saya rentangkan tangan dan dia menghambur dalam pelukan saya. “ Kamu bertahan karena kamu engga baper. Dan memang ingin berubah. Kamu yang hebat sebenarnya.”