Tahun 2023. Malam itu Manhattan tidak berisik. Ia hanya terlihat hidup, dari kejauhan. Di dalam Knickerbocker Club, semuanya berbeda. Kayu gelap mendominasi ruangan. Dindingnya dilapisi panel mahoni tua, mengkilap seperti sejarah yang tidak pernah ingin dihapus. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke gelas whiskey, menciptakan bayangan yang tenang—terlalu tenang untuk kota seperti New York. Tidak ada suara keras. Hanya percakapan pelan. Dan sesekali bunyi es menyentuh kaca.
Tom sudah duduk lebih dulu. CEO AMG-SIDC itu selalu tahu tempat yang tidak terlihat oleh publik, tapi menentukan arah publik. Felix datang beberapa menit setelah saya. Tidak tergesa. Tidak perlu. Dia duduk, menyilangkan kaki, dan pelayan langsung meletakkan cigar box di hadapannya—tanpa perlu dipesan. Felix mengambil satu, memotong ujungnya perlahan, lalu menyalakan dengan gerakan yang terlalu presisi untuk disebut kebiasaan biasa.
Asap pertama naik pelan ke udara.
“Agenda Amerika itu agenda korporat…” katanya datar.
Saya tidak menjawab. Hanya memperhatikan. Di ruangan seperti ini, orang tidak bicara untuk didengar. Mereka bicara untuk mengukur reaksi.
“Ini negara kapitalis. Pemenang perang dunia kedua… jadi alat leverage bagi korpora menguasai sumber daya.”
Dia berhenti sebentar. Menatap saya. Asapnya menyebar… seperti pesan yang sengaja tidak langsung.
“Dan politisi hanya menterjemahkan ambisi itu lewat ratusan pangkalan militer di tiga benua.” Lanjutnya.
Saya tersenyum tipis.
Felix melanjutkan. “Dimanapun kawasan yang kaya SDA… akan selalu di bawah pengawasan militer AS. Tidak ada kolaborasi.”
Ia mengangkat gelasnya sedikit. “Surrender… or die.”
Nada suaranya tidak naik. Justru itu yang membuatnya lebih tajam. Dia menghembuskan asap ke arah langit-langit.
“Negara Arab…” lanjutnya, “menjual minyak, dapat USD… lalu USD itu mereka parkir di US Treasury.”
Dia mencondongkan badan sedikit ke depan.
“Mereka pikir itu kekayaan. Padahal hanya janji.”
Tom diam. Dia tahu ini bukan diskusi. Ini framing.
“Dan kalau mereka butuh uang…” Felix mengetuk meja pelan dengan jarinya. “Mereka pakai US Treasury itu sebagai collateral… untuk pinjam ke bank kami.”
Dia tersenyum kecil. “Itulah petrodollar.”
Saya tetap diam. Felix menatap saya lebih tajam sekarang.
“Kami punya mitra. Eropa, Jepang, Korea, Taiwan.” Katanya. “Mereka tidak punya migas… tapi punya SDM.” Katanya terkesan mencibir. Dia mengangkat bahu. “Mereka kerja keras… dapat USD… lalu USD itu kembali ke kami. “
Ia berhenti. Sengaja.
“ Ya,mereka menabung… tapi tetap hanya pegang janji dari kami”
Saya mengangguk ringan.
Felix memperbaiki posisi duduknya. Kali ini tidak lagi bersandar.
“China…” katanya pelan. “itu masalah.”
Ruangan terasa lebih dingin.
“Mereka tidak punya pangkalan militer… tapi mereka kuasai logistic di tiga benua. Punya galangan kapal terbesar dunia. Punya satelit tracing logistic tercanggih, dan punya jalur kereta lintas benua.”
Dia mengetuk meja lagi.
“Supply chain… hub… financing ecosystem. Itu senjata china lebih menakutkan daripada nuklir. “ kata Felix
Dia menatap saya lurus. “Sekarang 40% USD sudah mulai terdiversifikasi. Kalau tembus 50%…” lanjutnya. Dia berhenti sejenak. “Kami bisa habis.”
Hening.
Felix akhirnya sampai ke tujuan sebenarnya.
“B, Beri saya akses……untuk masuk ke saham Yuan di konsorsium Panama.”
Itu bukan permintaan. Itu proposal yang dibungkus tekanan.
“Kamu punya bisnis di Caracas… dan São Paulo. “Katanya menyipit. Itu cara dia menekan.” Dan saya bisa minta presiden Panama batalkan konsesi pengelola Pelabuhan Panama. “
Saya tersenyum.
“Yuan Holding, perusahaan kami terdaftar di London. Tidak ada kaitannya dengan China. Dan Yuan hanya management port aja” kata saya.
“Ah, B…” Felix melambaikan tangan. “Semua orang tahu kamu kerja untuk China.”
“Itu hanya bisnis.” jawab saya cepat.
“So…” kejar Felix.
Ruangan menjadi sunyi. Bahkan suara es di gelas pun terasa terlalu keras. Felix menatap saya. Menunggu.
“Mau tahu jawab saya?” kata saya.
Dia mengangguk.
Saya berdiri perlahan. Merapikan jas.
“No way.” Jawab saya dan segera berdiri merapikan jas. Engga perlu tahu reaksinya. “ Terimakasih untuk pertemuan ini.” Saya berjalan keluar. Saya tahu, sikap saya itu pertanda perang dimulai. Saya segera aktifkan team shadow untuk bergerak ke medan tempur.
Tahun 2024, kepemilikan Yuan di CK-H dijual ke SPV Ale Capital yang terdaftar di Delaware, AS. Kemudian, Ale Capital bergabung dalam konsorsium GIP dan TIL dalam akuisisi itu CK-H. Ini hostile.
Walau akhirnya Felix berhasil memaksa presiden Panama mencabut konsesi hub logistic agar konsorsium baru bisa bebas bergerak, namun itu useless. Struktur konsorsium baru tetap memberi ruang bagi arus logistik China. BR mungkin headline-nya. Tapi operator riil tetap butuh netralitas. MSC melalui TIL tidak akan bermain politik. Dan lagi ada Ale Capital di dalam, kan sama aja Yuan tetap ada sebagai bagian dari konsorsium. AS mendapat muka sebagai pemenang, namun control tetap ada pada China. Perang tidak perlu headline siapa pemenang.
Hikmah.
Hidup ini sering kali memperlihatkan dua jalan berpikir. Cerdas dan Dungunk. Cerdas, mereka yang memahami hakikat tujuan. Mereka tidak sibuk memenangkan setiap pertempuran, tetapi mampu menjadikan konflik sebagai alat leverage , mengelola risiko, dan tetap mencapai tujuan tanpa harus berisik di medan perang.
Dunguk, mereka yang terjebak pada ilusi. Mengira bahwa dengan berkompromi kepada lawan, semuanya akan berubah menjadi baik. Mereka berharap pada kebaikan hati lawan, tanpa menyadari bahwa dalam realitas, setiap kepentingan punya motive hegemoni.