Amerika itu memang perkasa.
Di Amerika di beberapa kota akan sering terlihat homeless alias gembel. Padahal AS dikenal sebagai negara kaya nomor 1 di dunia. Lantas kemana uang mereka itu ? Mengapa tidak dikeluarkan BLT besar besaran dan bangun rumah murah sebanyak banyaknya agar orang tidak jadi tunawisma. Itulah kehebatan dan perkasanya AS dalam mengawal sistem ekonomi terbuka. Menjunjung tinggi transfaransi dan akuntabiltas. Walau mereka penguasa dolllar tapi mereka tidak terpancing banjiri uang lewat subsidi. Mari kita lihat gambaran sederahan cara mereka otak atik ekonominya.
Saat krisis Wallstreet tahun 2008, AS keluarkan kebijakan QE ( Quantitative easing). Menteri keuangan terbitkan surat utang dan yang beli adalah the Fed. Tapi uang itu tidak dipakai AS untuk subsidi atau BLT. Uang itu oleh Fed disalurkan ke Bank dengan bunga murah. Atau mendekati 0%. Nah oleh perbankan, uang itu disalurkan ke pasar uang. Yang menikmati uang itu bukan hanya korporat AS tetapi korporate negara lain termasuk pemerintah AS sendiri dan negara lain. Rameh dah pinjam uang ke AS.
Uang dengan total besar itu membanjiiri likuiditas. Tentu efek risk management, likuiditas itu mengalir ke produk pasar uang dan modal, ini tentu membuat harga aset naik, mulai dari saham, obligasi, kontrak komoditas hingga cryptocurrency beterbangan. Kalau harga naik berarti yield turun. Dengan penurunan yield diharapkan biaya meminjam (borrowing cost) bisa turun dan appetite orang untuk pinjam uang guna ekspansi usaha atau konsumsi meningkat yang berujung pada mendorong ekonomi untuk muter lagi. Tapi dampak sampingannya adalah inflasi meningkat. Maklum duit cetak, bukan uang dari preses produksi dan jasa.
Itu berlangsung sampai dengan 2022. Nah, agar inflasi tidak bergerak liar, maka uang beradar harus dikurangi. Inilah yang disebut sebagai tapering. Artinya bank sentral tak akan membeli obligasi atau aset lain dengan jumlah yang jumbo terus menerus. Besarannya dikurangi. Dampaknya peningkatan likuiditas tak akan tinggi. Tapi bukan itu saja, AS juga mengkerek suku bunga. Akibatnya benar benar likuiditas tersedot ke AS dan terjadi kekeringan likuiditas dimana mana, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Apa kesimpulannya?. Krisis ekonomi AS itu sebenarnya yang ongkosi recovery adalah negara lain dan korporat. Hitungannya sederahana. Bank dapat duit dari the fed dengan bunga 0%. Dia jual ke negara lain atau korporat dengan bunga 2-5%. Itu spread yang engga kecil dan itu cara mudah bank bisa recovery akibat krisis perbankan tahun 2008. Dan ketka krisis global melanda, kelebihan uang di pasar , AS sedot lewat kenaikan suku bunga. Itu artinya, AS memberikan income besar kepada market dan sekaligus menyelamakan sistem dari menurunnya pendapatan akibat krisis .
Yang korban ya seperti Indonesai, Amerika Latin, Afrika yang sudah habis habisan menguras SDA nya tapi kena trap utang, yang pada waktu bersamaan memperkaya kreditur bermata uang Dollar AS dan sekaligus memperkuat Index Mata uang dollar. Kurs terus melemah. Apapun kita kalah banyak dan AS menang banyak. Dah gitu aja.