Peluang bisnis
Saya sedang duduk santai di sebuah kafe ketika seorang wanita muda di meja sebelah tersenyum kepada saya. Di depannya, sebuah laptop menyala dengan beberapa desain terbuka di layar.
Saya membalas senyumnya dengan anggukan.
“Bagaimana cara mendapatkan peluang, Pak?” tanyanya tiba-tiba, seolah kami sudah lama saling mengenal. Saya tersenyum seraya pindah duduk di depannya. Dia senang. Petugas café antar minuman saya ke tablenya.
“Peluang itu ada di mana-mana. Bahkan lebih dekat daripada urat lehermu.” Kata saya.
Dia mengernyitkan dahi.
“Artinya, sebenarnya kamu sudah berhadapan dengan peluang. Hanya saja kamu belum tahu bahwa itu peluang,” sambung saya.
“Maksud Bapak?”
“Peluang tidak dicari. Peluang harus dibaca. Bacalah keadaan di sekitarmu. Dari membaca akan timbul pertanyaan. Dari pertanyaan lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, ide-ide kecil mulai berlompatan di dalam pikiranmu. Tangkap salah satunya, lalu kerjakan. Dari situlah kamu bisa menjadi something else.”
Dia terdiam sejenak. “Jadi, peluang itu tidak perlu dikejar, Pak?”
“Orang yang mengejar peluang biasanya datang terlambat. Ketika dia tiba, keramaian sudah terjadi, pesaing sudah banyak, dan keuntungan sudah menipis. Sebaliknya, orang yang mampu membaca peluang akan memahami arah perubahan sebelum perubahan itu menjadi perhatian orang banyak.”
“Bukankah untuk berhasil tetap diperlukan kerja keras?”
“Tentu. Tetapi kerja keras baru berguna apabila membuatmu keras terhadap kelemahan diri sendiri. Akal membantumu melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Kerja keras dan disiplin membuat gagasan itu menjadi kenyataan.”
“Disiplin?”
“Ya. Pahami arti berproses. Jangan membayangkan semua bisa dicapai secara instan. Bahkan pohon yang besar pernah menjadi benih yang nyaris tidak terlihat.”
Dia kemudian memutar laptopnya ke arah saya.
“Profesi saya desainer foto, Pak. Saya membuat karya perpaduan fotografi, desain digital, dan seni lukis.”
Saya memperhatikan beberapa karyanya. Menarik. Ada keberanian warna dan imajinasi di sana.
“Kalau melihat lingkungan di sekitar kafe ini, peluang bisnis apa yang Bapak lihat?” tanyanya.
Saya mengangkat cangkir dan menyeruput kopi perlahan. “Perhatikan kafe ini. Pengunjungnya kelas menengah atas. Bangunannya megah, interiornya mahal, tetapi dindingnya terasa hampa.”
Dia menoleh ke sekeliling ruangan.
“Mengapa kamu tidak menawarkan kepada pengelola kafe untuk memajang karya-karyamu di sini?”
“Tapi mereka belum tentu mau membayar saya.”
“Jangan minta bayaran.”
Dia semakin bingung.
“Kalau tidak dibayar, dari mana uangnya masuk?”
Saya tersenyum. “Bagi pengelola kafe, karya-karyamu membuat ruangan ini terasa lebih artistik. Bagi kamu, kafe ini menjadi galeri yang dikunjungi orang-orang yang punya selera dan kemampuan membeli.”
Saya menunjuk layar laptopnya. “Pada setiap karya yang dipajang, cantumkan nama, nomor telepon, kode QR, dan alamat situsmu. Jangan hanya memajang gambar. Pajanglah pintu masuk menuju dirimu.”
Dia masih menatap saya. “Jadi, karya itu seperti iklan?”
“Bukan. Iklan meminta orang memperhatikan. Karya yang baik membuat orang berhenti dengan sendirinya. Ketika mereka tertarik, mereka akan mencari siapa yang membuatnya. Dari situlah uang masuk: pesanan desain, pembelian karya, dekorasi kantor, hotel, restoran, bahkan proyek pribadi.”
Dia terdiam cukup lama.
“Selama ini saya sibuk mencari orang yang mau membeli karya saya,” katanya pelan.
“Itulah masalahnya. Jangan hanya mencari pembeli. Carilah ruang tempat calon pembelimu berkumpul.”
Tatapannya berubah. Seolah sebuah pintu baru saja terbuka di dalam pikirannya. Dan harus saya akui, dia memang terlihat semakin cantik ketika menatap saya dengan terpesona.
Saya hanya tersenyum, lalu kembali menyeruput kopi dan berdiri. Saya bayar bill termasuk untuk dia dengan Black card.
“ Pak, bisa minta nomor telp nya? Katanya.
Saya jawab dengan tersenyum dan berlalu. Kadang-kadang peluang tidak datang membawa uang. Ia hanya datang sebagai percakapan singkat di sebuah kafe. Makanya ramah lah kepada siapapun. Rajinlah membaca. Kalau anda malas baca buku, kebanyakan nonton Youtube, tentu anda pasti malas baca linkungan anda. Jangan salahkan kalau peluang tidak pernah menghasilkan uang, kecuali cape doang dan frustrasi.